Membentuk Karakter Positif Anak - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Sebagai orang tua atau calon orang tua yang baik harus tahu bagaimana cara mendidik anak yang baik sesuai presfektif islam

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 13 Januari 2023 10:14 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Membentuk Karakter Positif Anak

    Pola asuh orang tua harus mampu membentuk karakter positif anak. Caranya bisa dengan contoh dan wacana. Ada sebuah peri bahasa dari bahasa Prancis dan Inggris yang bisa dipakai untuk berwacana. Silahkan baca terus.

    Dibaca : 479 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono

    Dalam bahasa Prancis ada sebuah peri bahasa yang sangat terkenal.  Rome ne s'est pas faite en un jour.  Artinya Roma tidak dibangun dalam sehari.  Dalam bahasa Inggris ada sebuah peri bahasa yang artinya sama.  Rome wasn’t built in a day.  Apa maksudnya?  Adakah kaitannya dengan parenting?  Marikita ulas.

     

    Kita ketahui bersama bahwa Romawi adalah sebuah kekaisaran yang sangat maju dan sangat kuat di masa lalu.  Peradaban Romawi adalah akar dari peradaban Eropa dan seluruh dunia Barat saat ini. Ibu kotanya Roma adalah salah satu kota termegah saat itu. Bahkan sampai saat ini peninggalannya masih bisa kita saksikan. Tidak hanya di kota Roma saja bahkan di banyak negara karena wilayah kekuasaannya meliputi kawasan yang sangat luas di sekitar Laut Tengah (Mediteranean)

     

    Kejayaan kekaisaran Romawi itu tentu dicapai tidak dengan mudah.  Diperlukan perjuangan sangat panjang dan upaya yang sangat keras.   Jadi inti peribahasa itu adalah anjuran agar tidak bermental jalan pintas.  Kita harus membangun karir dengan sabar dan tekun. Karena sukses  membutuhkan tenaga, pikiran dan waktu yang tidak sedikit.

     

    Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia menulis bahwa salah satu kelemahan manusia Indonesia adalah memiliki mentalitas jalan pintas.  Sampai saat ini agaknya pendapat Mochtar Lubis masih ada benarnya. Tentu saja tidak semua orang memiliki sifat itu, tapi banyak sekali orang yang masih melestarikan sifat buruk tersebut.

     

    Dalam bahasa Jawa ada peri bahasa Gelem Nangkané ora gelem puluté. Artinya mau nangkanya tapi tidak mau getahnya.  Peribahasa ini dengan tepat mengambarkan orang yang sifatnya hanya mau enaknya saja tapi tidak mau kerja kerasnya.

     

    Anda yang jadi dosen atau pengajar mungkin pernah diminta tolong seseorang untuk meluluskan anaknya meskipun nilainya rendah.  Anda yang memiliki posisi bagus di tempat kerja pasti sudah sering dimintai tolong kerabat, teman, atau tetangga untuk mencarikan kerja anaknya. Tapi permintaan tolong itu mengandung maksud agar anaknya tetap diterima meskipun tidak memenuhi syarat. Dulu orang suka memakai istilah koneksi. Kalau sekarang ada istilah nepotisme.

     

    Nepotisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya perilaku yang memperlihatkan kesukaan yang berlebihan pada kerabat dekat. Atau kecenderungan untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak saudara sendiri terutama dalam jabatan, pangkat di lingkungan pemerintah. Atau tindakan untuk memilih krabat atau sanak saudara sendiri untuk memegang jabatan pemerintahan. Demkian kutipan dari KBBI. 

     

    Lebih parah lagi kalau tindakan mengutamakan sanak saudara sendiri itu dengan tidak memperhatikan kompetensi. Jadi meskipun kerabatnya tidak memiliki kompetensi untuk suatu jabatan tertentu tetap saja diberi hanya karena kerabat saja pertimbangannya.

     

    Kebiasaan seperti itu sangat lazim di masa lalu di seluruh dunia. Raja mendapatkan jabatannya hanya karena dia anak raja sebelumnya. Demikian juga semua jabatan ke kerajaan. Dasarnya adalah kekerabatan. Maka orang tidak kompeten bisa menduduki jabatan strategis. Akibatnya kerajaan yang semula jaya menjadi surut dan akhirnya jatuh.  Tidak heran sistem pemerintahan monarkhi absolut sudah ditinggalkan di jaman modern ini. Sekarang digantikan dengan merit sistem alias sistem yang mengutamakan kompetensi. Jadi seseorang diberi jabatan karena dia memiliki kompetensi yang sesuai dengan tugasnya.

     

    Semua negara modern saat ini pasti menganut meritokrasi.  Prinsip ini juga sudah dikemukakan dalam Islam. Kalau kita memberikan tugas pada orang yang tidak mampu maka tinggal ditunggu saja kehancurannya. Demikian sabda nabi Muhammad saw.

    Apa kaitannya dengan parenting

     

    Dalam perspektif parenting kita semua wajib mendidik anak keturunan kita agar mereka memiliki karakter kuat  dan memiliki kompetensi tinggi. Tujuannya   agar mereka mampu bersaing dalam dunia kerja. Orang yang berkarakter kuat dan memiliki kompetensi tinggi bakal mampu memberi solusi pada masyarakat. Mereka akan memberi kontribusi besar pada bangsa dan negara.  Maka mereka dibutuhkan dan karena itu dicari.  Hanya saat setelah lulus saja mereka mencari kerja. Setelah berkembang orang seperti itu akan dicari oleh banyak pihak.

     

    Sebaliknya orang yang berkarakter lemah dan tidak memiliki kompetensi hanya akan menjadi beban masyarakat dan negara. 

     

    Didik anak anak denan contoh dan wacana. Kita sendiri jangan kkn. Beritahu anak anak kita dengan peri bahasa di atas bahwa capaian apapun membutuhkan kerja keras, doa, waktu dan pemikiran yang banyak.  Tunjukkan juga kerja keras kita. Tunjukkan akibat buruk kkn di banyak negara.  Dan jangan beri contoh kkn.  Kita harus mengandalkan kompetensi.  Insya Allah anak anak kita akan meneladani sikap mental kita. Mereka akan berkarakter kerja keras dan mandiri. Jika kaum milienal dan gen z Indonesia memiliki karakter positif maka insya Allah Indonesia akan menjadi negara maju dalam waktu singkat.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.