x

Ilustrasi massa. Gambar oleh Steve Watts dari Pixabay

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 23 Maret 2024 17:09 WIB

Bersiaplah Rakyat Berjuang Sendiri Lagi

Upaya membujuk elite dan partai politik pengusung Anies terus berlangsung. Nasdem dan PKB jadi target. Apabila skenario ‘koalisi besar’ benar-benar terwujud, maka oposisi hanya minoritas pelengkap yang tidak mampu mengimbangi pemerintah. Rakyat tak bisa berharap banyak kepada kaum elite kekuasaan maupun partai politik. Mereka asyik menjaga kepentingan masing-masing.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Arah politik bangsa ini belum terang-benderang, akankah partai-partai pengusung pasangan capres yang menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak unggul dalam pilpres akan memilih berada di luar pemerintahan atau bergabung dalam kabinet ‘gotong royong’ Prabowo Subianto. Suara PDI-P, yang semula gegap gempita akan jadi oposisi, kini relatif sunyi. Suara lantang yang ingin mengajukan hak angket juga kendor. Apa yang sedang terjadi? Gamang?

Sepertinya sejenis kegamangan tengah melanda elite politik di luar kubu Prabowo. Bujukan untuk mengakui kemenangan Prabowo dan bergabung dalam pemerintahannya kelihatan sedang gencar dilakukan. Surya Paloh, promotor Anies Baswedan, sudah mengucapkan selamat atas kemenangan Prabowo. Bahkan, Prabowo pun telah mengunjungi markas Nasdem dan disambut Surya. Kesan bahwa sikap Surya melunak jadi sulit dihindari.

Hanya mereka berdua yang benar-benar tahu apa sesungguhnya yang mereka bicarakan dan apa kesimpulannya. Di luar, rakyat bertanya-tanya apakah Surya tak lagi sanggup menyokong Anies dengan mengusung hak angket di parlemen maupun maju ke Mahkamah Konstitusi, ataukah sambutan Paloh itu merupakan ungkapan basa-basi politik yang tetap perlu dijaga, sehingga apabila situasi tidak lagi menguntungkan, ia dapat berlabuh dengan aman ke pelabuhan manapun.  

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di saat-saat kritis seperti sekarang ini, walaupun KPU sudah menyatakan pasangan Prabowo-Gibran unggul dalam pilpres, namun legalitas kemenangan masih harus menunggu putusan Mahkamah Konstitusi. Kubu pasangan capres Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud sudah mengajukan gugatan ke MK dan proses persidagan akan berjalan tidak lama lagi. Entah apa keputusan yang akan dihasilkan para hakim MK, dan keputusan inilah yang akan memengaruhi pilihan-pilihan politik elite pengusung Anies-Muhaimin maupun Ganjar-Mahfud.

Sebelum kunjungan Prabowo ke Surya Paloh, beberapa waktu lalu Jokowi mengundang Paloh ke istana, Ahad, 18 Februari—artinya hanya 4 hari setelah pemberian suara berlangsung. Lagi-lagi, hanya mereka berdua yang tahu persis apa yang mereka bicarakan dan apa kesimpulannya. Nah, apakah kunjungan Prabowo ini merupakan tindak lanjut (follow-up) pertemuan di istana tersebut?

Gerilya untuk membujuk pendukung Anies tampaknya berlangsung relatif cepat. Ketika elite partai politik terlihat ragu-ragu meneruskan pengajuan hak angket, maka ikhtiar untuk memengaruhi mereka terus berlangsung. PDI-P tidak terdengar jelas apa langkah konkretnya terkait hak angket. Ini membuat desas-desus terdengar santer bahwa pengusung Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud akan pretel satu per satu, apa lagi PPP tidak lolos ke Senayan yang berarti tidak ada dukungan suara dari PPP di gedung parlemen.

PKB pun diusik dan digoda agar melunakkan sikapnya. Setelah dipanggil oleh Presiden, dua orang menteri asal PKB mengatakan kepada jurnalis bahwa Presiden Jokowi titip salam kepada Muhaimin. Apa maknanya? Begitulah, kegemaran politikus bermain teka-teki tetap saja berlanjut, yang membuat rakyat banyak tidak tahu mana yang nyata dan mana yang semu. Apakah PKB juga akan tergoda untuk bergabung ke dalam pemerintahan Prabowo?

Megawati dan Puan Maharani pun tidak terdengar suaranya, sehingga santer diberitakan di media massa bahwa sudah berlangsung ‘omon-omon’ antara Puan dan Gibran. Lagi-lagi, hanya mereka berdua yang tahu apakah pertemuan itu memang berlangsung dan apa isi pembicaraannya ataukah pertemuan itu hanya gosip politik semata.

Berbagai gejala yang seolah-olah tidak berkaitan itu sangat boleh jadi berhubungan satu sama lain. Bagi rakyat yang berada di luar arena permainan, gejala-gejala itu masih terlihat samar. Namun yang samar itu nanti akan terlihat semakin jelas, namun baru pada saat itulah rakyat mengerti apa sesungguhnya yang telah berlangsung. Rakyat dibuat baru menyadari perkembangan keadaan justru ketika elite politik sudah kompak membentuk apa yang disebut-sebut ‘koalisi besar’.

Apabila PDI-P tidak berhasil dibujuk untuk bergabung dalam skenario ‘koalisi besar’ karena ada Jokowi di dalamnya, maka partai ini mungkin ditinggalkan di luar pemerintahan bersama PKS. Dan tanpa partai politik, entah peran apa yang dapat dimainkan oleh Anies Baswedan yang saat ini juga santer diisukan telah ditawari untuk menjadi menteri dalam kabinet Prabowo. Akankah Anies juga akan terbujuk?

Sekali lagi, apabila skenario ‘koalisi besar’ benar-benar terwujud, maka oposisi hanya minoritas pelengkap yang tidak mampu mengimbangi pemerintah. Akhirnya, rakyat harus kembali memperjuangkan sendiri masa depannya. Rakyat tak bisa berharap banyak kepada kaum elite kekuasaan maupun partai politik. Mereka asyik dengan kepentingan masing-masing. >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan