x

Foto: Pipit Uke.

Iklan

purwanto setiadi

...wartawan, penggemar musik, dan pengguna sepeda yang telah ke sana kemari tapi belum ke semua tempat.
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 22 Mei 2024 14:44 WIB

Tehsiewdai

Seorang YouTuber tentang transportasi perkotaan dari Singapura bertamu dan mencoba bersepeda di Jakarta. Sebuah monolog tuan rumah setelahnya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sangat jarang saya meninggalkan rumah persis setelah subuh. Akhir pekan lalu adalah perkecualian lagi. Penyebabnya, kali ini: tehsiewdai.

Itu bukan rapalan mantra; itu juga bukan kata sandi. Itu nama handler akun YouTube. Nama sebenarnya, paling tidak yang disebutkan pemiliknya tatkala memperkenalkan diri melalui pesan WhatsApp, adalah Vareck Ng. “I’m...the guy who runs the transportation YouTube channel,” katanya.

Melalui WhatsApp itu, dua pekan yang lalu, dia mengabarkan akan ke Indonesia dan, kepada Bike to Work (B2W) Indonesia, minta dibantu untuk bisa merasakan bersepeda di Jakarta. “Kabari saya kalau Anda berminat untuk ketemu sambil minum teh!”

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kenapa bersepeda? Sebab, sejak mulai pandemi, anak muda yang bekerja di bidang keamanan data itu juga serius menaruh perhatian pada transportasi perkotaan, khususnya bagaimana menjadikan sepeda sebagai sarana mobilitas sehari-hari, dan urbanisme. Bukti kesungguhannya adalah channel YouTube-nya, yang mulai menayangkan konten video pada 25 Januari 2021. Berkaitan dengan itu, Jakarta merupakan obyek yang menarik baginya. Sebelum ke Jakarta, dia telah lebih dulu ke Kuala Lumpur dan Penang.

Saya sudah sejak tahun lalu mengetahui channel itu. Saya bahkan memutuskan menjadi salah satu dari 13 ribu subscriber-nya. Dulu ia direkomendasikan oleh YouTube, mungkin karena algoritmanya mencatat kunjungan dan durasi waktu yang saya habiskan untuk menonton video-video yang berkaitan dengan sepeda, sepeda sebagai sarana transportasi, dan urbanisme. Dibandingkan dengan channel yang berfokus pada topik serupa yang saya ikuti, ada elemen lokal yang menjadikan channel-nya patut disimak.

Membayangkan kesempatan untuk bisa bertemu dengan pemilik channel yang menurut saya menarik itu, saya tanpa ragu sedikit pun mengiyakan permintaan tersebut. Saya balas pesannya, “I’d be delighted to meet with you in Jakarta. And, yes, we can have a nice chat over…a cup of teh. Just let me know when you will be arriving.”

Kami lalu bertukar pesan untuk mengatur pertemuan dan rencana bersepedanya. Pada malam kedatangannya, Jumat malam yang lalu, saya kirimkan pesan: “I hope you had a wonderful flight this evening and look forward to the bike ride tomorrow.”

Di trotoar di depan hotel tempatnya menginap, saat saya dan beberapa teman menjemput, dia menyapa kami dengan muka berseri-seri. Rupanya dia benar-benar “look forward” untuk bisa melihat dan merasakan sebagian Jakarta dengan bersepeda. Ada antusiasme. Sebelum memulai trip, saya beritahukan bahwa rute yang saya usulkan bisa menghabiskan waktu dua jam. “Bukan masalah buat saya,” katanya.

Dalam perjalanan, dia terlihat prigel menghadapi kondisi jalan yang sebetulnya menghadapkan banyak bahaya, bahkan sesekali mengeluarkan ponselnya untuk mengambil footage. Ketika kami akhirnya rehat di satu kopitiam di Jalan Sabang, dalam perjalanan kembali ke hotelnya, sewaktu kami mengobrol, saya tanya dia bagaimana penerimaan publik Singapura terhadap channel-nya. Dia bilang, “Mereka syok. Tapi mereka tidak bisa lagi tidak melihat apa yang sudah telanjur tampak.”

Menurut dia, walau Singapura memiliki prasarana bersepeda yang tergolong baik, menggunakan sepeda untuk mobilitas sehari-hari bukanlah pilihan bagi warga pada umumnya. Pelayanan dan kondisi angkutan umum yang kelewat baik adalah salah satu faktor penyebabnya. Faktor yang lain erat kaitannya dengan pola pikir bahwa memiliki mobil, atau kendaraan bermotor, berguna untuk mengatrol gengsi atau status sosial. 

Tetapi mempersoalkan hal itu, yang sebetulnya merupakan isu sehari-hari, di sana, jadi bermuatan atau menyerempet wilayah politik--karena bersuara. Tersebab oleh itulah, terutama di media sosial, Vareck pun tak bisa mengelakkan diri dari “serangan balik” kalangan yang menganggap konten yang dia buat kelewat berani mengusik status quo.

“Itu memang tantangannya, buat saya,” katanya. “Karenanya, saya tidak merasa harus menghentikan apa yang saya kerjakan sejauh ini.”

Dia mengaku senang bisa membuka hubungan, menjalin relasi, dengan pihak-pihak yang berpikiran serupa di luar Singapura, terutama karena di sana dia merasa sendirian--sejauh ini tidak ada organisasi advokasi seperti B2W Indonesia (di Indonesia) atau Bike Commute Malaysia dan Bike Commute USM (di Malaysia). “It’s a great pleasure to meet advocates like you,” katanya.

Saling kenal dan saling kunjung tampaknya memang diperlukan sebagai modal untuk, bukan mustahil, membangun kerja sama secara lebih riil. Sebagai sesama negara yang berlokasi di kawasan tropis, ada kebutuhan, misalnya, untuk menemukan jawaban atau formula praktis atas pertanyaan atau skeptisisme mengenai muskilnya bersepeda di iklim yang panas. Jika di Eropa kesadaran untuk berkolaborasi dapat menjadi dasar pembentukan European Cyclists’ Federation, di Asia Tenggara pun mestinya bisa.

Untuk itu, saya percaya, keberadaan orang-orang yang memiliki semangat dan passion seperti tehsiewdai, eh, Vareck sangat diperlukan.

Ikuti tulisan menarik purwanto setiadi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler