x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 18 Agustus 2019 23:49 WIB

Medsos, Ruang Publik yang Mudah Tersulut

Setelah cukup lama tidak terdengar kabarnya, tiba-tiba Ustad Abdul Somad [UAS] kembali jadi topik pembicaraan populer di jagat digital. Video ceramahnya diperdebatkan. Di luar pembicaraan tentang hal itu, ada isu lain yang layak didiskusikan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Setelah cukup lama tidak terdengar kabarnya, tiba-tiba Ustad Abdul Somad [UAS] kembali jadi topik pembicaraan populer di jagat digital. Video ceramahnya diperdebatkan. Di luar pembicaraan tentang hal itu, ada sudut pandang lain yang layak didiskusikan. Ini terkait dengan gejala yang tampak di media sosial bahwa kohesivitas sosial tampak begitu rapuh tatkala dihadapkan pada isu-isu yang sensitif.

Sebagai ruang publik yang terbuka, media sosial terlihat mudah tersulut oleh isu-isu kontroversial. Reaksi netizen cenderung lebih cepat dalam menanggapi isu-isu semacam itu, yang menandakan bahwa faktor emosional lebih cepat merespons dibandingkan faktor intelektual/rasional. Fenomena ini bukan hanya terjadi dalam konteks ceramah UAS, tapi juga dalam isu-isu lain, termasuk saat kampanye dan pemilihan presiden berlangsung.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kecepatan transfer informasi menjadi salah satu unsur yang memudahkan tersulutnya ruang publik ini. Selama ini, para pendukung teknologi internet membanggakan kecepatan sebagai unsur yang membedakan era sekarang dengan sebelumnya. Di media sosial, informasi personal, berita, komentar, dan rekaman audio-video berlalu-lalang sangat cepat dan saling tumpang tindih.

Kecepatan berkembang menjadi obsesi netizen: cepat mendapat informasi, cepat merespon, dan cepat menyebarluaskan. Manusia medsos terlatih benar  untuk melakukan semua itu. Sayangnya, kemampuan ini berpotensi menjerumuskan netizen untuk cepat menarik kesimpulan, cepat bereaksi, cepat berkomentar dan melupakan unsur penting dalam menerima informasi, yakni mencernanya terlebih dahulu dengan sebaik-baiknya dan mencari sumber-sumber lain untuk menguji kebenarannya.

Ketika keharusan memeriksa kebenaran informasi ini tidak dilakukan hanya karena ingin serba cepat, reaksi netizen berpotensi meleset dari kebenaran. Tentu saja, hal ini dapat berdampak buruk karena kemudian viral dan informasinya mengalami manipulasi ataupun amplifikasi. Netizen cenderung kehilangan konteks ketika memahami informasi karena ingin serba cepat.

Manipulasi dan amplifikasi merupakan dua hal yang mungkin terjadi dalam penyebaran informasi melalui internet maupun media sosial. Manipulasi informasi jelas mengandung unsur kesengajaan dengan niat buruk, misalnya untuk menyesatkan netizen lain. Informasi ditambah atau dikurangi, tapi bukan dengan tujuan memberi bobot untuk menemukan kebenaran, melainkan sebaliknya untuk menyesatkan.

Meskipun begitu, informasi yang diviralkan mungkin saja tidak sengaja keliru. Salah satu kemungkinan, dan ini kerap terjadi, ialah hilangnya satu kata atau salah ketik [typo] namun mengubah makna informasi yang disebarkan. Kata ‘tidak atau tak’ yang lupa diketik dapat membalikkan makna hingga 180 derajat dan berpotensi menimbulkan kegaduhan di ruang publik.

Dalam pembicaraan mengenai isu-isu yang sensitif atau kontroversial, amplifikasi tidak terhindari. Saling komentar di antara sesama netizen yang berbeda pandangan cenderung diwarnai amplifikasi untuk memperkuat argumentasi maupun menimbulkan kesan lebih hebat. Amplifikasi berpotensi meningkatkan ketegangan di ruang media sosial. Suhu di ruang maya digital ini dapat dengan mudah naik.

Kemampuan internet dan media sosial untuk dengan cepat memviralkan informasi juga mengandung tantangan di dalamnya [inheren]. Ketika netizen cenderung ingin cepat mem-posting informasi yang ia peroleh ataupun komentar yang ingin ia sampaikan kepada publik, mereka cenderung tidak berpikir panjang. Mereka enggan menunggu lebih lama untuk mengkaji lebih dulu apa yang sedang terjadi, apa lagi mencari bahan-bahan lain untuk memahami isunya.

Respons yang cepat disertai pemahaman persoalan yang tidak memadai menjadikan respons tersebut cenderung emosional. Berikutnya, emosionalitas yang meningkat ini berpotensi memperkuat amplifikasi—menambah-nambahi narasi sehingga terkesan lebih hebat. Di luar hal-hal itu tadi, pelebaran isu atau ekstensifikasi sangat mudah terpicu karena respons netizen yang viral dengan cepat, bukan hanya dalam satu grup medsos tapi berpindah antar grup, semakin sukar untuk dikontrol. Kita dapat membayangkan bahwa situasi ini berpotensi membawa netizen semakin jauh dari informasi yang benar dan dari kebenaran faktual. Opini menjadi lebih mudah untuk mendominasi pencarian kebenaran.

Unsur penting dari respons yang bertanggung jawab ialah kedewasaan dalam melihat persoalan. Keragaman latar belakang netizen menyulitkan tercapainya situasi yang cukup ideal seperti itu. Tak heran bila dalam isu-isu yang sensitif, media sosial bagaikan ruang publik yang mudah tersulut api. Keretakan kohesivitas sosial dapat dihindari atau dikurangi apabila netizen sama-sama bersikap dewasa dalam memahami informasi apapun yang berlalu-lalang demikian cepat di media sosial dan dewasa dalam menggunakan kebebasan untuk meresponnya. >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu