Ojo Dumeh: Kerukunan yang Berkeadilan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Soalnya ialah bagaimana menghambil hikmah dari keragaman itu untuk mewujudkan tiga hal lain, yaitu ko-eksistensi damai, toleransi, dan kerukunan.

 

Akhir-akhir ini ramai diwacanakan apa yang disebut ‘teologi kerukunan’. Di Moskow, Rusia, dalam pertemuan tokoh-tokoh agama dunia, pekan ini, Din Syamsuddin—Ketua Dewan Pertimbangan MUI—menekankan pentingnya teologi kerukunan antarmanusia selain teologi keagamaan. Ini dapat dilihat sebagai salah satu respons terhadap teror di Masjid An-Nur di kota Christchurh, Selandia Baru, yang dilakukan oleh Brenton Tarrant dan menewaskan 50 Muslim.

Media mengabarkan, untuk menekan konflik, kata Din, diperlukan teologi bersama (shared theology) tentang kemajemukan, hidup berdampingan secara damai (ko-eksistensi), toleransi, dan kerukunan. Sistem kredo atau konsepsi tentang Tuhan, kata Din, bisa saja berbeda, tapi ada titik-titik singgung di empat hal tadi. Soalnya: bagaimana titik-titik singgung ini menjadi kuat dan bukan sebaliknya, melemah dan bahkan terurai?

Kemajemukan jelas merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Bahkan, Sang Pencipta pun sudah memberitahu secara sangat jelas mengenai kemajemukan manusia: warna kulit, bahasa, makanan, tinggi badan, tempat tinggal, apa saja—bahkan, manusia kembar pun tidak seratus persen sama. Menciptakan manusia yang tunggal dan identik bukan hal yang mustahil, tapi keragaman yang dipilih agar manusia saling mengenal sesamanya.

Sayangnya, keragaman inilah yang kerap ditonjolkan: kita berbeda dari mereka, kamu lain dibanding kawan-kawanmu, dan seterusnya. Karena penonjolan perbedaan bukan dimaksudkan untuk memahami keragaman, melainkan untuk menciptakan sekat-sekat, maka konfliklah yang terjadi. Penulisan sejarah kerap diwarnai oleh perbedaan dan konflik ketimbang penonjolan persamaan dan ikhtiar perdamaian. Sejarah seperti ini memengaruhi persepsi orang-orang yang lahir di masa kemudian dalam memandang masa lampau bangsanya atau rasnya atau agamanya, umpamanya.

Soalnya kemudian ialah bagaimana menghambil hikmah dari keragaman itu untuk mewujudkan tiga hal lain, yaitu ko-eksistensi damai, toleransi, dan kerukunan. Aksi pembantaian Brenton Tarrant yang menewaskan 50 Muslim di Selandia Baru sangat dipengaruhi persepsi Tarrant mengenai sejarah konflik di masa lampau, yang antara lain diwujudkan dalam rupa penegakan supremasi atas manusia lainnya. Rakyat Selandia Baru, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Jacinda Ardern, dengan cepat berikhtiar memulihkan kerukunan yang hendak dikoyak oleh Tarrant dan memberi pengayoman dengan cara yang adil.

Dalam banyak masyarakat, ko-eksistensi damai, toleransi, dan kerukunan dapat dijalankan karena masing-masing orang bersikap dan bertindak tidak berlebihan dan tidak melampaui batas. Ketika merasa benar tidak bersikap sebagai yang paling benar. Saat merasa memiliki hak tidak bertindak sebagai yang paling berhak dan melanggar hak orang lain. Ketika berkuasa tidak bertindak sebagai orang yang paling berkuasa dan bersikap semena-mena. Meminjam istilah Jawa: "Ojo dumeh!" (jangan mentang-mentang).

Apa yang dilupakan ketika orang diajak untuk hidup damai, toleran, dan rukun ialah menghindari sikap berlebihan serta mampu bersikap dan bertindak adil bahkan sejak dalam pikiran. Ketika orang lain berbicara, ayo kita dengarkan barangkali ada kebenaran di dalamnya, dan mungkin ada kesalahan dalam diri kita. Masyarakat kita niscaya masih mewarisi sikap saling menghormati, tolong-menolong, saling menjaga perasaan, serta bersikap adil dalam mengatasi persoalan—nilai-nilai yang pernah melekat erat, tapi kini tergerus oleh hasrat akan harta dan kuasa. Orang tidak cukup hanya diminta untuk memahami adanya keragaman, diajak untuk hidup rukun dan toleran, tapi juga penting untuk diayomi melalui keadilan. **

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua