Kor Koa Ahanas Neno , Apeut Faia (Burung Koak Pemanggil Hari, Penidur Malam)

Selasa, 12 Maret 2024 07:02 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Na sen ten sa neken au nan hanaf-hanaf ia, hateket moin tabua nabar uim mese ma ni mese - Silivester Kiik (2024)

: Suara Kehidupan dari Suku Bikoa

Han nan ham roan//Suaranya memohon sedih,

Nateutok ma nabuan paha//Mengangkat dan melihat alam semesta,

Neon ia nok fai ia//Hari ini dan malam ini,

Hit matak nok hit humak namtis//Kita bermata dan bermuka lengkap. 

 

Ho asa mubeat kai//Engkaulah yang membangunkan kami

Ho asa munaob kai//Engkaulah yang menjalankan kami

Teket teak tan ho kan’ma//Seraya menyebut namamu,

Na be nai unu sin sa a bot nok ahonit//Kepada kakek nenek dahulu para leluhur yang telah melimpahkan dan melahirkan. 

 

Ho han ma nek tona neamen//Suaramu membawa tahun datang lagi,

Hai han minin mof natuin neon nok fai’a//Suara-suara kami jatuh barsama hari dan malam

Tok ma mek mimnau//Duduk sambil merenung,

Na sen ten sa neken au nan hanaf-hanaf ia//Kepada siapa lagi yang akan merangkul kata-kata ini

Hateket moin tabua nabar uim mese ma ni mese//Untuk hidup bersama dalam satu rumah dan satu tiang.

 

O Uis Neno, aup man kai mek ho kan Ma//Ya Tuhan, lindungi kami dengan nama-MU

Mekem fe kai oe manikin ma oe honis mek mibeat ho han Ma//Berilah kami air berkat dan kehidupan untuk membangunkan suara-Mu,

Nabar oe ru’u, uim re’u, uim ahoin’ta//Dalam air pemali, rumah pemali, rumah kehidupan.

 

Atambua, 11 Januari 2022

Suku Bikoa adalah salah satu suku yang terletak di Desa Tunmat, Kecamatan Io Kufeu, Kabupaten Malaka – NTT. Suku ini mempercayai burung koak sebagai lambang sukunya. Bagi suku ini, burung koak sangat pemali dipegang atau dikonsumsi. Jika dipegang atau dikonsumsi, maka akan terkena penyakit gatal-gatal dan bernanah di seluruh tubuhnya. Sangat disayangkan karena jumlah dari burung koak ini sudah terbatas bahkan telah hilang. Hal ini akibatkan oleh ulah tangan-tangan manusia berdosa yang tidak bertanggungjawab dan tidak mencintai alam dan kehidupannya.   

TENTANG PENULIS

Silivester Kiik, lahir di Haeneno, Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka, 14 September 1987. Penulis adalah anak bungsu dari enam bersaudara pasangan Bapak Hendrikus Tesi dan Ibu Elisabeth Bena. Karya antara lain buku antologi puisi dan buku pendidikan: “Amor (2020); DEBU dan Sebuah Pesan yang Belum Sempat Terbaca Oleh Rembulan (2020); Menabur Matahari (2020); INOVASI PEMBELAJARAN GEOGRAFI ZAMAN NOW (Suatu Penerapan dalam Model Pembelajaran Outdoor Study, Gaya Belajar, dan Kemampuan Berpikir Spasial Siswa) (2020); buku yang sedang Anda genggam ini Gadis-Gadis Sutra yang Membawa Selendang Melarikan Diri Mencari Kesunyian (2022)” dan beberapa buku lainnya dalam proses penerbitan.

Puisi lainnya mengisi antologi bersama nasional dan regional diantaranya: “Sepotong Hati yang Terluka (2018); Tetes Embun Masa Lalu (2018); Seutas Memori dalam Aksara (2018); Warna-Warni Aksara (Jilid II) (2018); Laki- Laki Perkasa yang Tak Pernah Menangis (2018); Diam yang Bersuara (2018); Prelude (2019); Romantisme Perahu Kertas (2019); Montase Kenangan (2019); Berapi (2019), Pucuk- Pucuk Harapan (2019); Bercengkerama di Musim Rindu (2019); Topeng Jiwa (2019); Sepasang Tangan yang Terpasung (2019); Sajak-Sajak Penaku dan yang Bersemayam dalam Diri (2019); Segelintir Kesucian (2019); Selamat Datang Mas Nadiem: Gagasan Literasi Maju untuk Menteri Baru) (2019); Menyalibkan Cemburu (2020); HIDUP ITU PUISI dan Sajak- Sajak yang Terlempar di Tengah Kampung (2020); Rumah Sebuah Buku (2020); Seribu Suara Warna-Puisi Pendidikan dan Literasi Media Guru-Gurusiana (2020); Corona- Penyair Indonesia Mencatat Peristiwa Negeri-Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia VIII (2020); Tadarus Puisi IV-Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (2020); Sampah-Puisi Penyair Indonesia (2020); Seruling Sunyi untuk Mama Bumi (2020); Gembok-Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia IX-Penyair Indonesia (2021); Asu-Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2021-Penyair Indonesia (2021); dan lainnya.

Karya-karya lain berupa opini juga hadir melalui media cetak maupun online (jendelasastra.com; kaskus.co.id; indonesiana.id; kabarindonesia.com; tulis.me; fianosa.com; ruangsekolah.net; nusantaranews.co; storial.co; gurusiana.id; writing.com; gurumenulis.com; ayokesekolah.com; hipwee.com; literanesia.com; allpoetry.com; penana.com; instastori.com; novelme.com; gramedia writing project.com; wattpad.com; idntimes.com; kompasiana.com; berita.baca.co.id;poetry.com; www.bukuin.press; dan lainnya).

Pada tahun 2020, penulis mengikuti kegiatan Magang Pegiat Literasi Kemdikbud. Penulis juga pernah menjuarai beberapa lomba antologi puisi maupun lomba opini. Selain itu, penulis bersama teman-teman penggiat Relawan Literasi Belu mendirikan sebuah komunitas literasi yang dinamakan dengan “Komunitas Pensil”. Komunitas ini terbentuk dengan tujuan memberikan nuansa baru dalam menumbuh dan mengembangkan kreativitas dan minat baca anak-anak di wilayah perbatasan Kabupaten Belu-NTT dengan menyediakan bahan-bahan bacaan. Penulis juga mendirikan komunitas menulis bagi kaum muda yakni “Komunitas Sahabat Pena Likurai” dan “Komunitas Sabana”. Komunitas-komunitas ini telah menghasilkan beberapa buku antologi puisi. Beberapa anggota aktif telah menerbitkan buku antologi karya mereka sendiri. Semoga ke depannya para generasi muda semakin dipupuki semangatnya untuk tumbuh subur dalam berkarya. Saat ini penulis tinggal di Kota Perbatasan RI-RDTL (Atambua-Timor-NTT).

Penulis dapat dihubungi melalui via:

Email: kiiksilivester@gmail.com

geographicaoflove@gmail.com

Instagram: @silivester_kiik

@pena_likurai

Twitter: @kiik_silivester

Linkedin: @silivester-kiik

Facebook: @Silivester Kiik, @Penyair dan Penggiat Literasi

Lokal; @Pena Likurai; @Komunitas Sahabat Pena Likurai.

 

Puisi ini termuat dalam Buku Antologi Puisi Gembok-Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia IX-Penyair Indonesia (2021) 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Silivester Kiik

Penulis Indonesiana.id, Guru, Penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, dan Pengurus FTBM Kabupaten Belu. Tinggal di Kota Perbatasan RI-Timor Leste (Atambua).

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua