x

pakaian adat bali

Iklan

Mpu Jaya Prema, mantan jurnalis yg menyepi di G Batukaru, Bali

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 13 Mei 2024 14:27 WIB

Ada Bulan ke 13 di Tahun Saka

Kalender Saka versi Nusantara yang dipakai di Bali ternyata punya bulan ke 13. Adaptasi ini dimaksudkan agar nama-nama bulan tidak beranjak dari musim yang ada dalam kalender Masehi. Jadi tak mungkin Hari Raya Nyepi bersamaan dengan Tahun Baru Masehi atau Hari Raya Natal, misalnya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ada Bulan ke 13 di Tahun Saka

Oleh Mpu Jaya Prema

Tahun Saka versi Nusantara yang dipakai acuan masyarakat Hindu, terutama sekali di Bali, ternyata punya bulan atau yang biasa disebut sasih ke 13. Ini adalah bulan tambahan yang disebut dengan istilah nampih sasih. Nampih itu berarti bertumpuk, jadi ada dua nama bulan yang ditumpuk atau dobel. Cuma yang satu tetap memakai nama bulan yang resmi, yang “menumpuk” diberi tambahan kata mala. Tidak setiap tahun hal ini terjadi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Itulah yang dijumpai saat ini. Bulan ke 12 ini disebut Sasih Sadha. Purnama Sadha akan berlangsung pada 22 Mei nanti. Lalu bulan mati yang disebut Tilem Sadha jatuh pada tanggal 6 Juni. Karena Sadha adalah bulan yang ditumpuk maka setelah Tilem atau tanggal 6 Juni kita belum memasuki bulan pertama atau Sasih Kasa. Kita memasuki bulan ke 13 yang dinamai Sasih Mala Sadha. Arti arfiah kata mala ini adalah buruk, bulan atau sasih yang tidak baik. Namanya saja bulan tambahan.

Kenapa kalender Saka yang dipakai di Bali ada kekecualian dengan istilah nampih sasih? Satu-satunya sistem kalender yang ada di dunia di mana ada bulan ke 13. Mari saya infokan seadanya.

Kalender yang ada di dunia punya dua sistem sebagai penghitung peredaran waktu. Yang pertama, sistem kalender dengan menghitung waktu berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari. Ini disebut Surya Premana atau dalam bahasa internasional solar system. Yang kedua, kalender dengan menghitung waktu berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Ini disebut Chandra Premana atau bahasa internasionalnya lunar system. Bulan dan bumi itu adalah planet yang berputar sesuai rotasinya yang tetap. Perputaran waktu itu berbeda jarak tempuhnya dan berbeda pula durasi putarnya.

Bumi mengelilingi matahari selama 365,5 hari dalam satu putaran yang dijadikan bilangan setahun. Dibulatkan menjadi 366 hari dengan catatan setiap 4 tahun ada tambahan satu hari. Itu sebabnya ada tanggal 29 Februari di tahun kabisat. Sedangkan bulan mengelilingi bumi dalam setahun selama 354, 6 hari. Kalau dibulatkan jadi 355 hari. Jika keduanya diperbandingkan, antara Surya Premana dan Chandra Premana maka ada selisih 10 atau 11 hari dalam setahun. Sistem Chandra lebih lambat.

Kalender yang berdasarkan Surya Premana ditetapkan oleh dunia internasional sebagai kalender yang dijadikan pedoman. Kalender ini lebih dikenal sebagai kalender tahun masehi. Sementara kalender dengan sistem Chandra Premana dipakai oleh banyak komunitas yang umumnya berdasarkan agama dan budaya. Umat Islam, Hindu, Buddha dan mungkin ada yang lain memakai Chandra Premana dengan nama bulan yang berbeda-beda namanya.

Sejatinya, kalender yang dipakai umat Islam yang disebut kalender Hijrah adalah sama dengan kalender Saka yakni sistem Chandra Premana. Tapi kalender Hijrah tak ada nampih sasih. Nama-nama bulan seperti Ramadan, Syawal dan lainnya tak pernah dobel dalam setahun. Tak ada misalnya Mala Ramadan. Itu sebabnya hari raya umat Islam seperti Idul Fitri, Idup Adha, Tahun Baru Hijrah dan seterusnya, selalu maju setiap tahun jika diperbandingkan dengan kalender Masehi. Sedangkan hari raya Hindu yang memakai pedoman sasih, seperti Nyepi dan Siwaratri tak pernah bergeser jauh dari bulan Masehi. Nyepi selalu di bulan Maret atau awal bulan April, tak pernah sekali pun bergeser ke bulan Februari atau Mei. Begitu pula Siwaratri selalu di bulan Januari. Kenapa bisa begitu? Karena secara berkala, setiap 2 atau 3 tahun ada bulan yang didobelkan yang disebut nampih sasih itu.

Bagaimana sejarahnya? Ini menyangkut sejarah kehidupan manusia di mana kalender itu dipakai oleh komunitas tertentu. Kalender Hijrah lahir di Arab Saudi sebagai peringatan pertanda hijrahnya Nabi Muhamad dari Mekah ke Madinah. Tidak ada kaitannya dengan alam semesta. Sedangkan kalender Saka dikaitkan dengan alam semesta dan terutama musim. Bagaimana memadukan nama-nama sasih yang harus selalu seirama dengan musim? Masalahnya komunitas yang memakainya adalah  masyarakat agraris.

Misalnya, bulan pertama disebut Sasih Kasa dimulai dengan musim buah-buahan dengan udara yang mulai dingin. Sasih Karo, bulan kedua, disebut sebagai puncaknya dingin, matahari terik dan kemarau karena buah kopi sedang dijemur. Sasih Ketiga masih dingin dan bunga mulai mekar. Sasih Kapat mulai pancaroba, karena bunga banyak mekar maka hari yang baik untuk persembahyangan agama. Sasih Kelima, siap-siap turun ke sawah. Sasih Keenam, Kepitu, Kewulu mulai menanam padi. Sasih Kesanga mulai banyak kotoran, baik kotoran phisik mau pun rohani, maka kita mulai melakukan instrospeksi dengan ditutup hari suci Nyepi. Sasih Kedasa dan seterusnya semuanya kembali bersih.

Berdasarkan nama-nama bulan itu pula kegiatan keseharian dan kegiatan keagamaan dipadukan dan disesuaikan dengan keharmonisan alam semesta. Bulan apa saat harus menanam padi, kapan harus panen, semua diatur dengan sistem subak. Pembagian aturan itu disebut kerta masa. Dalam penelitian modern sistem kerta masa ini sangat baik untuk membasmi hama dan kesuburan tanaman. Jadi tidak ada di sawah ini orang menanam padi, di sawah sebelahnya menjemur kopi atau menanam palawija. Hama sulit diberantas.

Kenapa nampih sasih selalu terjadi pada bulan-bulan akhir, yaitu Jiesta dan Sadha? Dua tahun lalu (2022) pada Sasih Jiesta, sekarang pada Sasih Sadha. Karena ini bulan tambahan, dipilih pada bulan-bulan akhir. Pedoman ini sudah didokumentasikan dalam Lontar Purwaning Wariga. Dalam lontar ini diuraikan pedoman kapan nampih sasih itu terjadi dan kapan di bulan Jiesta dan kapan di bulan Sadha.

Caranya dengan melihat dulu bilangan tahun saka itu, lalu dibagi 19. Kalau hasil pembagian itu ada sisa 3, 8, 14 dan 16 maka nampih sasih terjadi di Sasih Sadha (bulan ke 12). Sedangkan jika sisa ada 6, 11 dan 19 nampih sasih di Sasih Jiesta (bulan ke 11). Tahun Masehi 2022 lalu, tahun sakanya 1944. Kalau ini dibagi 19 dapat angka 102 dengan sisa 6. Maka nampih sasih itu jatuh pada Jiesta. Sedangkan tahun2024 Masehi ini tahun sakanya 1946 dan kalau dibagi 19 dapat angka 102 dengan sisa 8. Nah, sisa 8 itu berarti nampih sasih di Sadha. Kalau bilangan tahun saka dibagi 19 tak ada sisa berarti tidak ada nampih sasih.

Dari mana angka pembagi 19 itu? Rupanya leluhur di zaman dulu sudah berhitung bahwa posisi bulan di cakrawala akan kembali ke tempatnya semula dalam kurun waktu 19 tahun matahari. Ini penelitian astronomis yang sangat akurat dan canggih.

Kebetulan pula di sasih Jiesta dan Sadha yang dipakai untuk nampih sasih memang tidak baik untuk berbagai keperluan ritual keagamaan. Untuk ritual perkawinan, misalnya, banyak yang menghindari di kedua sasih itu. Ritual perkawinan di Sasih Jiesta disebut kaherangan, hidupnya selalu dalam keadaan “panas”, artinya kurang adem. Perkawinan di Sasih Sadha disebut kegeringan, hidupnya sakit-sakitan. Nah, Jiesta dan Sadha yang normal saja tak baik untuk ritual perkawinan, apalagi memakai tambahan mala.

Demikian sekilas tentang kearifan leluhur kita di masa lalu dalam menentukan kalender Saka versi Nusantara, memadukan ilmu astronomi, musim, dan kegiatan masyarakat agraris. Bagaimana menyelaraskan antara tahun candra dan tahun surya secara ilmiah dan mengharmoniskan dengan alam semesta. Sekaligus menjawab banyak pertanyaan umat non-Hindu apakah mungkin terjadi Tahun Baru Masehi bersamaan dengan Hari Raya Nyepi sehingga pawai ogoh-ogoh lebih ramai. Itu sesuatu yang mustahil. Kalau Natal bersamaan atau berhampiran dengan Idul Fitri bisa saja terjadi, tetapi Nyepi dan Natal tak mungkin berdekatan. Salam bahagia. ***

Ikuti tulisan menarik Mpu Jaya Prema, mantan jurnalis yg menyepi di G Batukaru, Bali lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini