x

Iklan

Harsuko Riniwati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 September 2023

Minggu, 1 Oktober 2023 09:07 WIB

Menuju Indonesia Maju, Apa yang Kurang?

Dikatakan negara maju jika IPM nya tergolong sangat tinggi yaitu lebih besar atau sama dengan 80. Indonesia masih berada pada level tinggi yaitu antara 70%-79%.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     Indonesia maju menjadi fokus pencapaian cita-cita era Presiden Joko Widodo. Disampaikan waktu pelantikan periode ke dua, presiden Joko Widodo menyampaikan 5 fokus.  Lima fokus yang disebutkan yaitu 1) pembangunan sumberdaya manusia (SDM), 2) Pembangunan Infrastruktur, 3) Penyederhanaan Birokrasi, 4) Penyederhanaan Peraturan, 5) transformasi ekonomi. Disebutkan yang pertama yaitu ajakan untuk membangun sumberdaya manusia. Ajakan pertama ini bukan tanpa alasan yang mendasar. Ini sangat betul, Indonesia maju kurang nya adalah kualitas pembangunan sumberdaya manusia yang tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Dikatakan negara maju jika IPM nya tergolong sangat tinggi yaitu lebih besar atau sama dengan 80. Indonesia masih berada pada level tinggi yaitu antara 70%-79%. Kurang satu langkah Indonesia menuju IPM sangat tinggi. Posisi IPM Indonesia diantara negara  ASEAN menduduki peringkat ke 5 dengan nilai 72,9%. Peringkat IPM negara ASEAN mulai peringkat pertama sampai yang terendah yaitu Singapura (93,8%), Brunei Darussalam (83,8%), Malaysia (81%), Thailand (77,7%), Indonesia (72,9%), Philipina ( 71,8), Vietnam (70,4%), Laos (61,3%), Kamboja (59,4%), Myanmar (58,3%). Nilai IPM dikatagorikan sangat tinggi (≥ 80%), tinggi (70%-79%), sedang (61%-69%), rendah (≤ 60%).

     Pembangunan di Indonesia sudah bergerak ke level desa, termasuk pembangunan sumberdaya manusia (SDM).  Sudah tepat Indonesia membangun SDM pada wilayah terkecil yaitu desa. Sebuah desa di Indonesia cukup kompleks karena jumlah penduduknya relatif banyak.  Jika pembangunan SDM didasarkan pada wilayah kabupaten, kota atau propinsi tidak akan efektif. Jumlah penduduk di tingkat Kabupaten, kota dan Propinsi sangat banyak, masalah semakin kompleks. Hal ini menyebabkan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, pengendalian dan peningkatan yang berkelanjutan sulit di jadikan sistem peringatan dini (early warning system) kualitas SDM. Namun pernyataan banyak stakeholders yang diundang pada acara dengan materi penghitungan IPM dan IPG, ingin menghitung tetapi tidak dapat melakukan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tim peneliti Pendanaan Matching Fund yang diketuai oleh Prof.Dr.Ir.Harsuko Riniwati. MP berhasil menyusun buku ber-ISBN nomor 978-623-130-014-0 dengan judul Penyusunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG) yang sangat dibutuhkan oleh daerah untuk menghitung IPM dan IPG di seluruh desa atau Kecamatan di Indonesia. Buku ini menampilkan dengan tuntas, runtut langkah-langkah penghitungan dan tidak ditemukan pada referensi-referensi yang lainnya. Setelah tim MF ini diminta menjadi pemateri di beberapa tempat  (Propinsi Jawa Timur, Bappeda Kabupaten dan Kota serta Dewan Pendidikan), stakeholders yang hadir sangat memerlukan buku yang berisi cara menghitung IPM dan IPG secara jelas dan runtut.

Buku juga dilengkapi aplikasi sederhana dengan excel untuk menghitung IPM dan IPG. Rumus-rumus lengkap di dalam excel. Jika data diisikan atau di update setiap tahunnya maka sel-sel dalam excel yang terkait hasil perhitungan akan berubah secara otomatis. Pengguna tidak perlu repot-repot menghitung manual dengan rumus-rumus yang banyak dan bersambungan. Semua stakeholders yang mengetahui ada buku dan aplikasi  penghitungan IPM dan IPG sangat antusias mendapatkan dan menerapkannya. Buku Penyusunan IPM dan IPG sebagai output program Matching Fund Kementerian Riset dan Teknologi. Outcomenya berupa Hak Cipta yang sudah terbit dengan nomor 000440228. 

   Indikator penghitungan IPM terdiri dari indeks kesehatan, indeks pendidikan dan indeks ekonomi. Dalam buku penghitungan IPM dan IPG mencakup materi, data yang dibutuhkan dan langkah-langkah menghitung. Bab-bab buku meliputi : 1) Penghitungan Indeks Kesehatan ; 2  Penghitungan Indeks Pendidikan; 3  Penghitungan Indeks Ekonomi; 4  Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia.

Semua Aspek juga dihitung dengan data terpilah gender (laki-laki dan perempuan); 5)  Indeks Kesehatan Terpilah Gender, 6)  Penghitungan Indeks Pendidikan Terpilah Gender, 7)  Penghitungan Indeks Ekonomi Terpilah Gender , 8)  Penghitungan Indeks Pembangunan Gender (IPG) , 9  Aplikasi IPM/IPG. Isi buku juga di lengkapi dengan 10) contoh kasus data per Desa dan Kecamatan, 11) excel penghitungan IPM-IPG hasil inovasi tim Penelitian Program Matching Fund Platform Kedaireka, 12) Isian angket atau kuesioner untuk memperoleh data dengan menggunakan Google Form atau pengguna bisa mengembangkan sendiri melalui perangkat atau aplikasi lainnya.

Kuesioner meliputi data yang dibutuhkan untuk keperluan penghitungan IPM dan IPG. Karena data yang tersedia saat ini dari berbagai sumber tidak ada yang memenuhi keperluan menghitung IPM dan IPG, sehingga dalam buku di infokan kuesioner yang sesuai. Dengan demikian minimal desa mulai menyediakan data sesuai kebutuhan penghitungan IPM dan IPG.  Data tersebut dapat digunakan untuk alat simulasi dalam rangka memantau ketercapaian SDGs misalnya target Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk 15 tahun pada 2030. Dengan dilakukannya simulasi ketercapaian SDGs dan nilai IPM katagori “sangat tinggi” untuk di klaim Indonesia negara maju, maka pemerintah Indonesia akan tahu program yang sangat mendesak untuk dilakukan bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Pemerintah mempunyai perangkat namanya pendamping desa. Perangkat ini sangat cocok untuk mengawal ketercapaian SDGs dan nilai IPM katagori sangat tinggi. Pendamping Desa untuk keperluan pemantauan ketercapaian tersebut  perlu di bekali Excel inovasi tim Peneliti dari Universitas Brawijaya pembiayaan Program Matching Fund dari Kedaireka tahun 2021 ini. Jika diharapkan dampaknya menyeluruh dan masiv maka perlu dijadikan program nasional agar pemerintah Indonesia mengetahui dengan pasti kekurangan Indonesia maju dari sisi nilai IPM katagori sangat tinggi. Karena menurut tim peneliti ini, kekurangan Indonesia maju hanya dari kualitas SDM yang tercermin dalam nilai IPM. 

     Buku Penyusunan IPM dan IPG memasukkan aspek gender yaitu IPM yang datanya terpilah gender. Pentingnya adalah mengetahui sejauh mana di Indonesia sudah mencapai kesetaraan gender. Data di seluruh propinsi di Indonesia menunjukkan kondisi perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki. Dengan demikian program-program percepatan pencapaian IPM katagori sangat tinggi untuk Indonesia akan semakin diketahui dari sisi kualitas perempuan apa yang mendesak dilakukan.

Ketertinggalan perempuan ini juga dapat disimulasikan dengan menggunkan inovasi penghitungan IPM dan IPG hasil program Matching Fund Kedaireka. Terimakasih yang tidak terhingga kepada program Kedaireka, atas kesempatan yang diberikan kepada tim peneliti dari Universitas Brawijaya sehingga dapat menghasilkan karya luar biasa yang bermanfaat untuk mengawal Indonesia maju. Kuesioner yang dimasukkan dalam buku untuk data yang diperlukan sudah dilengkapi dengan informasi yang harus digali terkait terpilah gender. Cetakan pertama buku sudah habis.

Saat ini tim peneliti jebolan program kedaireka ini sedang menyiapkan buku edisi 2 atau edisi revisi yang semakin lengkap dengan memperhatikan kekurangan-kekurangan pada edisi pertama. Buku cetakan ke dua segera terbit dan jika ingin membeli bukunya dapat menghubungi ketua peneliti melalui email riniwatisepk@ub.ac.id atau wa nomor 081357129994. Profil cover buku dan inovasi penghitungan IPM dan IPG dapat dilihat sebagai berikut :

Gambar Cover Buku dan Inovasi Penghitungan IPM-IPG

Ikuti tulisan menarik Harsuko Riniwati lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler