x

Didi Kempot menghibur di Goa Pindul, Gunung Kidul, Yogyakarta, 22 Juni 2019. Tempo/Imam Sukamto

Iklan

Tulus Wijanarko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Juli 2019

Kamis, 15 Agustus 2019 10:40 WIB

Didi Kempot, Penyambung Lidah Kaum Patah Hati Milenial

Dengan semua itu, Didi Kempot tampil menjadi penyambung lidah kaum patah hati di era milenial ini. Ia dan karyanya diterima sebagai cara terkini mengungkapkan kegembiraan ber-patah hati secara massal dan syahdu.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

oleh: Tulus Wijanarko

 

wes samestine ati iki nelongso
wong seng tak tresnani mblenjani janji
opo ora eling naliko semono
kebak kembang wangi jeroning dodo

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tanyakan kepada para “anggota” Sadboys, Sadgirls dan Sobat Ambyar apa judul lagu dari bait tersebut. Saya jamin tak perlu waktu lama, mereka sigap menjawab Cidro. Tak musthail mereka juga segera meyambar potongan lirik dan mendedangkannya penuh suka-cita.

Sadboys, Sadgirls, Sobat Ambyar, lalu ada Kempoters, adalah sebutan untuk para penggemar penyanyi Didi Kempot. Uniknya, kebanyakan mereka ini adalah anak-anak muda milenial yang usianya kurang dari 30 tahun. Alias, sad people ini belum lahir ketika Cidro diciptakan Didi pada 1984 silam (35 tahun lalu!).

Didi Kempot hari-hari ini memang menjelma jadi idola kaum yang sejak kecil sudah bermain-main dengan gadget itu. Konser-konsernya selalu dibanjiri wajah-wajah remaja—laki dan perempuan. Tak hanya datang, mereka juga hapal hampir semua lagu yang dilantunkan Didi di panggung. Mulai dari Cidro, Stasiun Balapan, Sewu Kutho, Banyu Langit, Layang Kangen, Ketaman Asmara, Tatu, Pamer Bojo, Suket Teki, Dalan Anyar, Tanjung Mas Ninggal Janji, Ambyar, dan lain-lain.

Tak hanya bernyanyi, mereka pun berjoget dengan syahdu. Para pandemen itu menggoyangkan badan mengikuti irama musik, tapi dengan raut muka yang menunjukkan perasan antara nelangsa, riang, dan terkenang-kenang pada entah apa/siapa.

Saya tak habis pikir apa yang membuat generasi era revolusi industri 4.0 ini begitu intens dan fanatik pada Didi Kempot (dan karya-karyanya). Bahkan tak sedikit diantara mereka bukan pengguna bahasa Jawa. Mereka ini, lewat piranti gadget, adalah penjelajah yang menapaki banyak hal di dunia tak terbatas di ranah maya, tapi kini berhimpun merayakan lagu-lagu yang 90 persen bertema patah hati dan ditulis dalam bahasa Jawa tersebut.

Saat ditanya dalam beberapa wawancara, Didi Kempot menduga anak-anak muda suka karena lagu-lagunya mewakili apa yang pernah mereka alami, yakni patah hati. Kata dia, semua orang pernah patah hati. Pernah brokenheart.

Perkiraan itu bisa jadi benar. Apalagi para pemuja itu pun lalu menjuluki Didi dengan gelar Godfather of Brokenheart. Ini semacam pengakuan sekaligus pentasbihan untuk penyanyi asal Sala itu.

Tetapi rasanya dugaan itu belum lengkap, katakanlah karena ada pertanyaan berikutnya: Lalu kenapa terpilih Didi Kempot, dan bukan penyanyi-penyanyi lain juga mendedangkankan lagu-lagu bertema patah hati?

Saya mencoba mencari jawab hal itu. Saya mulai dari lirik-lirik lagunya. Barangkali ada keunikan di sana. Hasilnya, memang ada beberapa ciri yang sangat khas Didi. Ia memang menggunakan diksi-diksi yang mudah dicerna, tetapi cerdik dalam menyelipkan frasa yang menerbitkan nuansa puitik.

Mari lihat potongan bait dalam lagu Dalan Anyar ini.

Kembang tebu sing kabur kanginan
Saksi bisu sing dadi kenangan
Prasetyamu kui mung kiasan
Tresnamu saiki wis ilang

Atau pada lagu Sewu Kutho,

Sewu kuto uwis tak liwati
Sewu ati tak takoni
Nanging kabeh
Podo rangerteni
Lungamu neng endi

Satu lagi, pada Banyu Langit,

Sworo angin
Angin sing ngreridu ati
Ngelingake sliramu sing tak tresnani
Pengen nangis
Ngetokke eluh neng pipi

Tetapi jika memang kecerdikan Didi ini yang memikat kaum milenial, bagaimana penjelasannya dengan para penggemar yang bukan pengguna bahasa Jawa? Apa yang membuat merreka bisa asyik-masyuk dengan karya-karya Sang Godfather? Jadi, sepertinya masih ada alasan lain lagi.

Saya mencoba mencari jawabnya dari arena konser-konser Didi Kempot yang selalu dipenuhi penggemar itu. Persisnya, saya mengamati dari massa yang selalu berjoget asyik “senajan” yang dinyanyikan adalah kesedihan. Kenapa ini bisa terjadi?

Sepertinya, ini adalah cara baru dalam merayakan patah hati, yakni dengan berjoget. Salah satu ciri kaum milenial adalah sangat terbuka dengan pembaruan-pembaruan yang bahkan mungkin berlawanan dengan kondisi lama. Termasuk saat patah hati, mereka pun ingin mengalaminya dengan cara baru. Sedih boleh, tapi itu bisa dilakukan dengan gembira.

Maka mereka menyambut baik tawaran Didi Kempot: Kalau patah hati, ya, dijogetin saja!

Nyatanya, seluruh bangunan karya Didi memang mendukung hal itu. Lirik lagunya mendayu (sering menggunakan diksi nelangsa, eluh alias air mata, mung lamis, dan sebagainya), namun aransemen musiknya asyik untuk jogetan. Dan itulah yang meggerakkan mereka. Ada asupan untuk hati yang merasa lara dari lirik lagu, tapi raga mereka dilayani alunan musik yang cukup rancak. Mereka pun bergoyang dan saya menyebutnya sebagai sebuah jogetan syahdu. 

Dengan semua itu, Didi Kempot tampil menjadi penyambung lidah kaum patah hati di era milenial ini. Ia dan karyanya diterima sebagai cara terkini mengungkapkan kegembiraan ber-patah hati secara massal dan syahdu. Karya-karya Didi Kempot telah membebaskan perasaan-perasaan terkungkung yang ingin lolos dan mencari bentuk baru tersebut.

Barangkali demikian. Namun, jika analisis enteng-entengan ini kurang tepat, ya, mari jogetin saja. Ambyar!

Ikuti tulisan menarik Tulus Wijanarko lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu