x

Iklan

Ilham Pasawa

Penulis
Bergabung Sejak: 8 November 2021

Senin, 24 Juli 2023 08:35 WIB

Potret Hari Anak Nasional Dalam Bingkai Bonus Demografi dan Persoalan Moral Anak Bangsa Indonesia: Mewujudkan Indonesia maju melalui Pendidikan Inklusi dan Hak Pendidikan

Pentingnya melihat peringatan hari anak dari sudut pandang dan pendekatan bonus demografi dan isu kemerosotan moral anak bangsa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hari Anak adalah momentum istimewa untuk merayakan kehadiran dan hak-hak anak-anak di seluruh dunia. Perayaan ini juga menjadi panggilan bagi kita semua untuk merenungkan isu-isu penting yang mengiringi masa depan anak-anak kita. Dalam menyikapi peringatan hari anak saya mengaitkannya dengan dua isu yang menonjol di Indonesia, yaitu bonus demografi dan persoalan moral anak bangsa. Dalam tulisan ini, kita akan menyelami peran penting pendidikan inklusi dan hak pendidikan setiap anak untuk mengatasi tantangan ini dan membawa perubahan positif bagi generasi mendatang. Serta apa saja tantangan yang mesti kita hadapi bersama.

I. Bonus Demografi Indonesia: Potensi dan Tantangan

Indonesia saat ini berada dalam periode bonus demografi, di mana penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak daripada penduduk usia non-produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Potensi bonus demografi ini menawarkan peluang besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Namun, untuk meraih bonus demografi seutuhnya, perlu ada investasi dalam pendidikan dan kesehatan anak-anak, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang produktif dan berkualitas. Tetapi pada faktanya, kualitas pendidikan kita masih tergolong lemah dan belum merata. Masih banyak sekolah-sekolah di daerah tertinggal yang belum memiliki fasilitas seperti di kota-kota besar. Hal itu menyebabkan ketimpangan yang cukup dalam antara anak-anak di kota dan desa tertinggal. Belum lagi masih banyak pula oknum-oknum yang bermain di sektor pendidikan untuk kepentingan pribadinya tanpa memikirkan hak-hak anak. Kita masih bisa melihat bagaimana sulitnya masuk ke sekolah-sekolah negeri dengan sistem zonasi dan peraturan administrasi yang cukup rumit, sehingga banyak orangtua yang terpaksa memendam harapan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

II. Kemerosotan Moral Anak Bangsa Indonesia: Tantangan yang Mendesak

Di sisi lain, kita juga menghadapi kemerosotan moral anak bangsa yang menjadi keprihatinan bersama. Lonjakan kekerasan remaja, penyalahgunaan narkoba, terjadinya bullying, pergaulan bebas, dan kurangnya rasa empati menjadi isu-isu serius yang harus diatasi dengan sungguh-sungguh. Kemerosotan moral ini menimbulkan dampak negatif bagi masa depan anak-anak dan keberlangsungan bangsa. Hal ini diperparah dengan adanya pandemi Covid sehingga menyebakan pembatasan sosial. Anak-anak yang memang sejatinya membutuhkan waktu untuk bergaul dan bersosialisasi di sekolah harus dibatasi dan belajar dari rumah selama beberapa tahun. Hal ini tentu berakibat pada kondisi psikologis anak. Emosi dan luapan-luapan rasa yang semestinya ia keluarkan dalam pergaulan antar manusia di sekolah menjadi terpendam bertahun-tahun dan pada akhirnya akan menyebabkan letupan emosi pada suatu ketika. Letupan-letupan emosi itu bisa kita lihat pada maraknya "gangster" dan kelompok anarkis remaja yang kian merebak. Hal bisa jadi karena emosi yang mereka pendam beberapa tahun terakhir.

III. Pendidikan Inklusi: Mengatasi Kemerosotan Moral dan Mewujudkan Kesetaraan

Pendidikan inklusi adalah pendekatan yang memastikan setiap anak, tanpa memandang latar belakang sosial, kemampuan, atau keberadaannya, mendapatkan akses ke pendidikan yang berkualitas. Dalam konteks kemerosotan moral, pendidikan inklusi memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak-anak dan mengajarkan nilai-nilai positif seperti empati, toleransi, dan keadilan. Selain persoalan moral anak bangsa, ada hal lain yang mesti kita perhatikan juga. Sistem pendidikan yang mengadopsi konsep inklusi masih belum begitu banyak dibanding dengan sekolah-sekolah reguler. Padahal anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikam yang layak. Sebab mereka juga termasuk anak yang dijamin hak pendidikannya dalam UUD 1945. Konsep pendidikan inklusi setidaknya memiliki beberapa peran untuk meningkatkan kualitas moral anak bangsa, antara lain :

1. Meningkatkan Empati dan Toleransi

Dalam lingkungan inklusif, anak-anak akan berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang, suku, dan kemampuan. Interaksi semacam ini mendorong mereka untuk lebih memahami dan menghargai perbedaan, sehingga dapat meningkatkan empati dan toleransi.

2. Mengatasi Bullying dan Diskriminasi

Pendidikan inklusi mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menghormati perbedaan dan mengatasi perilaku diskriminatif. Hal ini dapat mengurangi insiden bullying dan meningkatkan rasa inklusivitas di kalangan siswa.

IV. Hak Pendidikan Setiap Anak: Landasan untuk Masa Depan Gemilang

Hak pendidikan adalah hak asasi setiap anak, sebagaimana diakui dalam berbagai konvensi hak asasi manusia yang telah diadopsi oleh Indonesia. Hak pendidikan ini merupakan landasan bagi mewujudkan masa depan gemilang bagi anak-anak Indonesia.

1. Meningkatkan Akses Pendidikan

Melalui hak pendidikan, setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang setara untuk mengakses pendidikan berkualitas, termasuk anak-anak dari daerah terpencil dan keluarga miskin.

2. Menjamin Kualitas Pendidikan

Hak pendidikan juga berarti menjamin pendidikan berkualitas tinggi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi setiap anak. Dengan kualitas pendidikan yang baik, anak-anak akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.

Peringatan Hari Anak adalah kesempatan bagi kita untuk berkomitmen membangun masa depan gemilang bagi anak-anak Indonesia. Melalui pendidikan inklusi dan hak pendidikan setiap anak, kita dapat mengatasi kemerosotan moral dan mengoptimalkan potensi bonus demografi untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, menyemai nilai-nilai moral yang baik, dan memastikan bahwa setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita mereka. Dengan begitu, kita akan mewujudkan generasi masa depan yang berkualitas, beretika, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Ikuti tulisan menarik Ilham Pasawa lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu