x

Iklan

Asep Rizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Cerita Kakek Pedagang Lalaban di Cipanas, Galunggung

Di kompleks wisata Cipanas, Desa Linggajati, Sukaratu, Tasikmalaya, seorang kakek setia menunggu pelanggannya datang mencicipi lalaban dan sambal khas Sunda

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Photo;Kakek "Tukang Dagang Lalaban" itu(doc/pri).

Riak kehidupan warga Negara Indonesia dari sabang sampai merauke bila kita telisik dan di telaah lebih jauh lagi akan menghasilkan kesimpulan berbagai makna kehidupan yang unik seunik penghidupan warga  dunia  yang kini masih menghela nafas panjang memanfaatkan gerak laju kebijakan pemerintahannya , dimana manusia itu berpijak mengelola hidup dan penghidupannya.

Atas nama kiprah manusia bumi yang memanfatkan Kuasa Tuhan diatas segala konsekwensi yang bernama Negara Berdaulat maka hidup itu terus berputar  seiring roda zaman yang terus berputar mencari bentuk.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bukan “Ungkapan” pujangga saja yang indah , tulisan sederhana inipun mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi semuanya *amiin Yaa Robbal Alamiin.

Perjalanan penulis kali ini sampai juga di kaki Bukit Gunung Galunggung tepatnya di Desa Linggajati  Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat, tempat dimana sebuah Kompleks pariwisata Cipanas Galunggung tersebut berada , warga di daerah tersebut memanfaatkan lahan wilayah pariwisata itu sebagai bagian gerakan kehidupannya sehari-hari, dari mulai berkiprah sebagai bagian yang mengelola Cipanas itu sendiri , sampai ke –bagian memanfaatkannya sebagai bagian ladang usaha untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dari mulai berdagang warungan sampai kepada hal-hal usaha jenis usaha dari pertanian khas wilayah cipanas galunggung itu sendiri .

Kali ini penulis sempat bertemu dengan seorang Kakek pedagang “Lalab” atau lalapan teman setia makan nasi ketika nasi itu di hidangkan dengan sambal terasi atau sambal “tolenjeng” (sambal yang hanya di gerus berupa cabe rawit dengan garam plus bawang merah saja).

Lalab istilah sundanya adalah sayuran jenis khusus yang biasa dimakan tanpa harus di masak dulu , dari jenis tanaman yang bernama daun poh-pohan , saladah (seladah), romeh, tespong, daun mareme, dan berbagai jenis daun-daun segar lainnya yang biasa disebutkan sebagai bahan lalapan temannya nasi ketika “dipasangkan” dengan menghadirkan menu makanan yang bernama sambal.

Bila kita berkunjung ke Rumah-rumah Makan khas Rumah Makan Sunda,  yang bernama “Lalab” akan segera kita temui di meja-meja makan yang telah di sett oleh pemilik Restoran sebagai bagian menu yang wajib di hadirkan .

Karenanya (mungkin) karakter orang pasundan tersebut , sangat doyan sekali makan nasi berikut lalaban  Khas yang biasa di lakukannya turun temurun ketika makan dengan menghadirkan sambal dan temannya sambal (Lalab) yang “dicoelkan” ke-Sambal yang telah di buat ketika akan makan nasi tersebut.

Gerak laju zaman terus mencari bentuk , atas semua kiprah warga pasundan di atas meja-meja dan berbagai hidangannya kini telah melahirkan tukang-tukang tanam khusus petani yang bertani menanam  lalapan yang di maksud itu.

Perbincangan penulis dengan Kakek pedagang Lalab di cipanas galunggung itu telah membuka sebuah informasi  baru yang  patut di sebutkan sebagai Ilmu baru juga , karena kini berbagai jenis lalapan itu telah dihususkan penanamannya untuk di jual ke berbagai pasar di seantero pasar induk dimana tanaman tersebut ditanam oleh para petani husus yang menanam sayuran mentah bernama Lalab atau lalapan.

“*abah (*bahasa sunda yang berarti kakek tua)mah ! dagangin lalab di cipanas galunggung ini hanya bila tanggal merah (liburan) saja , karena bila hari-hari biasa mah , cipanas galunggung tidak begitu ramai !” Kakek pedagang lalab itu membuka obrolan ketika dia berhentikan langkah kakinya di sebuah warung dilokasi wisata cipanas galunggung ketika hujan turun dengan derasnya siang tadi (27/12).

Terlihat dia pakai Kostum Khusus berupa jaket yang dibuat khusus dari plastik bekas pupuk untuk pengganti payung dan jas hujan ketika hujan mengguyur di arena wahana wisata tersebut.

“Abah menanam sendiri lalaban ini di lereng gunung dibalik bukit itu !” dia menunjuk ke-arah tempat tanaman itu berasal dan yang sekarang jadi beban pikulan bahunya.

“Abah suka menjual Lalab Poh-pohan ini Rp.5000,- per 3 (tiga) ikat, istilah katanya Lima Ribu Tiga” lanjutnya.

Diapun menceritakan tentang ladangnya dipinggiran sawah ditempat lainnyapun  dia Tanami Lalab-lalab yang bisa dia jual ke-para Bandar pengepul yang biasa menjual lalab itu dengan jumlah banyak  ke pasar-pasar induk sekitaran Kota/Kabupaten  diwilayah Tasikmalaya dan Pasar-pasar Rakyat diwilayah  Kabupaten Ciamis dan sekitarnya.

Cerita lain dari tanaman yang biasa di pakai Lalaban;

Dulunya jenis lalap-lalapan itu bisa di dapatkan dengan mudah ditengah-tengah hutan lindung cipanas galunggung , namun entah kenapa ketika Gunung Galunggung itu telah meletus sekitar tahun 1982 yang lalu , lalapan yang tumbuh liar di hutan lindung Gunung Galunggung tersebut seakan menghilang.

Lalu setelah Cipanas Galunggung di buka sebagai wahana wisata , banyak yang menanyakan keberadaan tanaman lalab-laban tersebut , “Mungkin itu awal mula para petani di daerah sini tergiur bertanam jenis sayuran yang biasa di pakai bahan lalapan “ Kakek pedagang lalab itu mengakhiri ucapannya , dia mencoba melangkahkan kakinya lagi menuju pasar dadakan ketika para pelancong/wisatawan local memenuhi lokasi parkir di pinggiran tempa-tempat wisata yang tersedia di berbagai bagian paket-paket wisata di tempat itu.

Kakek itu mungkin mengisyaratkan tentang sebuah bentuk usaha yang kini belum tergali secara professional bagi kehidupan warga petani di seluruh Nusantara pada khususnya.

Karena menurut salah seorang Warga di sekitaran Cipanas Galunggung menyebutkan “ Yang menekuni pertanian jenis lalab-laban itu masih sedikit jumlahnya , sedangkan pesanan pasar itu terus berkembang , mungkin informasi dan tata kelola pertanian jenis tanaman lalab-laban itu masih terbatas , padahal bila di manfaatkan tanah di  wilayah lereng-lereng Galunggung itu sangat cocok sekali ditanami lalab-lalaban!” ucapnya mengkahiri kelengkapan sebuah tulisan sederhana ini.

*Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya,Indonesiana Tempo.co(27/12/2014).

Asep Muhammad Rizal.                 

Ikuti tulisan menarik Asep Rizal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu