Ramalan Jayabaya: Kenyataan yang Diingkari (5)

Rabu, 18 Oktober 2023 11:20 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ramalan Jayabaya pupuh 121 menceritakan keadaan rumah yang tidak beraturan. kendaraannya berkaki lima dan penumpangnya ada di dalam perut kendaraan. Ramalan Jayabaya yang jadi kenyataan.

Ramalan Jayabaya sebelumnya menggambarkan tentang pemimpin negeri ini yang memiliki tanda memakai peci malam dan kelemahannya adalah wanita-wanita cantik. Jika kita memperhatikan perjalanan sejarah bangsa ini maka kita bisa menemukan bahwa Ir. Soekarno adalah orang yang dimaksud dalam ramalan Jayabaya pupuh 120 tersebut.

Selanjutnya, pada pupuh 121 jangka Jayabaya seolah menggambarkan keadaan jaman kini. Tulisan ramalan tersebut adalah

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Adhepe pondok tan karuan kiblate

Mula ya ngerti jangkane zaman

Abandha abandhu nanging ora duwe

Titikane turangga asikil lima cacahe

Warnanira kaya Baladewa

Yen nitih ing wetenge turangga

Jika tulisan tersebut dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia, diperoleh gambaran berikut. Rumah tidak beraturan menghadap entah kemana, oleh sebab itu hendaklah mengerti gelagat zaman, harta benda menumpuk tapi tidak memiliki, kendaraannya berkaki lima, warnanya mirip wajah Baladewa, bila naik berada di perut kendaraan. Penjelasan pupuh 121 ramalan tersebut bisa disimak berikut ini.

Rumah tidak beraturan menghadap entah kemana. Perhatikan rumah-rumah sekarang ini. Kemana arah rumah dibangun? Tidak tentu kemana arahnya. Sepanjang menghadap jalan, tidak peduli menghadap arah rumahnya. Dulu sewaktu saya masih anak-anak, di desa saya rumah itu menghadap utara dan selatan. Walau di sebelah barat atau timurnya adalah jalan, rumah tetap menghadap utara dan selatan.

Termasuk rumah orang tua saya. Rumahnya menghadap ke selatan, padahal samping rumah tepatnya di sebelah barat adalah jalan. Kok begitu? Ya, orang tua saya sangat njawani menurut saya. Ia percaya bahwa aturan membuat rumah adalah utara dan selatan. Jika menghadap timur atau barat berarti menantang ciptaan Tuhan yang lain yaitu matahari.

Matahari adalah sumber hidup dan kehidupan. Sehingga rumah menghadap matahari diyakini melawan sumber hidup dan kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, rumah-rumah dulu di Jawa banyak yang menghadap ke utara atau selatan.

Kini rumah-rumah penduduk di negeri ini bebas menghadap ke mana. Tidak perduli arah mata angin. Bahkan jika diperbolehkan akan menghadap ke atas atau ke bawah. Sungguh tidak beraturan rumah-rumah sekarang ini dibangun. Inilah gelagat zaman telah mendekati ramalan Jayabaya yang sesungguhnya terbukti benar. Namun, kebenaran itu dipungkiri.

Oleh sebab itu hendaklah mengerti gelagat zaman. Keadaan yang semakin berubah. Aturan dan norma banyak yang dilanggar. Penipuan dan kejahatan ada dimana-mana. Perselisihan dan permusuhan selah hal biasa di masyarakat. Oleh sebab itu, kita harus memahami dan mengerti gejala dan gelagat jaman.

Situasi dan kondisi negeri ini harus diperhatikan betul. Sebagai pemimpin harus memahami perbedaan dan perselisihan pendapat yang menimbulkan perpecahan bangsa. Sebagai pemimpin harus bisa membaca itu dan mencoba mempersatukan perbedaan. Sehingga negara tetap aman dan damai.

Sebagai warga negara, juga harus mengerti dan membaca gelagat jaman. Jaga lidah dan ucapan. Jangan asal bicara yang bisa menyinggung perasaan orang lain. Apalagi di tahun-tahun politik seperti sekarang ini. Salah bicara sedikit bisa berselisih dengan tetangga atau bahkan dengan anggota keluarga sendiri. Mari jagalah lidah dan perilaku kita dari hal yang menimbulkan perselisihan dan perpecahan. Mengertilah dengan gelagat zaman. Jangan masa bodoh dan tidak mempedulikan situasi.

Harta benda menumpuk tapi tidak memiliki. Inilah negeri kita. Negeri ini kaya raya. Gemah ripah loh jinawi. Kekayaan alam negeri ini belipat ganda. Melimpah ruah seolah abadi selamanya. Namun, bangsa ini tidak memiliki. Lo kok?

Perhatikan saja. Berapa banyak tambang minyak bumi, tambang batu bara, tembaga dan emas di negeri ini. Banyak sekali kekayaan negeri ini. Kenyataannya, sudahkah bangsa ini sejahtera dengan kekayaan yang ada? Tidak. Masih banyak warga negara ini yang hidup dalam taraf kemiskinan yang akut. Apakah hasil tambang itu dikuasai negara secara keseluruhan? Tidak.  Yang menguasai adalah perusahaan dan investor luar negeri.

Negara yang kaya ini eh ternyata memiliki hutang yang banyak sekali. Seharusnya kekayaan alam negeri ini bisa menyejahterakan warganya. Tepat sekali ramalan Jayabaya yaitu harta benda menumpuk tapi tidak memiliki.  

Jika kita memperhatikan pemberitaan di berbagai media, entah benar atau salah, pemimpin negeri ini memiliki candangan emas di bank Swiss yang besar. Mereka menyebutkan harta Soekarno. Cukup untuk membayar hutang dan menyejahterakan warga negeri ini. Tapi tidak bisa dicairkan. Tidak bisa dimiliki dan dimanfaatkan. Artinya harta benda menumpuk tapi tidak memiliki benar adanya. Kebenaran harta Soekarno tersebut, saya tidak tahu.

Kendaraannya berkaki lima. Saya tidak tahu apa yang dimaksud kendaraan memiliki kaki lima. Kalau pedagang kaki lima ada. Kok dikatakan kaki lima. Kursi tempat pedagang duduk memiliki tiga kaki. Ditambahkan dua kaki sang pedagang, jadinya kakinya lima. Kalau kendaraan berkaki lima mungkinkah kendaraan beroda lima. Kendaraan beroda lima? Saya mengira itu adalah pesawat terbang. Sebab pesawat terbang memiliki roda lima. Satu di depan dan empat di belakang. Benar tidaknya, entahlah.

Warnanya mirip wajah Baladewa.  Kendaraan berkaki lima ini memiliki warna mirip wajah Baladewa. Baladewa dalam cerita pewayangan adalah tokoh yang sakti. Ia adalah saudara Kresna dan Sembadra. Sebagai tokoh yang sakti, Baladewa sangat ditakuti dan dibuat tidak berdaya oleh Kresna sehingga beliau tidak memihak Kurawa melawan Pandhawa dalam perang Baratayuda. Dikatakan warnanya mirip wajah Baladewa, apa mungkin kendaraan tersebut bersinar terang atau bahkan hitam? Sebab Kresna dan Sembadra adalah tokoh dalam pewayangan yang berkulit agak gelap. Entahlah.

Bila naik berada di perut kendaraan. Perhatikan kendaraan seperti mobil, kereta api dan pesawat terbang. Penumpangnya selalu ada di dalam perut kendaraan. Berbeda dengan kendaraan jaman dulu. Mereka akan naik di punggung kuda. Jika naik delman atau kereta dan sejenisnya, masih tampak di luar. Lha ini ada di perut kendaraan.

Mobil, kereta api dan pesawat terbang jenis kendaraan modern. Tansportasi yang ada ini membuat orang bisa bergerak cepat dari satu tempat ke tempat lain. jika panas tidak terkena panas matahari. Jika terjadi hujan tidak juga kena hujan. Aman deh pokoknya.

Apakah yang dimaksud kendaraan berkaki lima dan bila naik di perut kendaraan ini pesawat terbang? Entahlah. Setelah saya mencari di internet, mobil memiliki empat roda dan pesawat terbang rata-rata memiliki lima roda.  Apa mungkin yang dimaksud dalam ramalan tersebut adalah pesawat terbang? Bisa jadi. Soalnya penumpangnya ada di perut pesawat. Coba kalau penumpangnya di luar, kan tidak bisa. Jelas sekali ramalan tersebut menunjuk pada pesawat terbang. Jenis kendaraan modern yang tidak ada di jaman ramalan Jayabaya ditulis.

Demikian, ramalan Jayabaya pupuh 121 yang terbukti benar. Selamat membaca dan ikuti lanjutan ramalan Jayabaya ini di tulisan selanjutnya. Terima kasih.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rusdi Ngarpan

Penulis Indonesiana/ Alumnus UNNES Semarang, berkarya di SMP

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua