Menimba Ilmu di Jalan yang Berliku

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Para pekerja anak yang berjuang untuk belajar dan ujian paket B

(kisah para pekerja anak yang berjuang mencapai ujian nasional paket B)

Malam itu mataku masih terjaga karena beberapa kali bunyi pesan melalui WA, isinya penting. “Mbak, 13 anak dampingan akan ikut UN Paket B”. Isi pesan yang tak mungkin kuabaikan. Inilah tujuan yang selama ini diharapkan terjadi para pendamping, terlebih anak-anak  yang kami dampingi.

Secercah harapan mulai terlihat, paska masa pendampingan yang dilakukan tim LPKP Jatim sejak beberapa tahun terakhir. Di sudut dusun Puthuk, terdapatlah anak-anak yang bekerja di sektor pertanian. Baik yang sekedar membantu orang tua, maupun yang benar-benar mencari kehidupan dari upah-upah yang diberikan di setiap tetes keringat mereka. Anak-anak yang berjuang untuk roda ekonomi bagi keluarganya. Ada pula beberapa anak perempuan yang bekerja diluar wilayah tersebut untuk bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga Anak di kota-kota seputar Jawa Timur. Total ada 16 orang yang terdaftar mengikuti ujian nasional Paket B. Ya, jumlah yang banyak mengingat usaha memotivasi mereka untuk bertahan “bersekolah” juga tidak mudah.

Dusun Puthuk memang daerah yang cukup potensial untuk dikembangkan, beragam tanaman tumbuh subur dan menghasilkan bahan pangan. Tidak salah memang di ujung memasuki wilayah ini terdapat gapura Anda memasuki wilayah Agropolitan. Lihat saja hasil bumi yang menyegarkan mata, ada sawi, tomat, labu siam, buncis, tak ketinggalan di pedas cabe rawit yang juga sedang “naik daun” harganya. Para pekerja anak, atau tepatnya mantan pekerja anak (karena beberapa telah melewati masa usia anak) telah bergelut untuk memajukan kondisi ekonomi keluarga mereka dengan segala upaya. Mereka membantu menggarap kebun-kebun sayur, bekerja sebagai buruh upahan di tanah-tanah para pemilik lahan.

Tim LPKP Jatim “menerjunkan” para pendamping untuk menumbuhkan keinginan anak-anak kembali bersekolah. Bukan hal yang mudah mengingat keluarga dan lingkungan alam yang tidak menunjang mereka mencapai lokasi sekolah yang dituju. Kebiasaan menikah di usia yang sangat muda juga menjadi salah satu faktor, dimana banyak anak perempuan akhirnya menyerah untuk tidak punya impian apa-apa selain menjalani kehidupan seperti yang diharapkan keluarganya. Berbagai upaya dilakukan tim pendamping agar minat belajar anak-anak tetap terjaga.

Kami tidak bisa memutus kebiasaan anak-anak bekerja. Itu fakta. Di satu sisi mereka berada dalam kondisi diharuskan membantu perekonomian keluarga, di sisi lain terdapat HAK untuk memperoleh pendidikan. Maka sebagai bentuk kesepakatan, mereka berkumpul di hari Sabtu dan Minggu sepulang bekerja untuk mengikuti sesi pendidikan yang diberikan secara bergantian oleh pendamping, para tutor dari PKBM atau anak-anak mahasiswa yang kebetulan sedang KKN. Materi belajar dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan untuk ujian dan pengetahuan lainnya yang akan meningkatkan kesadaran mereka. Inilah bentuk nyata motivasi mereka, bekerja dan belajar dalam satu waktu.

Minat tiap anak tidaklah sama. Pendampingpun berupaya memfasilitasi kebutuhan anak-anak itu. Beberapa anak ingin belajar menjahit, sebuah keterampilan klasik yang biasanya diidentikan dengan anak-anak perempuan. Yah, itu karena mereka tidak bisa meninggalkan rumah untuk mengikuti proses pembelajaran di tempat lain. Berkat kerjasama dengan Disnaker Kabupaten Malang, ada 4 unit mesin jahit dan 2 mesin bordir yang bisa digunakan mereka. Beberapa anak bergantian belajar dan mencoba menggunakan mesin jahit itu. Memang belajar itu perlu proses, dan karena proses belajar yang kurang intens, keterampilan merekapun belum terlalu nampak. Masih perlu berlatih dan perlu lebih giat mereka belajar agar nantinya punya keterampilan yang memadai.

Setelah selama ini berusaha mengikuti pembelajaran di PKBM, anak-anak sampai pada saat yang dinantikan. Ujian nasional paket B, ya momen yang ditunggu sekaligus membuat deg-degan karena tidak yakin bisa menjawab pertanyaan ujian. Maklum, kata mereka, “biasa megang arit, sekarang pegang pulpen”. Celetukan yang menggambarkan kondisi mereka, berjuang untuk bisa belajar di tengah-tengah tuntutan bekerja. Kami ikut senang akhirnya mereka punya kesempatan yang sama untuk ujian, walaupun tidak semua anak bisa ikut ujian karena kesalahan pendaftaran yang membuat seorang siswa harus ikut ujian di tahun mendatang. Semoga motivasi itu tidak luntur karena molornya waktu. Semoga.

Inilah kisah berliku para “mantan” pekerja anak untuk meraih harapannya mengikuti ujian paket B. Upaya pendampingan yang tidak sia-sia karena berhasil menanamkan motivasi untuk maju tanpa menyalahkan kondisi dan situasi yang ada. Selamat untuk teman-teman yang ujian dan para pendamping yang senantiasa berbagi energi dan kebaikan.

Malang, 27 Mei 2017

Beti.MC

Bagikan Artikel Ini
img-content
JARAK STOP PEKERJA ANAK

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua