Ramalan Jayabaya: Kenyataan yang Diingkari (2)

Minggu, 15 Oktober 2023 06:21 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Raja Kediri yang terkenal karena ramalan dan akhir hidupnya yang dipercaya moksa, melanjutkan ramalan berikutnya dalam pupuh 118.

Raja Kediri yang terkenal karena ramalan dan akhir hidupnya yang dipercaya moksa, melanjutkan ramalan berikutnya dalam pupuh 118, yang bunyinya

Rawa dadi bera

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Iblis anjalma manungsa

Iblis mendhilis

Manungsa sara

Jaran doyan sambel

Kreta arodha papat satugel

Wong bener thenger-thenger

Bejane sing lali

Bejane sing eling

Nanging isih beja sing waspada

Jika pupuh tembang tersebut diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, akan diperoleh terjemahan rawa mengering, iblis menjelma menjadi manusia, iblis muncul dalam kejahatan, manusia menjadi sengsara, kuda suka sambel, kereta beroda empat sepotong, orang yang benar tak berdaya, untung bagi yang lupa, untung bagi yang ingat, namun masih lebih untung yang waspada.

Membahas ramalan tersebut, kita perlu memahami dan mendalami isi bait atau pupuh tersebut. Rawa mengering. Tanda ramalan Jayabaya hadir bisa dilihat dengan mengeringnya rawa-rawa. Perhatikan sejak jaman kolonial dan munculnya kerajaan di Jawa. Keraton Demak di desa Bintoro berdiri di atas rawa yang mengering. Keraton Sala juga didirikan di atas rawa yang mengering. Keraton Demak Prawata di desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati juga berdiri di atas rawa yang mengering.

Tanah rawa ditimbun dan dibuat dataran. Hal umum terjadi hingga sekarang ini. Bahkan laut pun ditimbun tanah untuk memperluas daratan. Lihat saja, beberapa daerah pesisir Jawa bagian utara. Di Jakarta, misalnya. Reklamasi pantai namanya. Laut dibuat daratan dan dijadikan pulau buatan. Rawa dikeringkan. Benar-benar terjadi di negeri ini.

Apalagi sekarang ini. Tanah rawa yang dulu luas sekarang sudah menjadi daratan dan dibuat persawahan ataupun perumahan penduduk. Contoh saja, Rawa Pening di Jawa Tengah. Dulu rawa ini luas. Sekarang bisa dilihat, tinggal beberapa kilometer persegi saja luasnya. Banyak yang sudah mengering dan menjadi areal persawahan. Apakah kita tidak percaya, iklim yang berubah dan kemarau menjadi lebih panjang mempengaruhi luas rawa. Rawa-rawa benar-benar mengering. Tanah pun retak-retak. Benar-benar menjadikan manusia berubah.

Iblis menjelma menjadi manusia. Manusia seolah telah menjadi iblis. Ataukah iblis yang menjelma menjadi manusia? Mana yang benar? Saya kira keduanya sama saja. Iblis ada dalam diri manusia dan manusia sudah berhati dan berperilaku iblis. Banyak sekali kejahatan yang dilakukan manusia. Coba saja cek berita di berbagai media. Aneka kejahatan dilakukan manusia. Memperkosa, membunuh, merampok, korupsi dan berbagai kejahatan dilakukan manusia. Tidak peduli anak, suami, istri atau anggota keluarga lain, semua dihabisi. Tidak ada peri kemanusiaan. Yang ada perilaku iblis. Iblis yang menjelma menjadi manusia. Iblis muncul dalam kejahatan yang dilakukan manusia.

Iblis muncul dalam kejahatan. Kejahatan merajalela di negeri ini. Simaklah berita di televisi. Bacalah berita di koran dan situs-situs pemberitaan. Terjadi kasus pembunuhan di mana-mana. Perkelahian antarremaja di berbagai daerah menggunakan senjata tajam. Perlakuan keji, dan penganiayaan pacar hingga menjadikan korban terbunuh.

Permusuhan antara kelompok satu dengan massa lain yang meresahkan warga. Saat diingatkan agar tidak membuat gaduh suatu wilayah, mereka tersinggung dan melakukan penyerangan, seolah peperangan. Iblis muncul dimana-mana dalam bentuk kejahatan. Apapun kejahatan ada di dunia ini. Anak membunuh orang tuanya sendiri. Saudara tega menghabisi saudaranya atau anggota keluarga lainnya. Benar-benar membuat manusia hidup dalam kesengsaraan.

Manusia menjadi sengsara. Kejahatan yang terjadi dimana-mana. Kekeringan dan bencana alam juga terjadi saat ini. Hal-hal tersebut membuat manusia sengsara. Lihat saja kasus Pulau Rempang. Rakyat diusir dari tanah yang dimiliki. Lihat saja kasus Wadas. Lihat banyak kasus di berbagai wilayah negeri ini. Kekerasan terjadi antarwarga. Kasus-kasus tersebut membuat manusia menjadi sengsara.

Kuda suka sambel. Ini hal yang aneh tapi nyata. Saya kurang paham istilah kuda suka sambel yang digunakan dalam ramalan Jayabaya. Apa mungkin kuda suka sambel? Mungkin maksudnya sesuatu yang aneh terjadi. Masa kuda suka sambel? Tapi mungkin juga sebab saya punya pengalaman di Monas, Jakarta saat piknik bersama anak-anak. Di sekitar Monas ada kijang atau rusa. Saat itu rusa-rusa tersebut lapar. Yang jelas tidak ada rumput di sana.

Rusa termasuk hewan herbivora yang makan daun dan rumput. Tapi, ketika saya piknik dan ada sisa makanan yaitu tahu dan ayam. Sisa-sisa makanan tersebut saya berikan ke rusa tersebut. Eh, ternyata dimakan rusa. Rusa yang seharusnya makan rumput tapi justru makan tahu dan ayam. Sama seperti istilah, kuda suka sambel kan? Sesuatu yang mustahil terjadi tapi terjadi di dunia ini. Benar-benar kuda suka sambel.

Kereta beroda empat sepotong. Ini saya tidak paham. Kereta beroda empat separuh. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Sama seperti kuda suka sambel. Hal aneh dalam kehidupan di dunia ini. Mungkin pembaca Indonesiana.id ada yang tahu, bisa menambahkan dalam tulisan saya ini. Semoga menambah wawasan semua pembaca.

Orang yang benar tak berdaya. Lihat dunia sekarang ini. Setelah ada sesuatu yang seharusnya mustahil, tapi terjadi di dunia ini, manusia seolah tidak berdaya. Orang yang berlaku jujur seolah sudah terjepit keadaan. Tidak bisa bergerak leluasa dan diakui. Sementara orang-orang jahat dan berlaku kotor, berbuat berbagai kesalahan justru bebas berkeliaran dan dianggap sebagai tokoh dengan segala kebenaran. Orang benar hanya bisa thenger-thenger dan tidak berdaya. Mereka kalah melawan hukum. Lihatlah banyak kasus di negeri ini. Orang benar dipenjarakan, sementara mereka yang berlaku jahat justru dianggap sebagai kebenaran. Kebenaran menurut hukum kata mereka di pengadilan. Katanya, semua dibuktikan menurut hukum yang dibuat manusia. Sementara mereka tidak pernah takut hukum Tuhan. Benar-benar orang yang lurus dibuat tidak berdaya karena tidak memiliki uang dan pengaruh.

Untung bagi yang lupa. Namun, semua itu membawa keberuntungan bagi siapa saja. Untung bagi yang lupa. Lupa akan kebaikan yang dilakukan. Tidak mengingat-ingat terus kebaikan yang dikerjakan. Sebab selalu mengingat kebaikan menjadi tidak ikhlas. Lupa akan kebaikan kepada orang lain, dan tidak mengingat-ingat bahwa kita telah dan pernah menolong orang lain menjadikan hidup tenang dan ikhlas dalam berbuat kebajikan. Coba kalau kita mengingat kebaikan, rasa ikhlas pasti hilang dari hati kita. Akhirnya amal kebaikan hanyalah sia-sia.  Justru kita harus ingat akan kebaikan orang kepada kita. Bukan malah sebaliknya. Mengingat kebaikan kita pada orang lain. Menjadi takabur.

Untung bagi yang ingat. Mengingat kebaikan orang lain, menjadikan kita merasa beruntung. Beruntung telah ditolong orang lain. Beruntung sehingga kita menjadi lebih baik dalam hidup dan berbuat di dunia ini. Mengingat kebaikan orang lain, membuat kita berusaha berbuat baik pada orang lain juga. Ingat akan aturan Tuhan. Ingat dan taat beragama. Semua menjadi keberuntungan dalam hidup. Namun, semuanya masih lebih beruntung bagi orang-orang yang waspada.

Namun, masih lebih untung yang waspada. Waspada. Itu kata yang harus dilakukan setiap orang. Kejahatan ada dimana-mana. Manusia dan iblis seolah menyatu. Mereka melakukan kejahatan dengan segala bentuk dan modelnya. Hanya orang-orang yang selalu waspada saja yang bisa selamat. Waspada akan kejahatan yang terbungkus kebaikan. Waspada akan kebaikan yang diselimuti kejahatan. Bisnis berkedok judi, atau judi berkedok bisnis. Semua ada. Hanya mereka yang waspada dan taat dalam aturan agama dan keyakinan kebenaranlah yang akan selamat. Selamat menjalani kehidupan di dunia dan akhirat nanti.

Intinya, kita hidup di dunia, janganlah melupakan kebaikan orang lain. Janganlah berhenti untuk berbuat baik pada orang lain. Tetap waspada meski keadaan tenang. Tidak ada gejolak dan tanda-tanda apapun. Bukankah tsunami di laut terjadi karena laut yang tenang? Begitu juga tsunami kejahatan di dunia. Tetaplah waspada. Jagalah diri dan keluarga dari berbagai macam fitnah dan kejahatan. Selamat membaca dan ikuti lanjutan ramalan Jayabaya ini di tulisan selanjutnya. Terima kasih.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rusdi Ngarpan

Penulis Indonesiana/ Alumnus UNNES Semarang, berkarya di SMP

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua