Kisah Wiranto: Digugat Rp 8 M, Kini Gugat Bekas Bendahara Hanura Rp 44,9 M - Viral - www.indonesiana.id
x

Menko Polhukam Wiranto (tengah) memberi keterangan pers usai meresmikan ruang kuliah bersama Universitas Matlaul Anwar di Pandeglang, sebelum ditusuk pasangan suami istri Syahril dan Fitri Andriana, sesaat turun dari mobil dan akan menuju helipad, di Menes, Banten, Kamis 10 Oktober 2019. ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki

Andi Pujipurnomo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Oktober 2019

Rabu, 6 November 2019 09:14 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Kisah Wiranto: Digugat Rp 8 M, Kini Gugat Bekas Bendahara Hanura Rp 44,9 M

    Dibaca : 2.607 kali

    Mantan Menko Polhukam  Jenderal Wiranto   tak  berhenti menyedot perhatian masyarakat.  Setelah  kasus penusukan  yang  menimpa dirinya di Padeglang, Banten, 11 Oktober lalu, kini mencuat lagi lewat  pemberitaan soal gugat menggugat.

    Wiranto diberitakan menggugat bekas bendahara umm Partai  Hati Nurani Rakyat  Bambang Sujagad Susanto  sebesar Rp 44,9 miliar berkaitan dengan wanprestasi atau ingkar janji.  Gugatan ini dilakukan lewat Pengadilan Jakarta Pusat.

    Yang menarik, sebelumnya  Wiranto justru yang mendapat gugatan.   Penggugatnya adalah mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen TNI Purnawirawan Kivlan Zen.   Penggugat  menuding Wiranto tak memenuhi hak Kivlan atas uang sebesar Rp 8 miliar, berkaitan pembentukan PAM Swakarsa pada 1998. Saat itu, Wiranto menjabat sebagai Panglima ABRI.  Gugatan ini dilakukan lewat Pengadilan Jakarta Timur, Agustus lalu.

    Gugatan Wiranto
    Seperti diberitakan oleh Kontan,  Wiranto menggugat Bambang Sujagad Susanto karena dianggap telah melakukan wanprestasi.   Ia meminta Bambang agar membayar uang yang jika diakumulasikan nilainya mencapai Rp 44,9 miliar.

    Gugatan itu dilakukan karena  sepuluh tahun lalu,  Wiranto  pernah menitipkan dana sebesar 2.310.000 dolar Singapura  kepada politikus Hanura itu. Dana itu setara dengan Rp 23 miliar.  Tergugat juga  diwajibkan membayar bunga 18,5 miliar, dan kerugian Rp 2,8 miliar.  

    Penitipan dana  itu dilakukan lewat Surat Perjanjian, Tertanggal 24 November 2009. Menurut  penjelasan pengacaranya,  Adi Warman,  kepada Kompas, kasus ini tidak sangkut pautnya dengan kepengurusan Hanura.  Uang juga titipan itu murni merupakan uang hasil usaha kliennya.

    "Tahun 2009 kan Pak Wiranto enggak menjabat di pemerintahan, tidak menjabat di mana-mana, beliau kan usaha, ya kan. Ya namanya ukuran uang segitu ya enggak besar banget lah, kecuali sedang menjabat di pemerintahan baru dipertanyakan, “ ujar Adi Warman .   Sejauh ini belum ada tanggapan dari  tergugat.  Kasus ini juga masih dalam tahap mediasi.

    Wiranto Digugat
    Sebelumnya,  Wiranto yang  justru digugat oleh Mayjen TNI Purnawirawan Kivlan Zen di Pengadilan Negeri  Jakarta Timur. Penggugat  menuduh Wiranto tak memenuhi  kewajiban ebesar Rp 8 miliar, berkaitan pembentukan PAM Swakarsa.

    Pam Swakarsa dibentuk pada 1998. Pasukan sipil ini digunakan militer untuk membendung aksi mahasiswa yang menuntut Sidang Istimewa MPR.  Menurut penggugat, pengeluaran buat Pam Swakarsa harus ditanggung oleh Kivlan selaku komandan pasukan tersebut.

    Pengacara penggugat, Tonin Tachta, menjelaskan,   Kivlan harus mengeluarkan dana dari kantong pribadi, hingga harus menjual rumah, mobil, dan berhutang. Saat itu, menurut Tonin, pemerintah hanya menggelontorkan dana sebesar Rp 400 juta untuk kebutuhan pasukan. Jumlah itu jauh lebih kecil dibanding yang telah Kivlan keluarkan.

    Wiranto enggan menanggapi soal gugatan itu. "Sudah saya bilang tak usah ditanggapi, saya senyum saja. Itu urusan masa lalu, urusan militer," ujar Wiranto , 13 Agustus 2019. "Nanti ada bantahan resmi menyeluruh, nanti dijelaskan. Tapi, semua itu tidak benar," katanya lagi. ***


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.120 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).