x

Iklan

Afdha Firasyan

Mahasisiwa Studi Kejepangan Universitas Airlangga
Bergabung Sejak: 5 November 2023

Rabu, 8 November 2023 06:34 WIB

Danjyo Kankei: Hubungan antara Pria dan Wanita di Jepang dalam Rumah Tangga dan Masyarakat

Jepang terkenal menjadi salah satu tempat dengan kualitas kesetaraan gender terburuk di dunia. Di Jepang kesenjangan antar gender masih erihat dengan sangat jelas khususnya di tempat kerja. Di Jepang hubungan antara pria dan wanita ini disebut sebagai danjyo Kankei.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Akhir akhir ini banyak sekali isu isu sosial yang mulai disadari dan dibicarakan oleh masyarakat. Isu isu yang dimaksud bisa seperti isu penyakit mental, rasial, agama, seksualitas, dan salah satunya adalah kesetaraan gender. Isu kesetaraan gender sudah menjadi pembicaraan oleh Masyarakat khususnya oleh kaum wanita. Para wanita ini menuntut untuk diperlakukan sama oleh kaum pria. Hal ini terjadi karena para wanita seringkali mendapat diskriminasi di masyarakat, tempat kerja, bahkan di dalam rumah tangga. Mereka seringkali dianggap lebih inferior ketimbang para pria dan akhirnya dipelakukan berbeda dari pria.

Gerakan kesetaraan gender ini sudah terjadi, di manapun perempuan merasa didiskriminasi. Dari semua tempat itu salah satunya adalah Jepang. Jepang sudah terkenal menjadi salah satu tempat dengan kualitas kesetaraan gender terburuk di dunia. Di Jepang kesenjangan antar gender masih erihat dengan sangat jelas khususnya di tempat kerja.

Bukan hanya itu, di Jepang juga marak terjadi kasus pelecehan yang sangat merugikan kaum wanita. Pemerintah Jepang sudah berusaha sangat keras mengatasi masalah ini. Di Jepang hubungan antara pria dan wanita ini disebut sebagai danjyo Kankei.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Danjyo kankei terdiri dari kanji otoko「男」dan kanji onna「女」dan kata kankei「関係」yang berarti ikatan atau hubungan. Jadi Danjyo Kankei adalah sebuah istilah yang mengkaji hubungan antara laki laki dengan Perempuan. Dalam sejarah, hubungan laki laki dan wanita di masyarakat Jepang sering berubah mengikuti sistem sosial yang dominan pada masa itu. Dibandingkan dengan negara barat, Jepang masih terlampau jauh dalam hal menempatkan posisi sosial wanita pada tingkatan sosial yang sama bersama dengan pria. Semua ini dimulai ketika diciptakannya sistem ie yang dimana sistem ini cenderung membuat laki laki menjadi sosok yang dominan di rumah tangga.

Ie adalah sebuah konsep yang mengatur kehidupan rumah tangga di Jepang. Dalam sistem ini masih sangat kental dengan unsur patriarki yang menguasai rrumah tangga. Biasanya keluarga Jepang dalam system ie terdiri dari: Kakek, Nenek, Putra, istri, dan anak anak. Dalam rumah tangga tradisional Jepang, Putra sulung yang akan mewarisi properti rumah dan bertanggung jawab untuk merawat kedua orang tuanya ketika sudah menginjak usia tua. Selain itu putra sulung juga diharapkan untuk tetap tinggal bersama kedua orang tua hingga menginjak usia dewasa. Hal ini dilakukan karena banyak yang percaya bahwa sudah menjadi tugas seorang pria untuk berbakti, menjaga, dan merawat kedua orang tua hingga akhir hayat mereka. Di dalam sistem ie wanita hanya tinggal di rumah dan berperan sebagai ibu rumah tangga dan pengasuh dari anak anak sedangkan sang suami pergi bekerja untuk menafkahi keluarga.

Sistem keluarga ie sangat popular pada zaman edo yaitu sekitar abad 17 sampai dengan abad 19. Dan sistem merupakan standar untuk keluarga di Jepang yang diatur oleh pemerintahan Jepang saat itu. Namun setelah perang dunia kedua berakhir Jepang mulai merevisi dasar konstitusi negaranya dan pada masa itu sistem keluarga ie juga mulai ditinggalkan dan Keluarga di Jepang mulai menganut system keluarga inti yang lumrrah dilakukan oleh masyarakat di dunia. Suami tidak lagi tinggal bersama orang tua hingga dewasa dan para wanita juga mulai ikut bekerja untuk menafkahi keluarganya. Dan kabarnya sekarang sedang mulai popular konsep ayah rumah tangga yang merupakan kebalikan dari system keluaga tradisional yang dimana sekarang sang ayah lah yang ada di rumah dan istri yang pergi bekerja.

Jika dilihat dari sisi danjyo kankei, sistem ie memang sangat menitikberatkan peran penting kepada kaum pria dan wanita hanya diberi tugas yang tidak cukup penting dan menonjol di dalam keluarga. Semua keputusan permasalahan dalam keluarga sepenuhnya ditentukan oleh sang suami berbeda dengan zaman sekarang yang biasanya melibatkan keputusan bersama antara suami dan istri. Ini tentunya sangat merugikan kaum wanita saat itu yang akan merasa tersisikan dan merasa tidak punya hak untuk mengambil keputusan. Dan sekarang dengan dihapuskannya sistem ie, wanita bisa punya kesempatan untuk setara dengan para pria di dalam rumah tangga.

              Masih dalam konteks pernikahan, pasangan Jepang pada zaman dahulu terbiasa menikah dengan jalur perjodohan atau dalam Bahasa jepang disebut dengan “omiai”. Biasanya pernikahan omiai di selenggarakan oleh orang tua dari calon pasangan. Kedua belah pihak akan mengadakan pertemuan dan saling mengenalkan satu sama lain. Kegiatan ini bisa dibilang sebagai upacara formal dan akan ditanggapi dengan serius oleh kedua belah pihak. Tak jarang juga pernikahan omiai punya tujuan politik ketimbang mempererat keluarga. Banyak penikahan omiai bertujuan untuk menyatukan klan atau kelompok yang awalnya bermusuhan agar bisa berdamai. Namun setelah perang dunia kedua berakhir, banyak Masyarakat jepang yang mulai meninggalkan pernikahan omiai. Masyarakat Jepang lebih suka untuk mmenikahi seseorang yang mereka sukai tanpa campur tangan orang lain. Banyak yang menyebut pernikahan ini sebagai “pernikahan cinta” karena pernikahan ini muncul murni dari perasaan kedua pasangan. Ini disebabkan oleh masuknya budaya barat yang mementingkan kepentingan individu ketimbang orang lain.

              Di zaman modern ini, orang Jepang sebenarnya sudah sangat jarang unuk menikah. Banyak dari mereka yang lebih mementingkan karir daripada berkeluarga. Hal ini disebabkan oleh perubahan zaman dan tatanan masyarakat yang mulai dipengaruhi oleh budaya kerja dari barat. Hal ini menyebabkan turunnya jumlah populasi di Jepang yang sudah menjadi masalah besar hingga saat ini. Dan walaupun ada yang menikah mereka hanya menganggap pernikahan sebagai kontrak biasa. Karena hanya dianggap sebagai kontrak biasa banyak sekali wanita yang menceraikan suaminya ketika mereka menginjak usia pensiun. Hal ini terjadi karena mereka menganggap mereka sudah selesai menjalankan tugas mereka sebagai istri.

              Hubungan antara wanita dan pria di Jepang tidak hanya bisa dilihat dari sudut pernikahan atau rumah tangga saja. Kita juga dapat melihat hal ini di dalam konteks kehidupan di masyarakat. Jika diandingkan dengan negara barat, kedudukan wanitta di Jepang masih tergolong sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh besarnya pengaruh konfusianisme yang masih melekat di dalam kehidupan masyarakat Jepang. Dalam konfusianisme diajarkan bahwa seorang wanita harus taat kepada ayahnya, ketika dewasa kepada suaminya, dan ketika usia tua kepada anak laki lakinya. Hal ini lah yang membuat masyarakat Jepang mempunyai pola pikir patriarki. Di tempat kerja Wanita juga kerap mengalami diskriminasi seperti contohnya upah wanita bisa dibbilang jauh lebih kecil dari upah pria. Tak hanya itu juga banyak sekali wanita yang kerap menjadi korban pelecehan di tempat kerja..

              Dari pernyataan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa Jepang bukanlah negara yang sempurna saperti yang orang orang katakan, Isu sosial seperti sudah menjadi hal yang menggangu Masyarakat Jepang secara keseluruan dan pemerintah setempat juga sudah berupaya untuk menanggulanginya. Dan jika dibaningkan dengan 50 taun lalu keadaan di zaman sekararng memang sudah lebih baik dari sebelumnya,

Ikuti tulisan menarik Afdha Firasyan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB