Memesrai Manusia: Adab Mendekati Tuhan

Kamis, 13 Juli 2023 15:15 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menurut Marcus, manusia hanya akan memperoleh kebebasan ketika dia, dengan penuh kesadaran dan kerelaan, dapat menerima takdir sebagai hukum alam yang tak terelakkan. Orang Jawa menyebutnya narimo ing pandum.

2500 tahun yang lalu, Zeno dari Citium adalah seorang saudagar kaya raya yang bernasib sial. Kapal dagangnya dihantam badai saat berlayar dari Siprus menyeberangi Laut Tengah. Seluruh barang dagangan—juga harta bendanya—karam ditelan lautan. Dia sendiri selamat.

Di bibir pantai pasir putih Athena, Zeno terdampar dan menyadari satu hal. Bahwa kekayaan yang diusahakannya bertahun-tahun dapat dilenyapkan takdir dalam semalam. Jerih payahnya tidak membuahkan hasil selain kesia-siaan. Keterpurukan itu membuatnya mempertanyakan pertanyaan manusia yang paling primordial: Apa tujuan hidup?

Sekian lama terlunta-lunta, akhirnya dia dipertemukan dengan Xenocrates dan menjadi muridnya. Sebelumnya Zeno memang tertarik kepada filsafat lantaran membaca kisah Sokrates yang rela mati demi mempertahankan kebenaran. Kisah itu memang heroik. Sokrates memilih menelan racun cemara meskipun memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari penjara. Karena bagi Sokrates, mustahil orang takut kepada sesuatu yang tidak diketahuinya, termasuk kematian. Yang dia tahu, dirinya tidaklah abadi. Dan disayangkan kalau dalam ketidakabadiannya itu, hidup harus mengorbankan apa yang benar hanya karena takut menghadapi maut.

Setelah mendalami filsafat, Zeno akhirnya berkesimpulan bahwa tujuan hidup adalah untuk bahagia. Dan sumber kebahagiaan itu ada di dalam diri manusia, tidak di luar dirinya. Maka dia tolak semua ajaran filsafat yang rumit-rumit. Bagi Zeno, itu menyusahkan. Menurutnya, semakin panjang orang menerangkan filsafat, semakin bingunglah pendengarnya. Kalimatnya yang terkenal : "Kita ini memiliki dua telinga dan satu mulut, jadi sudah seharusnya kita mendengar lebih banyak daripada bicara!"

Zeno dikenal sebagai pendiri aliran stoikisme yang berasal dari kata stoa yang berarti serambi atau beranda. Ajaran ini dinamakan stoikisme karena ajaran ini diajarkan di depan serambi agora—semacam pasar—di Athena. Henry Manampiring mengalihbahasakan kata stoa menjadi teras. Kata inilah yang dipilih untuk menjadi judul bukunya yang terkenal, Filosofi Teras. Yang paling menonjol dari buku tersebut adalah sebuah pemikiran stoic tentang manusia yang seharusnya tidak mungkin dilukai oleh sesuatu yang tidak mereka hadapi. Yaitu kekhawatiran yang masih berada di masa depan dan kekecewaan yang telah lewat di masa lalu. Karena kita hidup di hari ini, di sini dan pada saat ini.

Kekecewaan muncul kala kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Sedangkan kenyataan tidak dapat ditentukan oleh manusia. Maka cara paling mudah untuk tidak kecewa adalah: jangan berharap. Begitulah bunyi salah satu ajaran Marcus Aurelius, seorang kaisar-filsuf dari bangsa Romawi. Dia merupakan penerus terakhir stoikismenya Zeno sebelum Romawi mengalami masa keruntuhannya. Marcus Aurelius menyandang gelar sebagai salah satu dari Five Good Emperors—lima kaisar baik. Di dunia Barat, masa kepemimpinannya dikenal sebagai Masa Keemasan Kekaisaran Romawi. Marcus Aurelius adalah teori Philosopher King-nya Plato dalam wujud manusia.

Seperti pendahulunya, Marcus meyakini kebahagiaan itu ditentukan oleh diri manusia sendiri. Tidak akan sedih seseorang kalau orang itu tidak mengizinkan dirinya sendiri untuk sedih. Semudah itu cara bahagia. Maka, sebenarnya manusia benar-benar memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri dalam arti harfiah. Namun perlu diingat, sebebas-bebasnya manusia, dia tidak akan bisa terbebas dari takdir. Menurut Marcus, manusia hanya akan memperoleh kebebasan ketika dia, dengan penuh kesadaran dan kerelaan, dapat menerima takdir sebagai hukum alam yang tak terelakkan. Dengan narimo ing pandum.

“Segala sesuatu—kuda, anggur—diciptakan untuk tugas tertentu, lalu untuk tugas apa engkau diciptakan?” Kata Marcus: "Untuk berbuat kebaikan." Tidak seperti Marcus yang harus bertanya-tanya apa sebenarnya tugas manusia, orang Islam mendapatkan jawabannya dengan gampang. Dalam Islam, Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa tugas manusia adalah untuk menjadi Khalifah. Hal ini tidak jauh beda dengan hasil renungan Marcus. Karena keindahan semesta akan bertambah dengan adanya kebaikan-kebaikan. Dengan berbuat baik kita akan Memayu Hayuning Bawana, mempercantik semesta yang sudah cantik. Bawana bukan sekadar buwana, seluruh semesta tidak hanya bumi saja. Menjadi rahmatan lil alamin. Tidak cukup alam-singular, tetapi alamin-plural yang berarti banyak alam. Menjadi rahmat bagi suatu semesta majemuk. Setiap dan seluruhnya.

Dalam hal berteori, Marcus juga seperti Zeno, menolak untuk bertele-tele dan merumit-rumitkan filsafat. “Jangan buang waktu untuk memperdebatkan apa itu orang baik. Jadilah orang baik.”, begitu kata Marcus dalam jurnalnya yang dibukukan dengan judul Meditations

Kebaikan berasal dari logos (roh semesta)—dalam teologi Kristen diartikan sebagai firman Tuhan yang pertama-tama. Saya memaknainya sebagai hukum alam. Maka untuk berbuat baik manusia harus selaras dengan hukum alam. Namun sebelum menyelaraskan diri dengan hukum alam, manusia terlebih dahulu harus selaras dengan dirinya sendiri. Konsep ini mirip dengan konsep harmoninya taoisme di Tiongkok. 

Selain itu, orang juga tak boleh meminta imbalan atas kebaikan yang ia lakukan. Dengan gaya sarkastik, Marcus berkata: “Apa lagi yang kau harapkan saat membantu orang lain? Tidak cukupkah bahwa engkau sudah menjalankan tuntutan alam? Engkau meminta imbalan juga seolah matamu mengharapkan balasan saat melihat, atau kakimu saat berjalan, padahal untuk itulah keduanya diciptakan.” 

Kalimat Marcus ini mengingatkan saya kepada sebuah kitab tasawuf yang berjudul Risalah al-Amin karangan Imam Abu Hasan asy-Syadzili. Kitab itu merupakan buku induk dari tarekat Syadziliyyah. Pelaku tarekat ini adalah orang-orang besar dalam dunia tasawuf seperti Abu Abbas al-Mursi, guru Ibnu Athaillah asy-Sakandari penulis kitab Al-Hikam yang sampai saat ini menjadi salah satu referensi tasawuf paling mainstream.

Kitab itu menjelaskan adab apa saja yang sepantasnya dimiliki seorang hamba ketika mendekati Rabbnya. Di dalamnya ada sebuah kalimat yang—setelah saya ubah sana-sini agar mudah dimengerti—kurang-lebih menyatakan: Tidaklah dapat disebut sopan seorang hamba yang meminta balasan atas amal perbuatannya, atas sholat dan zakatnya. Seolah-olah bukan Rabbnya yang menakdirkan dia untuk beramal, membukakan hidayah sehingga dia shalat dan menurunkan rezeki untuknya sehingga ia mampu berzakat. 

Apakah pantas seorang pengemis meminta upah kepada seorang dermawan yang telah memberikan sekarung dinar kepadanya? Atau seperti anak kecil yang meminta imbalan kepada ibunya lantaran telah berjalan jauh membeli minyak zaitun. Padahal dengan minyak itu pula, kaki si anak kecil yang lelah itu, dipijat lembut oleh tangan sang ibu sepanjang malam ketika dia tertidur.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Bryan Jati Pratama

Penulis Indonesiana | Author of Rakunulis.com

0 Pengikut

img-content

BUMN: Korporasi vs Koperasi

Rabu, 19 Juni 2024 10:52 WIB
img-content

Sangka Baik di Ujung Tanduk

Jumat, 14 Juni 2024 14:44 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua