Pengiring - Urban - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Pengiring

    Tiap umat dibekali barometer baik buruk yang disampaikan para pengiring. Siapa sejatinya para pengiring?

    Dibaca : 7.498 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ismar khair fatruk bagha berarti ‘mengokohkan kebaikan, meninggalkan angkara’, atau itsmar qariin fatruk bakha di-Indonesiakan menjadi ‘pendamping tercapainya harapan (menjadi baik), musuh segala yang harus ditinggalkan’, demikianlah Semar, Gareng, Petruk, Bagong dari anasir Arab. Konon, empat tokoh ini dimunculkan Sunan Kalijaga untuk menyelipkan dakwah Islam di pagelaran wayang kulit yang zaman itu lekat dengan masyarakat Jawa. Dalam pewayangan, yang sering dimainkan Sang Sunan, Semar Gareng Petruk Bagong berperan membisikkan hikmah pada para kesatria. Keempatnya adalah ‘sahabat sejati’ atau ‘kawan yang paling memahami’ melahirkan istilah panakawan, kadang sedikit bergeser menjadi punakawan. Pana berarti ‘terang’, atau ’jelas’, atau ’paham’, sedangkan kawan ya ‘kawan’ atau ‘sahabat’, atau ‘pendamping’.  

    Peran pengiring atau tukang among sebenarnya tidak pernah dijumpai dalam Mahabarata atau Ramayana yang sumber kisah-kisah wayang. Ini tokoh asli Indonesia. Menurut penelusuran Prof. Dr. R. Benecdictus Slamet Moeljana, mulanya tukang among muncul dalam Gathotkaca Sraya, karya sastra Empu Panuluh, terdiri dari Jurudyah, Punta, Prasanta, masa Kerajaan Kadiri. Tiga ini hanya berperan sebagai pendherek atau yang mengikuti Abimanyu kemana pergi. Sekian waktu setelahnya, muncullah tokoh pengiring berikutnya yaitu Semar, dalam Serat Sudamala, masa Kerajaan Majapahit. Di sana, Semar bukan sekedar pengikut, melainkan pelindung, juga penjaga, momongannya atau tuannya, Sadewa, salah satu Pandawa.

    Dalam pewayangan, Semar, punakawan sentral, sebenarnya adalah seorang dewa, seasal dengan Togog yang di posisi berlawanan. Keduanya sama bertugas membisikkan hikmah atau sejatinya hidup pada para tuan. Bedanya Semar mengiring satria-satria berwatak baik, sedangkan Togog membimbing satria-satria berwatak buruk. Sebagai dewa dan asalnya yang khayangan ini simbol bahwa tiap kehidupan yang berhati akan dianugerahi Tuhan ‘bisikan’ hikmah di tiap perjalanan, menurut saya. Dalam nuranilah bisikan hikmah itu ditiupkan.  

    Fitrah manusia adalah kebajikan, buktinya bisikan hikmah selalu petunjuk baik, tercermin pada yang dilakukan panakawan, baik Semar maupun Togog. Bisikan hikmah ada di nurani. Lewat nuranilah sesungguhnya tiap umat dapat mengukur yang tengah dipilihnya, salah atau benar. Mintalah fatwa pada nurani, karena kebenaran adalah ketika jiwa tenang, dan salah ketika jiwa menjadi gelisah (HR Ahmad). Jelas, bahwa tiap langkah, baik atau buruk digambarkan kesatria watak baik dan watak jahat, akan selalu mendapat pengingat dari Tuhan, digambarkan dua dewa dari khayangan, baik Semar atau Togog, berupa hikmah, yaitu kebajikan.

    Dalam perjalanannya, sastra menampilkan banyak pengiring yang berkembang khas di masing-masing tempat. Ada Semar, Gareng, Petruk, Bagong, pamong kesatria watak baik dan Togog Bilung pamong kesatria berwatak buruk dalam sastra Jawa. Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng dikenal dalam wayang golek tanah Sunda. Tualen, Merdah, Sangut, dan Delem dalam wayang Bali.

     

    Sumber foto : punakawanjawa.wordpress.com

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.