x

Novel The Almighty karya Irving Wallace.

Iklan

Geovanny Calvin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Desember 2021

Selasa, 29 Agustus 2023 10:29 WIB

Jurnalisme dan Kekuasaan; Review Novel The Almighty karya Irving Wallace

Tidak selamanya lembaga pers dan kerja-kerja jurnalistik memiliki peran antagonis terhadap berbagai bentuk kekuasaan. Melalui novel The Almighty, Irving Wallace membongkar isu tentang permainan kekuasaan di balik lembaga-lembaga jurnalistik. Struktur-struktur kekuasaan barangkali juga bertumbuh subur di lembaga-lembaga seperti ini, yang tampil seolah-olah sebagai suara kritis rakyat.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Novel Irving Wallace, The Almighty, ini menghidangkan dua isu besar; jurnalisme dan kekuasaan. Secara konseptual, kedua jargon ini selalu ditampilkan dalam kerangka oposisi. Terjalin hubungan yang saling mencurigai antara keduanya. Ibarat api dan air, jurnalisme dan kekuasaan diasumsikan memiliki kodrat yang tidak bisa disatukan.

Dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, Kovach dan Rosenstiel menegaskan peran jurnalisme; “Memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas.” Dengan kata lain, jurnalisme menjelma sebagai antitesis dari segala bentuk kekuasaan. Romantika antara jurnalisme dan kekuasaan harus selalu dicurigai dan tidak akan pernah bisa dijembatani.

Namun, benarkah jurnalisme bebas dari struktur-struktur permainan kekuasaan?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bertolak dari wawasan ini, Irving Wallace menjajal sebuah plot besar yang memperlihatkan sisi lain dari wajah jurnalisme. Institusi-institusi jurnalisme turut tenggelam dalam permainan kekuasaan yang seringkali tak kasat mata. Tokoh Edward Armstead merupakan menifestasi paling hidup dari penguasa yang bersembunyi dalam kesucian jurnalisme.

Sinopsis

Semua berawal dari sepotong wasiat. Surat wasiat  dari almarhum ayahnya menjadi penghambat ambisi Edward. Untuk menjadi pemilik yang sah dari surat kabar New York Record, dia harus membuktikan prestasinya mengalahkan surat kabar lain, termasuk New York Times. Ia hanya punya waktu satu tahun untuk membuktikannya.

Edward tak kehilangan akal. Di bawah obsesi pada kekuasaan, sebagaimana penguasa pada umumnya, Edward merencanakan dan melaksanakan sebuah intrik besar. Alih-alih mencari berita, ia justru menciptakan berita-berita itu sendiri. Disewanya sekelompok teroris untuk mewujudkan rencana-rencana kejahatan. Di setiap peristiwa tersebut, bila berjalan sesuai rencana, Edward sudah terlebih dahulu menyiapkan berita yang akan ia tulis dan terbitkan di New York Record dengan nama samaran Mark Bradshaw.

Edward menciptakan teror sebagai fondasi berita-beritanya; meloloskan tahanan paling ditakuti, menculik Raja Spanyol di Basque, menculik sekjen PBB, mencuri naskah gulungan Laut Mati, membunuh Perdana Menteri Israel hingga percobaan penculikan Sri Paus, bahkan usaha pembunuhan Presiden Amerika Serikat. Ia adalah dalang di semua peristiwa itu serentak menjadi penulis beritanya.

Merasa menjadi mahakuasa (The Almighty), Edward menderita sindrom megalomania akut. Konsep dan citra dirinya terkurung dalam sebuah delusion of grandeur, delusi keagungan. Ia merasa tak terkalahkan dan berada di puncak mata rantai, tuhan kecil. Di tangannya, jurnalisme adalah alat bantu kekuasaan. Sebagaimana penguasa runtuh silih berganti di setiap zaman, demikian pula rezim Edward Armstead tidak akan bertahan lama.

Isu yang Relevan

Fenomena yang sama boleh jadi sudah dan sedang berlangsung dalam dunia jurnalisme kita dewasa ini. Miniatur Edward Armstead, para penguasa anonim, barangkali masih menggerakkan media-media pemberitaan dan orientasi pers kontemporer. Jadi, sosok seperti Edward secara rasional bukan sekedar tokoh fiksional belaka. Ada aktualitas dan faktisitas dalam cara Irving menciptakan tokoh ini.

Novel terbitan tahun 1997 ini seakan-akan telah memperkirakan relevansinya ke depan. Dewasa ini, media-media pemberitaan dan lembaga-lembaga publikasi modern tak lagi kredibel. Media dan lembaga pers yang seprinsip dengan New York Record dalam novel belum sepenuhnya punah dari kehidupan masyarakat saat ini.

Interese politis dan kepentingan-kepentingan parsial segelintir penguasa masih mudah sekali membelokkan fakta dan kebenaran. Di tengah suasana pemilu, misalnya, para penguasa anonim menciptakan isu dan narasi-narasi politis melalui pers demi kepentingan strategis. Kita boleh yakin bahwa apa yang muncul dalam berita dan publikasi selama ini adalah produk-produk artifisial yang sengaja diciptakan oleh penguasa untuk mengarahkan dan mempropaganda masyarakat luas.

Sebagaimana tokoh Edward Armstead yang menyembunyikan kebenaran melalui tulisan-tulisan Mark Bradshaw, demikian pulalah para pemimpin lembaga jurnalistik seringkali menampilkan narasi-narasi yang mengaburkan sebagian kebenaran. Judul yang sensasional dan bombastis sengaja dibuat untuk menarik algoritme jumlah pembaca tanpa memperhitungkan nilai kebenaran intrinsiknya. Massa menelan sampah-sampah jurnalistik hampir setiap hari dan tanpa sadar mencoba berdamai dengan semua kebohongan itu.

Dalam sejarah bangsa Indonesia, pertalian erat antara jurnalisme dan kekuasaan juga pernah terjadi. Lembaga-lembaga pers pasca Orde Lama mulai berkiblat pada kepentingan penguasa Orde Baru. Tidak hanya pemberitaan pers yang dikontrol oleh penguasa, bahkan izin operasionalnya pun diatur sebagaimana tertuang dalam lembaga Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Sejak saat itu teori pers otoriter[1] mulai sering diwacanakan di ruang publik.

Di tengah masa itu, sedemikian pula di masa sekarang, tanggungjawab utama dari pembuat berita adalah kepada penguasa yang ia layani, bukan pada kepentingan publik. Jika perlu, mereka akan menciptakan berita mereka sendiri sejalan dengan kehendak pemimpin atau penguasa saat itu. Kebenaran seolah-olah di-anak-haram-kan.

Pembaca Progresif

Lantas, pesan simbolis apa yang ingin disampaikan Irving Wallace dalam karya monumentalnya ini sebagai sikap menanggapi realitas jurnalisme yang sudah terkooptasi kekuasaan?

Masyarakat perlu dididik untuk menjadi pembaca yang progresif. Pembaca yang demikian bukan sekedar menjalankan peran sebagai konsumen pasif dari produk-produk jurnalisme, melainkan turut serta menjadi redaktur publik terhadap kebenaran di dalamnya. Publik harus mencari kebenaran itu sendiri.

Di titik ini, benarlah konsep filsafat “ambiguitas” yang diperkenalkan oleh Merleau-Ponty. Kebenaran tidak selamanya defenitif dan jelas seperti kristal. Apa yang dilihat sebagai kebenaran belum tentu punya nilai kebenaran yang sama dari aspek lain.[2] Media-media pemberitaan dan produk-produk jurnalisme dewasa ini bukan pembawa kebenaran mutlak. Pembaca tetap harus menegakkan sikap penuh pertimbangan.

Setiap orang perlu mengembangkan sikap kritis dalam mengkonsumsi berita di media-media. Sejauh tidak ada berita yang murni objektif, siapa pun pembacanya diajak untuk terus menggugat kepentingan-kepentingan subjektif yang kadang melekat dalam agenda jurnalistik.

Tokoh Victoria Weston sengaja diangkat oleh penulis sebagai representasi model pembaca yang progresif. Weston selalu menggali fakta-fakta kebenaran yang tersembunyi dalam institusi di tempat dia bekerja atas dasar rasa ingintahu. Ia mencurigai New York Record dan Edward Armstead. Ia membiarkan rasionalitas pribadinya memimpin apa yang harus dipercayai. Ia selalu menjadi sosok yang mencurigai mitos klasik bahwa jurnalisme selalu merupakan ‘polisi bagi kekuasaan.’

Sebaliknya, jurnalisme juga bahkan bisa bermetamorfosis sebagai entitas yang despotik dan otoriter. Irving ingin menegaskan bahwa jurnalisme dan pers yang selalu diyakini sebagai pewarta kebenaran justru bisa juga menjadi aktor utama dari segala kejahatan dan propaganda.

Pembaca yang progresif adalah pembaca yang kritis. Ia tidak suka menerima segala sesuatu apa adanya. Kemampuan untuk terus mempertanyakan dan mengajukan kecurigaan, yang juga merupakan fondasi dari filsafat, adalah moralitas utama sebagai pembaca yang kritis.

Sebagai penulis Yahudi berkebangsaan Amerika, Irving sukses mengangkat isu yang relevan dengan situasi masyarakat sepanjang zaman. Novel setebal 604 halaman ini tepat ditujukan bagi pembaca dewasa yang suka mempertanyakan segala sesuatu dan selalu punya rasa ingin tahu besar terhadap dunia di sekitarnya.

 

[1] Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa (Jakarta: Granit, 2004), hlm. 63.

[2] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Jilid II Prancis (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm. 126-128.

Ikuti tulisan menarik Geovanny Calvin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu