Apa Lagi yang Kau Cari, Hary Tanoesoedibjo?

Sabtu, 1 Juli 2023 10:12 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hari Tanoesoedibjo alias HT adalah sosok sukses di masa muda. Ia moncer sebagai pengusaha dan juga saat menapaki karir politik. Apa kunci keberhasilannya itu?

Judul: Hary Tanoesoedibjo – Apa (Lagi) yang Dicari?

Penulis: M. Aref Rahmat, dkk

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tahun Terbit: 2013

Penerbit: Media Pressindo

Tebal: xiv + 198

ISBN: 979-911-271-0

 

Saya mendapatkan dua buku tentang Hary Tanoesoedibjo (HT) sekaligus. Buku pertama berjudul Hary Tanoesoedibjo – Apa (Lagi) yang Dicari? karya Aref Rahmat, dkk. Buku kedua berjudul Success Secrets of Hary Tanoe. Sudah lama saya ingin mengetahui siapa tokoh muda yang tiba-tiba muncul pasca pageblug ekonomi tahun 1998 itu. Kedua buku ini membantu saya mengetahui serba sedikit sepak terjang anak muda asal Surabaya ini. Setidaknya memberi penjelasan mengapa saat tiba-tiba muncul, bisnis HT erat berhubungan dengan bisnis anak-anak Suharto.

Buku karya Aref Rahmat, dkk ini diawali dengan HT yang galau karena bisnisnya amblas akibat badai ekonomi 1998. Berkat pertolongan Tuhan ia bisa bangkit dari keterpurukan dan malah menjadi berjaya. Di bagian pengantar yang sama, penulis memberi gambaran tentang HT yang kemudian terjun ke dunia politik.

Di bagian pengantar, buku ini memberikan penjelasan tentang masa kecil HT di Surabaya, pendidikannya di Kanada, Liliana Tanaja sang istri, dan awal mula bisnisnya melalui Bhakti Investama. Barulah di bab-bab berikutnya Aref Rahmat membeberkan kisah HT tahap demi tahap.

Setelah di bab 1 diuraikan tentang siapa HT dan keluarganya dengan serba singkat, bab 2 sampai bab 5 membahas bagaimana HT berbisnis. Ada resep sukses HT yang dijelaskan di bab 3 untuk mengawali bagaimana HT berbisnis. Kiat-kita sukses tersebut adalah: 1. Fokus pada tujuan, 2. Terus belajar, 3. Utamakan kualitas, 4. Visioner, jeli melihat peluang, 5. Jangan salah gaul, dan 6. Kekuatan doa.

Berbicara tentang bisnis HT, buku ini membeberkan hal menarik, yaitu tentang bagaimana HT bisa mengambil alih Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) milik Tutut dan Bimantara Citra milik Bambang Triatmojo. Di tahun 2002, HT mulai mengambil alih bisnis Bimantara Citra melalui pembelian saham. Pada tahun 2004, atau 2 tahun setelah masuk ke Bimantara, HT sudah menjadi pemegang saham mayoritas.

Hary Tanoesoedibjo Apa Lagi yang Dicari

Sedangkan TPI diambil alih oleh HT saat teracam pailit. HT sepakat dengan Tutut untuk mengambil alih TPI dengan membayar semua utang Tutut, sementara HT mendapatkan 75% saham TPI. Namun saat TPI sudah mulai sehat, terjadi sengketa antara HT dengan Tutut. Setelah mengambila lih TPI, mulailah HT mengembangkan bisnisnya di bidang multimedia.

Sayang sekali buku ini tidak menjelaskan bagaimana HT bisa memiliki modal yang sangat besar sehingga bisa mengakuisisi banyak perusahaan yang terancam bangkrut, termasuk Bimantara dan TPI. Rumor tentang George Soros sebagai pemasok modal sama sekali tidak dibahas dalam buku ini.

Bagian berikutnya, yaitu bab 6-9 membahas kiprah HT sebagai politisi. Bagian kedua ini adalah bagian inti dari sejarah hidup HT yang diceritakan di dalam buku ini. Itulah sebabnya buku ini diberi sub judul “Apa (Lagi) yang Dicari?” Kiprahnya di dunia politik diawali saat ia bergabung dengan Partai Nasional Demokrat pimpinan Surya Paloh.

Secara normatif HT menjelaskan dalam buku ini bahwa ia masuk dunia politik karena ingin berkontribusi pada perubahan. Ia ingin mendorong reformasi hukum dan politik termasuk memerangi korupsi (hal. 80). Meski sudah memberikan alasan politik, mau tak mau publik tetap mempertanyakan alasan yang sebenarnya. Apalagi ia bergabung dengan partai yang saat itu menjadi oposisi. Apakah ia masuk politik karena kecewa dengan Presiden SBY?

Sebelum HT masuk politik, ia dikenal sangat dekat dengan SBY. Namun saat ia tersandung persoalan hukum, SBY sama sekali dianggap tidak mendukung. Wajar saja jika kemudian para pengamat politik langsung menengarai bahwa HT kecewa dengan SBY, sehingga masuk politik dengan bergabung dengan partai oposisi, yakni Partai Nasdem. Tentu saja HT membantah bahwa ia masuk politik karena kecewa dengan SBY.

Pembahasan tentang HT di perpolitikan nasional tidak hanya pada alasan mengapa memilih Nasdem. Tapi juga perjalanan politik HT selanjutnya sampai akhirnya mendirikan partai sendiri. Bersatunya dua tokoh media nasional dalam satu partai digadang akan menjadi kekuatan politik yang signifikan. Namun ternyata hubungan HT dengan Surya Paloh di Nasdem tidak langgeng. HT memilih mundur dari Nasdem dan bergabung dengan Hanura. Sekali lagi HT keluar dari Hanura dan mendirikan Perindo.

Selain membahas sisi bisnis dan politik HT, buku in juga menyajikan informasi tentang HT di bidang olahraga dan hiburan. Di bidang olahraga, HT pernah mendatangkan Arsenal ke Indonesia, mendapaikan sepakbola Indonesia yang saat itu terpecah menjadi PSSI dan LPI. Sedangkan di dunia hiburan HT pernah menjadi promotor Miss World di Bali tahun 2013.

Sangat menarik untuk mempelajari tokoh muda yang religius dan berhasil di dunia bisnis maupun politik. Semoga ada buku-buku lain yang bisa mengungkap kehidupan tokoh yang fenomenal ini. 763

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua