Di Piala Dunia Qatar, Jepang, Australia, Korea Selatan Ibarat Melukis di Atas Batu - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi sepak bola. Gambar oleh Rub\xe9n Calvo dari Pixabay

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 4 Desember 2022 08:33 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Di Piala Dunia Qatar, Jepang, Australia, Korea Selatan Ibarat Melukis di Atas Batu

    Kata lainnya, apa yang dilakukan Jepang, Australia, dan Korea Selatan, sangat berbekas, membekas, membuat kebanggaan karena dapat tampil luar biasa dan meninggalkan kekecewaan lawan yang ditenggelamkan. Mereka berhasil melukis kisah Piala Dunia Qatar bak di atas batu, yang dapat kekal diteladani sepanjang masa. Bukan melukis di atas pasir di pinggir laut.

    Dibaca : 1.537 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Apa yang kita lakukan, hanya akan sia-sia bila tidak meninggalkan jejak atau bekas proses dari apa yang kita lakukan. (Supartono JW.04122022)

    Babak penyisihan grup Piala Dunia 2022 Qatar telah usai pada Jumat, 2 November 2022 hingga Sabtu, 3 Desember 2022 dini hari. Luar biasanya, tim Asia berhasil membuat bekas kelam bagi tim unggulan, sekaligus mencetak sejarah di Piala Dunia dengan mengirimkan tiga wakilnya ke babak 16 besar.

    Mereka adalah Jepang, Australia, dan Korea Selatan. Daya juang yang ditunjukkan sebelum Piala Dunia Qatar membuat mereka dianggap sebagai tim kuda hitam. Arti dari kuda hitam adalah tim.yang pada awalnya tidak terlalu mendapat perhatian namun berhasil memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap inti dari sebuah peristiwa bahkan sampai mengubah hasil atau akibat dari peristiwa tersebut. Tetapi, mereka nyatanya tampil sebagai kuda perang.

    Mengapa Jepang, Australia, dan Korea Selatan mampu mengubah hasil dan membalilkkan semua prediksi di Piala Dunia Qatar, menyingkirkan tim-tim unggulan dan lolos ke fase gugur?

    Catatan saya, mengamati jalannya setiap laga ketiga tim pahlawan Asia tersebut, kuncinya adalah ada pada daya juang, tampil ngotot hingga titik darah penghabisan.

    Daya juang inilah yang wajib menjadi teladan bagi tim-tim Asia lainnya, bahkan wajib pula merasuk pada jiwa-jiwa manusia di seluruh Asia. Termasuk manusia-manusia Indonesia yang selama ini lekat dengan mental dan karakter melempem, sebab tertinggal pendidikan hingga kecerdasan intelegensi dan personalit pun tercecer.

    Sadar bukan menjadi tim unggulan. Sadar akan kekurangan dan kelemahan. Namun, ketiga tim ini meninggalkan jejak, bekas nyata dari hasil persiapan menuju Piala Dunia dengan mendeskripsikan setiap penampilannya dengan kecerdasan integensi dan personality yang luar biasa. Tercermin dengan daya juang dan kengototannya. Tergambar dalam teknik dan speednya. Bahkan, speed atau kecepatan ketiga tim sangat merepotkan dan ujungnya mampu menggilas dan menenggelamkan nama-nama besar tim unggulan.

    Jepang, Australia, dan Korea Selatan adalah contoh bahwa seluruh yang menjadi bagian dalam tim adalah para pribadi yang tahu diri, punya rasa syukur, tahu caranya berterima kasih kepada bangsa dan negaranya, kepada publik sepak bola Asia, sehingga membalasnya dengan penampilan teknik, intelegensi, personality, dan speed (TIPS) secara individu dan kolektivitas tim yang luar biasa. Di atas rata-rata.

    Para pemain nampak jelas, dari penampilannya adalah pribadi-pribadi.yang telah mengikuti proses latihan tim dan individu dengan sangat baik. Ada bekas bahwa mereka pribadi yang sudah makan latihan dan pendidikan. Sudah dibekali ilmu dan taktik, bagaimana caranya melawan hingga mengalahkan lawan-lawan yang lebih diunggulkan.

    Mereka tahu, laga yang mereka mainkan ditonton jutaan publik sepak bola dunia, baik yang hadir di stadion atau yang melalui layar kaca. Karenanya tidak tampil cemerlang. Tidak membuat kesalahan elementar, tidak mempermalukan diri dan tim, membalas hasil kepercayaan pelatih yang sudah memilih masuk dalam tim dengan permainan TIPS spektakuler.

    Yah, Jepang, Austarlia, dan Korea Selatan, telah membuat bekas pada Piala Dunia Qatar 2022, di antaranya, luka dan kesedihan tim-tim unggulan yang dibuat mengemas kopor lebih awal. Membuat bekas catatan sejarah. Memberikan bekas bahwa tim kuda hitam pun mampu menenggelamkan tim unggulan dengan semangat, daya juang, dan kecepatan. Meninggalkan bekas bahwa mereka adalah pemain yang sudah dilatih, dididik, dibina, di arahkan. Ada wujud hasil proses yang dilalui dan diaplikasikan dalam praktik, yaitu laga sebenarnya, Piala Dunia.

    Hei manusia Indonesia, tahu kan arti bekas? Salah satu artinya adalah adalah tanda yang tertinggal atau tersisa. Jadi, 3 tim Asia itu meninggalkan sisa catatan sejarah kelam untuk negara unggulan. Meninggalkan dan menyisakan catatan Indah untuk negaranya dan Asia. Meninggalkan catatan sejarah di Piala Dunia, meninggalkan dan menyisakan apa yang mereka telah terima dalam menjalani proses latihan, teraplikasi dalam penerapan dalam laga dengan wujud atau bukti TIPS yang mumpuni.

    Kata lainnya, apa yang dilakukan Jepang, Australia, dan Korea Selatan, sangat berbekas, membekas, membuat kebanggaan karena dapat tampil luar biasa dan meninggalkan kekecewaan lawan yang ditenggelamkan.

    Mereka berhasil melukis kisah Piala Dunia Qatar bak di atas batu, yang dapat kekal diteladani sepanjang masa. Bukan melukis di atas pasir di pinggir laut.

    Kendati, Australia kini sudah kalah di fase gugur dari Argentina dengan skor tipis 2-1, namun permainan individu dan tim Kanguru ini, tetap layak diacungi jempol. Tetap meninggalkan bekas manis. Sebab, Argentina pun kewalahan meladeni Australia.

    Cermin

    Wahai manusia Indonesia, apa yang dapat diteladani dari tampilan 3 negara Asia yang membuat bekas luar biasa bagi di Piala Dunia Qatar bagi Parlemen dan Pemerintahan Indonesia. Bagi PSSI? Bagi Timnas Piala Dunia U-20? Bagi Panitia Piala Dunia U-20 Indonesia? Bagi Klub-Klub Liga 1, 2, dan 3? Bagi sepak bola akar rumput? Bagi setiap individu rakyat Indonesia?

    Mengapa mereka dapat tampil menggila di Piala Dunia? Padahal sama-sama bangsa Asia, seperti Indonesia? Jawabnya, yang membedakan adalah daya juang, pendidkan, TIPS, tahu diri, peduli, tanggungjawab, disiplin, dan tahu malu, sebab mereka senantiasa bercermin, instrospeksi diri, merefleksi diri, dan terus berbenah memperbaiki kelemahan dan kekurangan.

    Cerminan yang paling dapat dilihat adalah, dalam diri setiap pemain, nampak pribadi atau manusia yang sudah makan bangku pendidikan, sudah makan latihan dan pendidikan TIPS sepak bola, sehingga cerdas otak (intelegensi) dan cerdas emosi (personality). Bekal dalam sepak bola pun sangat cerdas teknik dan kecepatan (speed) karena pondasinya cerdas otak dan emosi.

    Cerminan lainnya, para pemain ini tahu rasanya bersyukur dan berterima kasih sudah menjadi bagian dalam tim Jepang, Australia, dan Korea Selatan, maka menghargai yang sudah memberikan kepercayaan, maka membalasnya dengan meninggalkan BEKAS manis dan pahit.

    Apa yang kita lakukan, hanya akan sia-sia bila tidak meninggalkan jejak atau bekas proses dari apa yang kita lakukan.

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.