x

Sumber foto: Deutsche Welle.

Iklan

Rezki Alvionitasari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 Agustus 2022

Jumat, 27 Oktober 2023 12:40 WIB

Kepada Perempuan Palestina, Saya Malu

Namun rasanya saya tidak bisa tenang bersenang-senang bulan ini.Karena foto-foto dan berita yang berseliweran tentang Palestina membuat saya baru tersentak dan tersentuh saat ini. Saat setelah punya anak juga. Padahal, peristiwa yang mengiris hati itu sudah terlampau lama berlangsung. Kenapa mata batin saya baru terbuka sekarang?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Baru kali ini, khusus tanggal 27, di tanggal gajian, saya menangis. Tidak seceria biasanya, di subuh hari pula. Tersedu-sedu, sesak.

Masalahnya, saya terlanjur mengikuti akun-akun yang memberitakan kondisi di Palestina. Kulihat anak-anak dari usia balita hingga yang beranjak remaja, dikafani.

Ada yang terluka; ditangani oleh perawat, darah menetes dari kepalanya. Ada yang ditemukan menangis di antara bangunan runtuh, dengan tampilan khas anak korban perang yang biasa terekam kamera; dibalut jaket atau sweater rajut, rambut acak agak ikal, serta debu tebal menutupi wajah hingga pakaiannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebagai orang tua, saat ini, saya tak bisa bayangkan kondisi ibu mereka, ayah mereka, melihat anak yang mereka sayang-sayangi selama ini, dengan mudahnya diambil kembali. Namun, itulah bedanya saya dengan saudara-saudara kita di Palestina, sungguh jauh, dalam menerima cobaan yang sedang mereka hadapi.

Dari Palestina, dan dari berita-berita yang disiarkan, tampak mereka tidak ada keberatan dalam kondisi yang sekarang. Anak-anak masih bernyanyi, ibu-ibu masih memandikan anak-anaknya, masih menutup auratnya, bagi yang Muslim. Kerudungnya tidak terseok-seok seperti saya kala mengasuh dua bocah yang sedang aktif.

Perempuan masih mengurus rumah tangga. Bahkan mendoakan suaminya. Bukannya mengutuk keadaan dan menatap kosong.

Ada pula yang gembira saat mendengar suaminya berpulang. Bukannya sedih dan hilang harapan kehilangan sosok teman hidup.

Anak muda dan ibu-ibu, kenapa tidak sakit mental? Saya saja yang melahirkan anak pertama di usia 29 tahun, depresi post partum. 'Tidak siap' diberi anugerah, hadiah, harta, yang dinanti-nanti para pasangan suami-istri. Tidak tahu merawatnya karena tidak mempersiapkannya sejak hamil.

Sebagai orang yang kadang apatis, seringkali saya juga berfokus pada masalah dengan diri sendiri, atau kalau sekarang, permasalahan rumah tangga.

Ada kebutuhan, ada soal ekonomi, mengurus anak, menjaga keharmonisan rumah tangga, serta ditambah pekerjaan kantor. Rasanya sudah luar biasa capek.

Seringkali saya mengeluhkan kondisi yang dulu saya idamkan ini dan orang lain pasti mengharapkannya. Namun sayang, saya masih kurang bersyukur, dan banyak berangan-angan tentang kesenangan.

Misalnya, liburan, belanja, menyenangkan anak, makan enak. Itu semua normal, sebagai manusia, apalagi perempuan. Saya ingin menikmati hasil kerja saya. Istilahnya, self reward dan healing.

Namun rasanya, saya tidak bisa tenang bersenang-senang bulan ini. Karena foto-foto dan berita yang berseliweran, yang saya baru tersentak dan tersentuh, setelah punya anak juga. Padahal, peristiwa yang bisa mengiris hati dan menggerakkan rasa kemanusiaan ini, sudah terlampau sangat lama.

Doa kita buat saudara-saudara di wilayah perang: semoga semua warga yang menjadi korban dapat bernapas lega, tidur pulas, dan mendapat balasan terbaik karena sudah sabar dan ikhlas menjalani skenario panjang ini.

Berikan perempuan dan anak-anak rumah, tempat tinggal, seperti yang didambakan semua orang: punya tempat berlindung yang nyaman buat mereka. Ada sandang, pangan, papan. Jadikan pemuda dan laki-laki bisa melindungi keluarga mereka dan negeri mereka.

Jadikan hati nurani kita terbuka, dan memberi dukungan untuk korban kemanusiaan ini. Demi anak-anak dan perempuan. Demi generasi, beri mereka waktu bersekolah, membayangkan masa depan mereka. Kenapa begitu tega membunuh anak-anak yang sangat lucu?

Biarkan mereka merasakan dunia yang kita rasakan. Biarkan mereka berkata seperti Chairil Anwar: aku ingin hidup seribu tahun lagi. Dan tumbuh memesona seperti W. S. Rendra, si Burung Merak.

(*)

Ikuti tulisan menarik Rezki Alvionitasari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu