Amsal Tiang Bernyawa

Selasa, 2 Januari 2024 19:29 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kami membentuk lingkaran. Perempuan, laki-laki, muda-mudi, anak-anak. Syair bete lala dinyanyikan, muti funan, uhhhh palate (menghentakkan kaki) dipadukan tarian tebe sebagai buah kedamaian dan persaudaraan. Bahwa persembahan untukmu adalah jejak napas kami. Sambil menggendong ayam-ayam jantan dan betina, seraya menyebut namaMu - Silivester Kiik (2024).

Sebuah tiang bercabang tiga di samping rumah kehidupan
berdiri tegar dengan simbol-simbolnya
tak luntur dipeluk musim dan waktu.

Matahari adalah pencipta
tanah adalah pemberi makanan
air adalah darah-darahnya
lembah dan bukit-bukit adalah sayap-sayapMu.

Batu-batu karang penerjemah pesan-pesan pada leluhur
menumpuk mengelilinginya
sebagai jembatan tetesan-tetesan syukur
untuk meminta panas dan hujan
sebab benih-benih padi, jagung dan kacang-kacang
telah siap untuk ditanam.

Kami membentuk lingkaran
perempuan, laki-laki, muda-mudi, anak-anak
syair bete lala… dinyanyikan 
muti funan
uhhhh palate… (menghentakkan kaki)
dipadukan tarian tebe
sebagai buah kedamaian dan persaudaraan
bahwa persembahan untukmu adalah jejak napas kami.

Sirih-pinang menandai dahi kami
dalam nama yang menghidupkan lidah kami
dalam darah yang mempertemukan nyawa kami.

Kini para ibu telah menanam untuk tahun ini
hasil panennya dipersembahkan pada anak cucuMu
yang polos berdiri di hadapanMu
sambil menggendong ayam-ayam jantan dan betina
seraya menyebut namaMu. 

Oh, usi! 
amoet apakaet.

Atambua, 02 Januari 2024

Bagikan Artikel Ini
img-content
Silivester Kiik

Penulis Indonesiana.id, Guru, Penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, dan Pengurus FTBM Kabupaten Belu. Tinggal di Kota Perbatasan RI-Timor Leste (Atambua).

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler