x

Sinead O\x27Connor. Wikipedia

Iklan

purwanto setiadi

...wartawan, penggemar musik, dan pengguna sepeda yang telah ke sana kemari tapi belum ke semua tempat.
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 1 Agustus 2023 20:03 WIB

Sinéad dan ‘Spesies’ Musisi yang Langka

Musisi yang sekaligus berperan secara sadar sebagai aktivis tidak banyak jumlahnya. Kepergian Sinéad O’Connor untuk selamanya adalah kehilangan besar bagi kemanusiaan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Musisi seperti Sinéad O’Connor ibarat spesies langka yang menghuni bumi. Penyanyi dan penggubah lagu--kalau boleh disebut demikian--yang mulai dikenal dunia pada akhir 1980-an ini lebih nyaman menyandang sebutan aktivis, sebagai “berandal yang menyanyikan lagu-lagu protes”. Media, menurut dia, telah dengan keliru “mengesankanku sebagai orang gila karena aku tidak berperilaku sebagaimana seharusnya seorang bintang pop”.

Bintang pop, khususnya perempuan, yang dia maksud itu: kau harus menjadi pribadi yang bertingkah laku baik.

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sejak awal Sinéad, yang lahir dan besar di Dublin, Irlandia, pada 8 Desember 1966, menolak “pemenjaraan” tersebut. Ketika sedang di puncak popularitas yang baru didapatkannya melalui lagu Nothing Compares 2 U, dia sama sekali tak ragu ketika merencanakan untuk merobek foto Paus John Paul II saat tampil di hadapan jutaan penonton dalam acara “Saturday Night Live” di stasiun televisi NBC. Protes untuk perundungan seksual terhadap anak-anak di lingkungan gereja Katolik ini menyebabkan dia diboikot, disindir sesama musisi, dimaki-maki, dibungkam, dengan harapan dia dilupakan selamanya.

Dia mungkin jadi mendapatkan perhatian yang lebih sedikit setelah kejadian itu. Tapi jiwa aktivismenya, yang didasari sensitivitasnya menyangkut moral dan kebajikan, tak tunduk. Dan kelihatannya justru karena itulah dia bisa bertahan, melanjutkan berkarya secara berkualitas (menghasilkan 10 album sepanjang kariernya), dan terus bersuara blak-blakan terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, serta berdiri di samping mereka yang membutuhkan dukungan.

Tidak banyak musisi seperti Sinéad. Mereka yang tak terang-terangan atau tak secara tegas menjadikan karier atau popularitasnya sebagai platform untuk menyuarakan opini tentang kondisi sosial atau politik, walau hanya sesekali, sering harus mempertahankan diri manakala akibat bersuara jujur di muka publik adalah datangnya gelombang kecaman. “Kau cuma musisi. Jadilah musisi saja. Jangan omong soal politik,” biasanya begitu nada respons yang timbul.

Tentu saja, permintaan itu tidak berdasar. Kenapa musisi tak boleh bicara tentang politik, tentang kondisi sosial, tentang rasisme; atau perihal situasi gawat akibat semakin panasnya suhu bumi dan isu-isu lain yang bersangkut paut dengan kehidupan orang banyak atau kaum lemah dan minoritas? Seniman di bidang lain telah melakukannya dan tampaknya tak ada kehebohan.

Dulu, pada akhir 1960-an dan 1970-an, di era counterculture, musisi membawakan lagu-lagu protes adalah hal lumrah. Syair-syair yang dinyanyikan bisa eksplisit, bisa pula implisit, atau sekadar potret situasi sosial. Bob Dylan, Joan Baez, Art and Garfunkel, Marvin Gaye, Nina Simone, dan lain-lain. Mereka bahkan sebetulnya telah didahului oleh Woody Guthrie pada 1940-an dan 1950-an. Dan selain mengekspresikan opini melalui syair, mereka juga artikulatif sebagai opinion makers di luar studio atau panggung konser.

Sebagai musisi-aktivis, mereka menjadi bagian dari gerakan sosial. Atau, mereka bahkan ikut mendorong munculnya gerakan sosial. Andaikata ada “model”-nya, bisa dikatakan bahwa mereka memiliki kemampuan yang menyangkut konsep, ekspresi perilaku yang diharapkan, pengaruh secara sosial, dan sangat boleh jadi juga strategi untuk memotivasi.

Dari mana musisi-aktivis mendapatkan karakteristik-karakteristik itu? Musisi punya kapasitas untuk menemukan sumber motivasi demi mencapai keadaan puncak dari fokus dan kreativitas. Menurut Robert H. Woody, guru besar bidang musik dari University of Nebraska, dalam artikel “The Motivations of Exceptional Musicians” di Music Educators Journal (2004), hal ini tidak ada duanya. Inilah yang membantu musisi “sukses bukan hanya pada karyanya, melainkan juga di luar musik”.

Memang, dalam kenyataannya, tidak mudah mempraktikkan pilihan karier semacam itu. Apa yang menimpa Sinéad pada 1992 juga menjegal Dixie Chicks beberapa tahun kemudian. Kelompok musik country--terdiri atas dua bersaudara Natalie dan Martie Maguire Maines, serta Emilie Strayer--ini diboikot dan di-blacklist karena mengkritik Presiden George W. Bush, yang menggelorakan kampanye untuk menginvasi Irak tak lama setelah peristiwa serangan 11 September 2001 di tanah Amerika Serikat.

Tetapi, sebagaimana seniman pada umumnya, musisi-aktivis punya rol penting dalam ikut mengubah keadaan dan memajukan masyarakat di bidang-bidang kebinekaan, keadilan, kesetaraan, lingkungan hidup...apa saja yang diperlukan bagi kemanusiaan untuk melanjutkan kehidupan yang lestari. Tidak ada satu pihak pun yang berhak atau boleh menghalanginya.

Maka, kepergian Sinéad untuk selamanya, bagaimanapun, telah mengurangi jumlah musisi yang punya kesadaran serupa dengannya, yang menjadikan popularitas sebagai tumpuan demi tujuan besar yang lebih dari sekadar karier yang gemilang. Kita, penggemar musik maupun bukan, patut prihatin, kalaupun bukan khawatir, seperti halnya perasaan yang mestinya timbul menyangkut terus berkurangnya spesies langka yang berbagi ruang hidup dengan manusia. Sebab ada fungsi yang berguna bagi kehidupan yang jadi berkurang, atau hilang.

Ikuti tulisan menarik purwanto setiadi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu