x

Ustadz Abdul Somad Batubara. TEMPO/Fakhri Hermansyah

Iklan

Ardanmarua

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Juli 2019

Minggu, 18 Agustus 2019 17:48 WIB

Dari Abdul Somad ke Indonesia yang Paripurna

Belum sampai sehari sangsaka merah-putih berkibar, diturunkan pada sore harinya, sesama anak bangsa sudah ribut lagi. Rasanya, bangsa ini tak tobat untuk terus-terusan menguji dirinya sendiri. Dan parahnya, ujian itu hanya mengulang-ulang ujian yang sudah dimenangkan berulang-ulang kali pula.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Saat ini media sosial sedang mewadahi pro dan kontra antar umat beragama menanggapi ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS) tentang hukum melihat salib. Caci maki atas nama membela diri dan ajaran dianut pun tak terelakkan terjadi. Padahal saat ini kita masih berada di dalam suasana perayaan dirgahayu 74 tahun Kemerdekaan Bangsa Indonesia dari kolonisasi bangsa lain.

Belum sampai sehari sangsaka merah-putih berkibar, diturunkan pada sore harinya, sesama anak bangsa sudah ribut lagi. Rasanya, bangsa ini tak tobat terus-terusan menguji dirinya sendiri. Dan parahnya, mengulang-ulang ujian yang sudah dimenangkan berulang-ulang pula. Mengapa bangsa ini tidak mengambil ujian lain, melawan hegemoni dan akuisisi barat, misalnya?

Arti persatuan nasional dari segala bangsa, segala agama, segala suku, segala adat dan budaya, dari Sabang sampai pulau Rote, seperti tak ada harganya manakala diperhadapkan dengan percakapan-percakapan primordialisme. Lantas, apa artinya kebebasan bangsa ini, perjuangan para moyang kita merenggut kemerdekaan dari tangan penjajah, jika pada akhirnya antar kita sesama anak-cucu masih saling seteru membela identitas-identitas kecil dan mengabaikan keperluan-keperluan jangka panjang yang lebih besar dan mendesak?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Saya amati betul pro-kontra yang berlangsung seputar soal ucapan UAS. Banyak saudara kita yang beragama Nasrani merasa tersinggung, marah, dan kecewa mendengar seorang Ustadz kondang, ulama besar umat Islam, mengatakan bahwa mereka yang hatinya menggigil melihat salib dan yang senantiasa terbayang salib itu sedang kemasukan jin kafir—karena di dalam patung salib ada jin kafir.

Bagi mereka yang kontra, menganggap tak sewajarnya Ustadz Abdul Somad, seorang ulama panutan umat muslim, berkata seperti itu, berkata yang jelas-jelas akan menyakiti hati banyak orang yang mencintai kerukunan sosial, terutama penganut agama Kristen. UAS pun kemudian dilaporkan ke polisi atas tuduhan pelecehan simbol agama. Sebagai publik figur UAS memang harus bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Sebab, siapa pun yang tersinggung punya hak untuk melaporkan dan meminta pertanggung jawaban atas perbuatan yang dianggap menyinggung perasaannya.

Tapi banyak juga dari saudara kita yang Nasrani menganggap ucapan Ustadz Abdul Somad itu biasa-biasa saja. Pasalnya mengacu pada konteks. Bagi mereka yang pro, menganggap UAS menyampaikan kalimat itu bukan pada acara publik dan dimaksudkan untuk dikonsumsi publik, melainkan untuk komunitas yang notabenenya beragama Islam. Pihak yang pro juga bilang bahwa ucapan seperti itu juga banyak terjadi di lain tempat yang dilakukan oleh tokoh agama lain. Alasannya pengucapannya pun sama; dalam rangka memperkuat iman pemeluk agama.

Alasan ini, bahwa ucapan UAS tersebut dimaksudkan dalam rangka memperkuat iman, saya perhatikan, banyak dipandang oleh pihak yang pro sebagai muara—di mana perbedaan bisa dirangkul kembali ke dalam pelukan kebangsaan dan memaafkan kesalahan yang tak disengajakan untuk menyinggung adalah sebuah keharusan.

Alasan dan keterangan atas alasan itu memang benar adanya. Pada umumnya, setiap tokoh agama dari pelbagai agama pasti pernah menjelekkan (meskipun itu hanya sekali) agama pihak lain di ruang privat yang bersifat komunitas teologis untuk memperteguh keimanan sesama pemeluk agama atau ajaran mereka anut.

Di dalam diskursus logika, perbuatan ini sangat wajar untuk dilakukan. Karena memang tak ada cara lain untuk mengatakan bahwa kepunyaan kita benar selain mengatakan bahwa orang lain salah. Perbandingan adalah kunci. Begitulah memang hukum logika bekerja. Mustahil ada dua kebenaran. Jika ada dua kebenaran, maka dalam ajaran logika, kedua-duanya bisa dipastikan salah. Kebenaran selalu bersifat tunggal dan berdaya prima menerima kritikan.

Yang saya mau bilang soal peristiwa ucapan UAS dengan segala pro-kontra nya adalah tak ada satu pun penganut agama lain di dunia ini yang akan mengatakan bahwa agama yang ia anut salah dan agama yang orang lain anut benar, sembari bertahan pada apa yang ia anut. Begitulah naluri keimanan keberja.

Semua penganut agama, pada umumnya, akan mempertahankan mati-matian bahwa yang dianutnya adalah yang paling benar dan paling baik. Maka jalan satu-satunya untuk menjaga kelestarian kemerdekaan Republik Indonesia, kerukunan antar etnis dan agama, adalah dengan cara meninggalkan percakapan-percakapan perihal identitas partikulir. Karena yang perlu diutamakan adalah identitas universal dan kepentingan-kepentingan universal.

Meski demikian, tak ada satu orang pun yang bisa melarang orang-orang yang merasa tersinggung untuk tidak melaporkan rasa ketersinggungan-nya, membela apa yang menjadi martabatnya. Yang bisa kita lakukan hannyalah memberikan saran terbaik demi keharmonisan bersama. Saya pribadi menyayangkan ucapan UAS yang lebih mengutamakan penguatan iman sepihak ketimbang penguatan rasa persatuan keseluruhan, dan juga menyayangkan pelaporan atasnya ke pihak yang berwajib.

Kalau seandainya mau ditanya apa pendapat saya tentang salib? Menurut saya salib itu sama saja dengan bendera tauhid milik kami umat muslim. Ya, sama saja anggap tersinggung jika diperlakukan tidak sebagaimana yang dianggap semestinya. Karena antara salib dan tauhid, bagi penganutnya masing-masing, sama-sama mempunyai kekhususan yang istimewa dan tak boleh dipermainkan. Arti kedua simbol itu pun, menurut saya, adalah sama-sama melambangkan suatu perjuangan kebenaran melawan kebatilan. Perjuangan suci yang sama-sama mengorbankan darah dan nyawa umat manusia demi tegaknya kebenaran dan keadilan di muka bumi.

Jangan berpikir saya menyampaikan klise. Orang Ambon seperti saya, yang pernah menangis dalam pertikaian antar agama dan pernah mempelajari prinsip-prinsip dalam agama selain Islam, terutama Kristen, mengungkapkan itu adalah keharusan. Saya tidak akan pernah menghianati pengalaman hidup dan pengetahuan saya sendiri selama hidup. Pengetahuan dan nurani tak boleh disangsikan demi alasan apa pun, apalagi alasannya hanya untuk sebuah pembenaran keyakinan suatu golongan, bukan persatuan dan persaudaraan antar golongan. Jangan, jangan pernah lakukan hal itu.

Menurut saya, atas dasar apa pun dan diucapkan di mana pun, menjelekkan simbol dan ajaran agama orang lain adalah tidak elok untuk diucapkan. Saya pun menentangnya, menolaknya. Perbuatan menghina tak akan membuat si penghina berubah menjadi yang tercinta. Sebaliknya, ludah yang dibuang akan kembali ke wajah sendiri. Dan saya kira, kalau terus-terusan bertikai, saling salah menyalahkan antara kita, kita sepertinya belum siap untuk bernegara. Kalau menang siap, mari kita kembali ke Indonesia yang paripurna, Indonesia yang kita semua idam-idamkan selama ini.

Dengan ini juga saya pun berharap pelajaran teologi segara dimasukkan ke dalam kurikulum Sekolah Menengah Pertama (SMP). Agar supaya generasi bangsa Indonesia sejak remaja sudah matang memahami konsep ketuhanan yang universal, tanpa embel-embel agama mana pun.

Kembali ke Indonesia yang Paripurna

Sejak jauh-jauh hari, sang founding fathers bangsa kita, Ir.Soekarno, sudah berteriak lantang dan meminta kita agar sesama anak bangsa untuk meninggalkan diskursus kebenaran ajaran dan agama yang dianut oleh masing-masing orang.

Daripada ribut soal identitas partikulir, menurut Soekarno, lebih baik setiap agama atau golongan mengutus orang-orang terbaik yang dimiliki di dalam golongannya ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat untuk memperjuangkan Hak manusia dan Kebenaran yang lebih universal. Soekarno tidak mau sesama anak-cucu yang lahir di atas tanah pertiwi saling menyalahkan, apalagi membunuh satu sama lain.

Kendati pun Soekarno sendiri pernah terang-terangan menunjukkan rasa kekhawatirannya atas pertikaian sesama anak bangsa dengan berkata: "Perjuangan saya lebih mudah karena hanya mengusir penjajah. Sedangkan perjuangan kalian (anak-cucu) akan lebih sulit karena melawan bangsanya sendiri". Tapi kita tidak perlu menjadikan kecemasan Soekarno sebagai sebuah fakta masa depan, fakta sosial hari ini.

Kita semua harus sepakat hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan apa pun itu, harus diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Karena kemerdekaan ini, beserta segala kerukunan yang ada di dalamnya, yang para leluhur wariskan kepada kita harus dijaga dengan penuh syukur, kasih sayang, dan rasa persamaan perasaan. Persamaan perasaan yang saya maksud adalah satu rasa sakit, kita semua ikut merasakan kesakitan yang dirasakannya.

Jangan lagi berseteru, apalagi hanya karena soal agama. Tuhan tidak pernah senang melihat hambanya, sesama ciptaannya, saling bertikai satu sama lain. Kehadiran agama dimaksudkan Tuhan supaya menjadi pedoman hidup yang menuntun kita pada kebaikan dan keselamatan yang lebih besar. Apalagi kata "agama" itu sendiri berarti tidak kacau, yang artinya menghendaki lahirnya ketertiban sosial dan kerukunan antar golongan.

Jadi, fungsi agama adalah pertama adalah menghadirkan kohesi sosial; kedua, menciptakan kebaikan dan memberikan keselamatan yang lebih besar. Kebaikan dan keselamatan yang tak terhingga oleh apa pun di dunia ini. Pun, agar supaya semangat kerja bangsa ini tidak terganggu.

Bangsa ini memang sedang membutuhkan stabilitas sosial, keadaan yang kondusif, untuk menyongsong hari esok yang lebih baik. Karena jangan lupa, perseteruan antara Amerika dan Cina masih berlangsung di depan mata seluruh warga dunia. Jika kita abai menciptakan kondusifitas dalam tatanan sosial, kita akan tergilas dalam persaingan pasar global oleh hasrat negara-negara lain yang selama ini berniat menguasa seluruh sumber daya kita, alam maupun manusianya.

Percayalah, negara yang tatanan sosial-nya kacau-balau tak akan bisa menghasilkan apa-apa selain kekacauan itu sendiri. Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Maka marilah kita sambut kedatangan hari esok beserta segala tantangannya dengan riang gembira untuk Indonesia yang lebih baik. Indonesia emas, Indonesia yang lebih bermartabat di mata dunia.

Ingatlah bahwa hanya dengan rasa solidaritas dan semangat egaliter yang tinggi negara ini bisa kuat, sumber daya manusia (SMD) kita bisa unggul, Indonesia Jaya. Bahwa Indonesia yang Bersatu, Berdaulat, Adil, dan Makmur harus kita semua ciptakan sejak dini, sejak dalam pikiran, dan mewujudkannya dalam bentuk tindakan yang harmonis secara kolektif, inovatif, dan emansipatoris.

Akhir kata, salam Indonesia ramah, Indonesia kaya, Indonesia raya, Indonesia jaya, Indonesia yang kembali pada jalan keparipurnaannya.

Ikuti tulisan menarik Ardanmarua lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler