Mati Muda; (Bukan) Cita-Cita Jemawa

Rabu, 30 Agustus 2023 06:15 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Gie pernah menulis: Seorang Filsuf Yunani berkata, bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan tersial adalah umur tua.

Mungkin, tak ada yang bisa menandingi teguhnya pendirian Munir Said, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib atau Robert Monginsidi. Keteguhan mereka tak sebanding dengan usia hidup di dunia. Singkat, namun bermakna. Tarikan nafas atas perjuangan mereka tentu berbeda, bukan singkat usianya tapi apa yang diperbuat sebelum maut itu menjemput.

Dalam Novel "Mereka Yang Mati Muda: Sekali Berarti dan Setelah Itu (bukan berarti) Mati", mereka seperti Munir Said, mati karena diracun saat dalam perjalanan dari Indonesia menuju Belanda.  Ahmad Wahib yang ditabrak sepeda motor oleh orang yang tak dikenal dan Robert Wolter Monginsidi yang dijatuhi hukuman mati oleh tentara Belanda.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bahkan kepentingan pribadi pun dienyahkan demi ego yang membara di dada mereka. Seperti orang yang sudah bosan hidup atau karena mereka tidak rela menyia-nyiakan setiap detik waktu untuk hal yang tak berguna.

Terlepas dari bagaimana usia mereka berakhir, namun mati muda sering disalahartikan.
Pada era disrupsi, isu kesehatan mental sudah menjadi momok. Beban hidup, tanggung jawab keluarga, pekerjaan, (tuntutan) pendidikan hingga depresi, menyebabkan orang mengakhiri hidup alias bunuh diri.

Jika ditilik melalui data Polri, terdapat 585 laporan kasus bunuh diri di Indonesia periode Januari-Juni 2023. Jumlah tersebut tentu menghawatirkan, namun harus diakui fenomena bunuh diri banyak yang tidak tercatat, baik karena pengelolaan data maupun stigmatisasi.
Mengutip dari Kompas. id dalam artikel "Waspadai Bunuh Diri pada Anak Muda" (September 2022) menyebutkan, ada jutaan penduduk bumi mengalami kesedihan mendalam yang menjadi salah satu pendorong bunuh diri.

Selanjutnya, bunuh diri menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada penduduk usia 15-29 tahun dan 77% terjadi di negara berpendapatan menengah.

Untuk menyimpulkan tentang tren bunuh diri bisa dikaji dan dielaborasi lebih lanjut dari berbagai penelitian, mulai dari penyebab, kecendrungan usia, hingga data yang lebih akurat.
Namun, variabel usia dan variabel ekonomi mempunyai andil besar dalam berbagai laporan kasus bunuh diri.

Jika diambil variabel usia 15-29 di atas, maka usia tersebut rentan, dengan kata lain merupakan usia yang menjadi tolok ukur seseorang untuk meraih kesuksesan. Jika berhasil dalam rentan usia tersebut, maka dia berpeluang besar mengakhiri "tuntutan" atau tekanan sosial (baca: primordialism), seperti tamat sarjana, punya pekerjaan dengan gaji laik, dan sudah memiliki properti.

Namun, bagi yang belum juga sukses dengan berbagai kriteria di atas, maka itu laikny aib di masyarakat. Di sana ketahanan mental diuji melalui pola pikir, prinsip hidup, keimanan hingga keteguhan hati yang sayangnya hal itu tidak didapat di bangku sekolah atau perkuliahan. Banyaknya anak muda depresi dikarenakan di usia muda terdapat ambisi yang besar, namun terdapat kecendrungan yang besar juga jatuh pada jurang keputusasaan.

Solusinya?
Cara yang tepat tentu datang ke ahlinya, seperti psikolog atau guru yang punya kapasitas kelimuan terkait dengan kesehatan mental. Namun banyak juga yang lolos dari tekanan sosial melalui pengalaman hidup yang tidak mudah. Dari sana muncul kebijaksanaan, lalu menjalani persoalan kehidupan dengan memegang prinsip yang didapatnya sendiri.Prinsip hidup ini yang tidak mudah begitu saja ditularkan ke orang lain. Di sana ada pergumulan rasa yang tidak bisa dipindahkan beserta kata-kata.

Walaupun Aristoteles pernah berkata: Harapan adalah mimpi yang terjaga. Namun harapan adalah proses yang terus menjadi, diuji terus menerus dalam setiap kondisi, suka atau duka. Pada akhirnya takdir memang tidak bisa diterka, namun dia pasti datang dengan kejutan.

(bukan) Cita-Cita Jemawa
Gie pernah menulis: "Seorang Filsuf Yunani berkata, bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan tersial adalah umur tua". Soe Hok Gie mandapatkan nasib baik kedua, karena dia meninggal akibat insiden ketika mendaki gunung Semeru.

Namun pencapaian hidup seseorang tentu berbeda-beda. Vokalis Nirvana yang tenar pada usia muda lalu rela mati setelahnya karena depresi lalu menarik pelatuk senjata api yang menewaskannya. Ada lagi Harland Davis Sanders. Memulai bisnis kuliner diusia 65 tahun. Meski mengalami penolakan hingga 1009 kali, barulah pada usia 70 tahun dia merasakan kesuksesan dan membuka ratusan gerai KFC di Amerika Serikat kala itu. Jadi sekali lagi ini bukan pilihan yang harus dilegitimasi secara sosial.

Jika berandai Gie masih hidup pada era disrupsi kali ini, mungkin dia tetap memilih untuk mati muda. Hegemoni yang telah menunjukkan kontrol ekonomi dan politik serta kemampuan kelas dominan, serta warga negara hanya pion-pion yang sering dibenturkan oleh penguasa.

Gie pada masanya banyak mengkritisi kebijakan Presiden Soekarno dan pengkritik tajam orde baru. Jadi bisa dibayangkan bagaimana Gie hidup pada era sekarang, kewalahan untuk mengkritik tidak hanya satu penguasa tapi juga dominasi kelas disekitar penguasa (baca oligarki).

Tapi perlu diingat, Soe Hok Gie bukan mati bunuh diri, dia mati muda karena insiden. Gie juga punya lingkungan (keluarga) yang terdapat tekanan sosial terkait tuntutan sukses. Tapi berlian tetaplah berlian, walaupun dia ditaruh di lumpur sekalipun. Apa yang dilakukan Gie benar-benar sebuah "ego"  dari seorang anak muda yang peduli tentang kemanusiaan, tetang hidup, cinta dan juga kematian.

Mati muda bukan cita-cita jemawa jika dia hanya pepesan kosong, larut dalam hegemoni, dan jadi pion-pion penguasa. Munir Said, seorang pejuang HAM-pun tidak rela mati muda ketika menyuarakan keadilan. Tapi setidaknya mereka mati dalam perjuangan dan tidak menerima begitu saja slogan penguasa.

Saya  dan anak-anak muda lainnya bisa saja iri dengan Soe Hok Gie, punya pemikiran kritis, pejuang kemanusiaan dan berdaya guna bagi sekitar. Tapi tidak bisa iri dengan "nasib baik kedua" seperti Gie, karena itu takdir. Namun tidak ingin juga ditimpa sial dengan umur tua.


"....kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras. Diusap oleh angin dingin seperti pisau atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil. Orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur".

(Penggalan tulisan dari catatan Soe Hok Gie)

 
 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Fernando Wirawan

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Politik Jegal (Diancam) Kasus

Rabu, 6 September 2023 12:37 WIB
img-content

Mati Muda; (Bukan) Cita-Cita Jemawa

Rabu, 30 Agustus 2023 06:15 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua