x

Menjadi Presenter mewakili UPI dalam Seminar International di IAIN Madura

Iklan

Tatang Hidayat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 5 Agustus 2019 17:16 WIB

Catatan dari 2nd International Conference on Islamic Studies (IAIN Madura)

Menjadi presenter dalam seminar International tidak pernah terpikirkan dalam benak saya sebelumnya, karena dengan mendengar namanya saja dapat dipastikan, agenda tersebut menjadikan bahasa international sebagai bahasa pengantar yang terkadang ditakuti oleh beberapa kalangan. Namun bagi saya hal tersebut bukan menjadi hal yang yang harus ditakuti, justru harus menjadi motivasi untuk serius mempelajari bahasa international diantaranya bahasa arab dan bahasa Inggris.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Catatan dari 2nd International Conference on Islamic Studies (IAIN Madura)

Oleh : Tatang Hidayat

Menjadi presenter dalam seminar International tidak pernah terpikirkan dalam benak saya sebelumnya, karena dengan mendengar namanya saja dapat dipastikan, agenda tersebut menjadikan bahasa international sebagai bahasa pengantar yang terkadang ditakuti oleh beberapa kalangan. Namun bagi saya hal tersebut bukan menjadi hal yang yang harus ditakuti, justru harus menjadi motivasi untuk serius mempelajari bahasa international diantaranya bahasa arab dan bahasa Inggris.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Setelah sekian lama belajar melakukan penelitian, akhirnya saya mencoba memberanikan diri untuk mempresentasikan hasil penelitian tersebut dalam seminar international. Hal tersebut saya lakukan sebagai bagian dari proses pembelajaran, disamping kampus saya sendiri (Universitas Pendidikan Indonesia) menjadikan syarat untuk mengikuti sidang tesis bagi mahasiswa pascasarjana, minimal pernah satu kali menjadi presenter dalam seminar international.

Setelah mengirimkan abstrak dalam 2nd International Conference on Islamic Studies yang diselenggarakan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura, abstrak saya dinyatakan lolos dan diundang untuk mempresentasikan hasil penelitian tersebut.

Apa yang saya presentasikan ini merupakan sesuatu yang sangat istimewa bagi saya pribadi, mengapa dikatakan demikian, karena penelitian ini membahas sosok ulama legendaris dari Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya yang mana penelitian ini dilakukan mulai tahun 2014. Penelitian ini berjudul Nilai-Nilai Pendidikan dari Pemikiran K.H. Choer Affandi dan Relevansinya dalam Pendidikan Modern (Studi Tokoh Ulama Legendaris Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya)

Penelitian ini dibimbing oleh orang yang pernah bertemu langsung dengan K.H. Choer Affandi ketika beliau melakukan penelitian tahun 1994, yakni gurunda Prof. Dr. Syahidin, M.Pd. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk mempresentasikannya.

Sebelumnya jika boleh jujur, saya belum berani mempresentasikan penelitian berkaitan dengan tokoh ulama, terutama tokoh ulama yang sudah wafat, saya mengkhawatirkan berkaitan dengan adab dan tanggung jawab ilmiah, apalagi ketika akan mengkonfirmasi penemuan yang saya dapatkan kepada tokoh tersebut. Namun karena saya dibimbing oleh orang yang pernah bertemu langsung dengan K.H. Choer Affandi, maka saya memberanikan diri untuk melakukannya.

Penelitian ini dilakukan di 6 pondok pesantren dengan melakukan wawancara kepada para kiai dan dewan asatidz yang pernah menjadi murid K.H. Choer Affandi, diantaranya di Pondok Pesantren Miftahul Huda Pusat Manonjaya, Pondok Pesantren Miftahul Huda Nurul Qomar Tasikmalaya, Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir Bandung, Pondok Pesantren Miftahul Jannah Bandung, Pondok Pesantren Safinatul Huda Tasikmalaya, dan Pondok Pesantren Manarul Huda Bandung.

Sebelum keberangkatan ke Madura, saya melakukan member check terakhir hasil penelitian saya tersebut kepada gurunda K.H. Athon Sulthoniyah sebagai pimpinan Pondok Pesantren Manarul Huda Bandung. Kemudian papernya saya kirim juga kepada K.H. Asep Maoshul Affandi selaku Pimpinan Umum Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya untuk di cek terlebih dahulu.

Sebelum melakukan safar, biasanya saya selalu minta izin dan do’a restu kepada orang tua, dan juga guru-guru, terutama gurunda Drs. K.H. Ahmad Rifa’i, beliau adalah Dewan Nadzir Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir Bandung yang selalu mendukung kegiatan saya dalam setiap forum yang saya ikuti, baik dalam forum tingkat kampus, kab/kota, provinsi, nasional hingga international. Selain memberikan dukungan dari segi moril, beliau tidak pernah hentinya memberikan dukungan juga dari segi materil.

Saya berangkat ke Madura pada hari Kamis, 25 Oktober 2018 tepat pukul 16.55 WIB dari station Bandung menggunakan kereta api, sebagaimana tertera dalam jadwal diperkirakan saya sampai di station Gubeng Surabaya pukul 06.25 WIB.

Mengisi waktu perjalanan yang menempuh waktu 13 jam lebih, saya gunakan untuk membaca berbagai informasi mengenai Madura dan Surabaya, di sisi lain saya pun berdiskusi dengan penumpang lain, salah satunya dengan salah seorang pegawai di kementrian riset dan pendidikan tinggi yang kebetulan pada hari itu duduk tepat di samping saya.

Dalam perjalanan tersebut saya melakukan shalat maghrib jama’ takhir, shalat isya qashar dan shalat shubuh di dalam kereta untuk menghormati waktu, karena kereta tidak berhenti lama di setiap station sehingga shalat saya tidak sempurna dalam memenuhi rukunnya. Oleh karena itu, sebagaimana pemahaman madzhab Syafi’i, saya akan mengqadha shalat setelah sampai di tempat tujuan.

Tepat pukul 06.35 WIB hari Jum’at, 26 Oktober 2018 Alhamdulillah kereta berhenti di station Gubeng, tidak pernah terpikirkan sebelumnya, saya bisa menginjakkan kaki di tanah pahlawan ini. Dari sana saya segera menuju Bangkalan dengan menggunakan bis, entah mengapa ketika mendengar kata Madura yang teringat dipikiran saya adalah nama seorang ulama besar yakni Al’Allamah Syaikhana Khalil Bangkalan Madura. Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya pun tidak ingin ketinggalan untuk bisa berziarah ke makam beliau.

Setelah sampai di Bangkalan, saya menyempatkan diri untuk singgah di Masjid Agung Bangkalan, dari sana baru saya berangkat menuju Syaikhana dengan menggunakan len sejenis angkutan umum dan menggunakan becak, karena memang jalan menuju makam syaikhana jarang dilewati angkutan umum.

Setelah sampai, saya melihat banyak orang yang sedang berziarah dari berbagai daerah, dari sana saya mengambil banyak ibrah berkaitan perjuangan syaikhana dalam mengislamkan nusantara, terutama peran syaikhana dalam pendirian Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama yang didirikan oleh murid beliau yakni Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ary.

Setelah selesai ziarah, saya segera menuju pamekasan dengan menggunakan angkutan umum, waktu yang saya tempuh cukup lama yakni 2 jam. Sehingga saya tidak sempat mengikuti shalat Jum’at, akhirnya saya mengganti dengan shalat dzuhur dan shalat ashar jama’ takdim qashar di Masjid Agung Pamekasan. Setelah selesai, saya segera menuju penginapan untuk istirahat, karena harus segera mempersiapkan apa yang akan saya presentasikan.

Pada hari Sabtu, 27 Oktober 2018 tibalah pelaksanaan seminar, sebuah seminar international pertama bagi saya bertindak sebagai presenter. Saat registrasi acara nampak terlihat sambutan yang begitu ramah dari panitia, saya pun bisa berkenalan dengan para presenter lain dari berbagai kampus. Adapun yang menjadi keynote speakers dalam seminar tersebut adalah Dr. H. Muhammad Kosim (Rektor IAIN Madura), Prof. Dr. KH. Yudian Wahyudi, M.A. (Rektor UIN Sunan Kaljaga Yogyakarta), Achmad Tohe, Ph. D. (Senior Lecture of State University of Malang ), Prof. Dr. Magdy B. Behman (Eastern Mennonite University, Virginia, USA).

Setelah pembicara utama memaparkan bahasannya yang mengangkat tema Exploring The Moderation of Islam Within Indonesia Civilization, sekarang tiba girilan para presenter untuk memaparkan hasil penelitiannya dalam seminar pararel, termasuk saya sendiri, saya mempresentasikan hasil penelitian berkaitan dengan Nilai-Nilai Pendidikan K.H. Choer Affandi yang masih memiliki relevansi dalam pendidikan modern saat ini, karena pendidikan modern saat ini kehilangan makna esensial pendidikan itu sendiri.

Di sisi lain, pendidikan modern saat ini kehilangan sosok figur, oleh karena itu, pendidikan saat ini membutuhkan sosok figur untuk diteladani oleh muridnya, yang dalam hal ini dibutuhkan sosok figur seperti K.H. Choer Affandi yang menjadi sosok figur bagi para santrinya.

Presentasi tersebut diwarnai diskusi dengan para peneliti lain, karena penelitian yang dipresentasikan  merupakan hasil dari penelitian dari berbagai jurusan, sehingga menarik untuk didiskusikan. Setelah semua presenter menyampaikan gagasannya, para presenter berhak mendapatkan sertifikat international sebagai bukti telah menjadi presenter, kemudian seminar pun ditutup pada pukul 16.30 WIB.

Setelah itu saya berpisah dengan beberapa teman yang menyertai selama seminar, terutama mahasiswa Pascasarjana IAIN Madura yang telah berbagi dan diskusi berkaitan dengan pendidikan di lembaga masing-masing. Kemudian saya pulang ke penginapan bersama Dr. Hindun (Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) yang diantar oleh panitia.

Saya tiba di penginapan sebelum maghrib, saya gunakan malam terakhir di pamekasan dengan melakukan kunjungan ke masjid lain, dan melihat kehidupan keagamaan di Madura. Setelah merasa cukup, saya kembali ke penginapan untuk istirahat, karena akan melanjutkan perjalanan besok ke Surabaya, dan besok adalah waktunya menelusuri sejarah perjuangan di tanah pahlawan. Jadi nantikan catatan saya selanjutnya. Semoga Bermanfaat. Wallohu A’lam bi ash-Shawab

 

Ikuti tulisan menarik Tatang Hidayat lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler