Menatap Nasib Rumput Laut Indonesia di Masa Depan - Analisa - www.indonesiana.id
x

indonesiana

Fajar Rizki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 November 2019

Rabu, 20 November 2019 16:38 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menatap Nasib Rumput Laut Indonesia di Masa Depan

    Dibaca : 179 kali

    Seperti yang kita ketahui, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara maritim di mana sebagian besar wilayahnya merupakan wilayah perairan. Wilayah perairan Indonesia didominasi oleh wilayah lautan yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Wilayah laut yang mendominasi, menjadikan berbagai jenis-jenis sumber daya alam berada di dalamnya sangat beragam, mulai dari berbagai jenis  ikan, teripang atau timun laut, mutiara, kepiting, udang, lobster, cumi-cumi, gurita, rumput laut, dan sebagainya. Salah satu biota laut potensial yang ada di Indonesia adalah rumput laut.

    Klasifikasi dan Manfaat Rumput Laut

    Istilah rumput laut yang kita kenal mungkin hanya sebatas salah satu komponen utama dalam es rumput laut yang kita minum, namun rumput laut secara ilmiah dikenal dengan istilah alga atau ganggang. Rumput laut termasuk salah satu anggota alga yang merupakan tumbuhan berklorofil. Keberadaan rumput laut di Indonesia sendiri sangat beragam dan terdiri dari berbagai klasifisikasi dan memiliki pemanfaatan yang berbeda, diantaranya :

    • Rumput laut merah (Rhodophyceae)

    Rumput laut merah ini dikenal sebagai penghasil karagenan dan agar. Rumput laut merah sendiri terbagi menjadi dua kelompok, yaitu :

    • Kelompok agarofit yakni rumput laut merah penghasil koloid agar dan asam agarinik, yang di dunia industri kelompok ini dimanfaatkan sebagai bahan makanan, di sektor pertanian digunakan sebagai media tumbuh jaringan tanaman, dan di bidang kesehatan dimanfaatkan sebagai obat anti desentri/diare dan anti gondok.
    • Kelompok karagenofit yakni rumput laut merah penghasil koloid karagenan, asam karagenik dan garam karagenat. Karagenan dari kelompok ini dimanfaatkan dalam industri makanan. Karaginan dapat dimanfaatkan seperti al-gin, sebagai bahan kosmetik, farmasi, pasta gigi dan salep. Khasiat lain dari kelompok ini adalah dapat digunakan sebagai obat alami anti mikroba dan anti kesuburan.
    • Rumput Laut Hijau (Chlorophyta)

    Rumput laut hijau lebih dikenal sebagai bahan sayur mayur yang sering dimanfaatkan diberbagai bidang. Di bidang peternakan rumput laut hijau digunakan sebagai bahan industri pakan campuran ternak. Selain itu, rumput laut hijau juga digunakan dalam industri makanan baik sebagai makanan olahan maupun makanan tanpa olah (langsung dapat dimakan).

    • Rumput Laut Coklat (Phaeophyta)

    Rumput laut coklat lebih dikenal sebagai penghasil algin dan iodine. Pemanfaatannya dalam bidang industri kosmetik digunakan sebagai bahan pembuat sabun, fomade, cream, body lution, sampo dan cat rambut, di bidang industri farmasi digunakan sebagai bahan pembuat pembuat kapsul obat, tablet, emulsifier, salep, suspensi, dan lain sebagainya. Selain itu, rumput laut coklat juga dimanfaatkan di bidang pertanian yang digunakan sebagai bahan campuran insektisida dan pelindung kayu, sedangkan di bidang industri makanan digunakan sebagai bahan saus, dan campuran mentega.

     

    Produksi Rumput Laut di Indonesia

    Berdasarkan klasifikasi dan pemanfaatannya tersebut menjadikan rumput laut menjadi ‘aset’ yang potensial untuk tetap diproduksi dan dibudidayakan. Potensi budidaya rumput di Indonesia didasarkan dengan adanya potensi indikatif kawasan budidaya laut 12,12 juta hektar, potensi indikatif kawasan budidaya rumput laut 2,64 juga hektar, dan potensi efektif untuk budidaya rumput laut sebesar 1,58 juta hektar.

    Potensi-potensi tersebut juga selaras dengan data Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-2 penghasil rumput laut di dunia setelah Tiongkok (FAO, 2019). Selain itu, produksi rumput laut di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, di mana pada tahun 2013 – 2017 terjadi peningkatan sebesar 4,11 persen dengan produksi pada tahun 2017 mencapai 10.815.952 ton. Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Subiyakto mengatakan, selama lima tahun terakhir, volume produksi rumput laut di Indonesia, mengalami tren positif, di mana terdapat pertumbuhan sekitar 11,8 persen per tahunnya.

    Produksi yang tinggi tersebut juga berpengaruh terhadap perekonomian di Indonesia, di mana nilai ekspor rumput laut Indonesia mengalami rata-rata pertumbuhan selama periode tahun 2013 – 2017 sebesar 3,09 persen per tahun. Tren positif terkait produksi rumput laut menjadikan Kementerian Kelautan dan Perikanan yakin untuk menargetkan produksi rumput laut bisa mencapai 13 juta ton pada 2024. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menyebutkan penetapan target tersebut mempertimbangkan pasar rumput laut yang masih cukup bagus dan masih banyaknya lokasi yang bisa dikembangkan untuk budidaya rumput laut.

    Menjaga Rumput Laut Tetap Lestari

    Potensi yang memadai dari komoditas rumput laut ini yang dibuktikan dengan peningkatan produksi rumput laut di Indonesia tiap tahunnya, harus diiringi dengan upaya untuk menjadikan rumput laut agar tetap menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah dengan adanya Program dan Kegiatan Pengembangan Industri Rumput Laut Tahun 2017 yang meliputi :

    • Pengembangan kebun bibit rumput laut sebanyak 104 unit atau seluas 6,5 hektar
    • Pengembangan laboratorium kultur jaringan untuk membantu penelitian terkait kandungan dan manfaat yang ada di dalam rumput laut.
    • Pengembangan produk baru yaitu lawi-lawi atau anggur laut yang merupakan inovasi dengan menciptakan varian rumput laut bernilai ekonomis tinggi dan dilakukan melalui perekayasa teknologi.
    • Pengembangan budidaya rumput laut di dua Sentra Kelautan Perikanan Terpadu (SKPT) di Rote Ndao dan Sumba Timur .
    • Bantuan sarana prasarana budidaya sebanyak 115 unit atau 28,8 hektar yang sebagian besar tersebar di wilayah timur Indonesia.

    Selain adanya Program dan Kegiatan Pengembangan Industri Rumput Laut Tahun 2017, juga terdapat Progam Dukungan Kebun Bibit Rumput Kultur Jaringan, Tahun 2018 yang difokuskan di dua wilayah, yaitu Kabupaten Fakfak, Papua dan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Program tersebut menargetkan 80 unit atau sekitar 20 hektar dengan total pembudidaya sebanyak 4.440 orang. Progam Dukungan Kebun Bibit Rumput Kultur Jaringan, Tahun 2018 diharapkan dapat memproduksi 22.400 ton dengan nilai produksi sebsesar 17,92 milyar rupiah.

    Kedua program tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dapat mengoptimalkan budidaya rumput laut sehingga produksi rumput laut juga akan meningkat sehingga target produksi rumput laut sebesar 13 juta ton pada 2024 dapat tercapai. Oleh sebab itu, upaya tersebut tidak akan berjalan dengan optimal tanpa adanya kerjasama dan partisipasi aktif masyarakat untuk menjaga rumput laut agar tetap menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia. Mari wujudkan Indonesia menjadi negara adidaya rumput laut dunia!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.