Kasus Jasmine Wajib Menjadi Perhatian: Di Usianya Lebih Memilih Sepak Bola daripada Sekolah - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Jasmine

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 6 Januari 2020 18:26 WIB
  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Kasus Jasmine Wajib Menjadi Perhatian: Di Usianya Lebih Memilih Sepak Bola daripada Sekolah

    Dibaca : 1.674 kali

    Pendidikan formal pesepak bola di Indonesia selama ini sangat jauh dari perhatian, baik dari stakeholder pendidikan di Indonesia maupun dari federasi sepak bola tanah air bernama PSSI. 

    Terlebih sejak PSSI berdiri, tercatat belum pernah ada kerjasama antara PSSI dan Kementerian Pendidikan Indonesia, padahal bicara sepak bola yang di dalamnya ada pembinaan, pelatihan, pendidikan, pembina, pelatih dll, maka jelas tak dapat dipisahkan dari kata "kurikulum atau Program" pembinaan dan pelatihan sebelum pesepak bola menjadi pemain nasional. 

    Sejatinya sangat-sangat terlambat PSSI tidak pernah menyadari akan pentingnya kerjasama yang sangat vital ini, hingga kini muncul kasus Jasmine, media massa akhirnya menyorot bila PSSI turun tangan. 

    Ke mana saja selama ini PSSI? Lucu rasanya membaca berita bila PSSI turun tangan, dan sampai ada kasus seorang pesepak bola, blak-blak-an lebih memilih putus sekolah, ketimbang bermain bola. 

    Coba tengok tentang berita bahwa, PSSI langsung bertindak menanggapi permasalahan yang dihadapi oleh pemain Timnas Putri U-16 Indonesia, Jasmine Sefia Wainie Cahyono, Minggu (5/1/2020). 

    Seperti pahlawan kesiangan, Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan menegaskan, PSSI sangat memperhatikan pendidikan pemain tim nasional. PSSI tidak ingin ada satu pun pemain yang putus sekolah karena alasan apa pun. 

    Namun, bersyukur juga, atas kasus Jasmine, Ketum PSSI baru ini bersuara menyoal pendidikan pemain sepak bola Indonesia, sebab Ketum PSSI sebelum-sebelumnya juga adem ayem saja dengan kasus pendidikan pemain sepak bola yang tak jauh berbeda dengan kasus Jasmine. 

    Untuk kasus Jasmine, memang sangat memiriskan hati. Bagaimana tidak, pemain Timnas Putri U-16 Indonesia, Jasmine Sefia Wainie Cahyono menjadi perbincangan publik setelah memutuskan untuk berhenti bersekolah dan memilih melanjutkan karier di sepakbola, seperti Jumat (3/12/2020). 

    Keputusan Jasmine ini bahkan disiarkan oleh si pemain melalui unggahan Instagramnya yang meminta maaf kepada semua pihak atas keputusannya berhenti sekolah dan menyebut tak ingin membebani ayahnya perihal masalahnya di sekolah. 

    Karenanya, Jasmine memutuskan untuk berhenti bersekolah dan memilih melanjutkan karier sepakbolanya. Bahkan dalam unggahan Instagramnya tersebut, Jasmine malah tampak tersenyum mengenakan jersey Arema Malang. 

    Ini siapa yang salah. Apakah Jasmine yang masih belum dewasa? Atau para pembina dan pelatih sepak bolanya? Atau PSSI? Hingga anak seusia Jasmine lebih memilih memasuki dunia kerja "sepak bola" dan mengabaikan pendidikan formal? 

    Dasar Jasmine, melalui caption-nya, Jasmine juga menuliskan harapannya agar persepakbolaan Indonesia semakin maju. "Saya Jasmine mohon maaf sebesar2nya kepada semua publik Saya tak ingin bebani ayah mending untuk hari ini dan seterusnya saya putuskan untuk berhenti sekolah dan bermain sepakbola majulah indonesia majulah indonesia," tulis Jasmine. 

    Di usia yang masih belia dan belum dewasa, Jasmine sementara memang telah "terbuai" oleh sepak bola, yang tentu segala aspek di dalamnya akan lebih menyenangkan di banding aspek sekolah formal. 

    Namun, Jasmine masih terlalu hijau dalam memahami karir sepak bola. Jasmine belum memahami bahwa berdasarkan catatan hingga ranking FIFA Indonesia terpuruk, karena pemain sepak bola Indonesia masih jauh dari cerdas intelegensi dan personaliti. 

    Dalam perkembangan Timnas terkini, speed (fisik) pemain sepak bola kita juga lemah. Sepak bola Indonesia selama ini hanya berharap dan berkutat pada kemampuan pemain yang hanya ditopang oleh bakat alam (teknik) pemain saja. 

    Sebab, pemain lebih banyak tak menerima asupan pendidikan di bangku sekolah formal, sehingga tak terasah dari sisi pedagogi (kognitif, afektif, dan psikomotor). 

    Jadi, Jasmine dan sudah pasti remaja seusianya lebih memilih kehidupan yang menyenangkan saja, tanpa berpikir "jauh". 

    Bagaimana pihak sekolah formal akan memberikan nilai rapor Jasmine, bila kehadiran tatap muka di kelas dengan setiap bidang mata pelajaran tak memenuhi prosentasi kehadiran, pun nilai tugas dan ulangan-ulangan yang memang menjadi prasyarat naik kelas/lulus sekolah. 

    Turun tangannya PSSI, agar Jasmine tetap bersekolah, dengan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan langsung meminta pengurus PSSI untuk berkoordinasi dan mengambil langkah yang diperlukan, agar hal tersebut dapat ditangani dengan cepat, semoga saja bukan hanya sekadar menangani kasus Jasmine. 

    Berapa banyak anak-anak semacam Jasmine yang bahkan malah dikirim oleh orangtuanya dari berbagai daerah Indonesia bergabung dengan sekolah sepak bola atau akademi sepak bola, lalu tinggal di mes dan pendidikan formal malah terus menjadi sekadar formalitas. 

    Apa tujuan orangtua mereka? Berharap anaknya menjadi pemain Timnas. Bila mentok, jadi pemain Liga Indonesia pun tak apa. Bila mentok lagi, minimal bekal kemampuan bakat bermain sepak bola nya dapat untuk melamar kerja. 

    Sangat luar biasa, pemikiran sederhana dan instan para orangtua ini. Lebih miris, kini, di berbagai kompetisi sepak bola usia dini dan muda yang di gelar pihak swasta, sudah beredar pemain-pemain perantauan dari berbagai daerah Indonesia membela tim di liga-liga swasta tersebut, khususnya di Jabodetabek. 

    Orangtua dan anak banyak yang tak menyadari bahwa berkarir di dunia sepak bola khususnya, di Indonesia jauh dari menggaransi hidup mereka di masa tuanya. 

    Klub-klub yang mentereng dan terlihat kaya dan "jor-jor-an" dalam merekrut pemain, sudah banyak terbukti, kolaps atau gulung tikar di tengah jalan, karena sepak bola Indonesia masih jauh dari kata industri dan profesi. 

    Bahkan, mantan pemain timnas saja kini banyak yang rela hanya sekadar menjadi pelatih SSB demi menyambung hidup. Atau bermain tarkam bagi yang masih mampu. 

    Selebihnya tak tak tertampung di SSB. Meski ada juga yang akhirnya mampu mendirikan SSB atau akademi-akademi-an sepak bola. 

    Ini semua karena tak seimbangnya antara asupan pendidikan formal dan asupan pendidikan sepak bola para pemain bersangkutan. 

    Hanya mantan pemain yang "beruntung" dan "bertalenta" sajalah yang akhirnya dapat bersyukur dapat terus berkarier setelah pensiun jadi pemain sepak bola. 

    Yang pasti, sudah bukan rahasia lagi, karier gemilang di lapangan hijau biasanya tak sejalan dengan pendidikan formal di kehidupan. Bila kita menelisik lebih dalam terhadap akar masalah pesepak bola ini terkait dengan pendidikan, karena para pelatih/pembinanya, secara turun temurun juga mendapat pendidikan di lingkungan sepak bola yang tidak jauh berbeda. 

    Selama ini, para pelatih, klub, dan manajer sepak bola amatir,  profesional, hingga Timnas, tidak pernah peduli tentang apa yang telah dipelajari oleh pesepak bola saat di sekolah atau perguruan tinggi.  Yang ada dan satu-satunya hal terpenting bagi mereka adalah cara pemain menggunakan bakat mereka meraih kemenangan di lapangan sesuai program yang telah digariskan.

    Sehingga, dampak bagi pemain, merasakan bahwa pendidikan di sekolah tak ada gunanya di lapangan hijau. Akibatnya membuat pendidikan formal para pesepak bola lebih banyak terabaikan dan diabaikan oleh seluruh stakeholder sepak bola. 

    Mereka semua tak menyadari bahwa kehidupan menjadi pesepak bola di batasi oleh usia. Dan pada akhirnya, kini kita melihat banyak pelatih dan ofisial klub juga hanya berbekal pengalaman di sepak bola dalam menangani klub jauh dari paham dan kompeten dalam aspek pedagogi yang sangat dibutuhkan pemain.

    Klub profesional pun akhirnya hanya ditangani oleh mantan-mantan pesepak bola berdasarkan "pengalamannya" bukan karena profesionalisme yang di dapat dari pendidikan formal. 

    Bila kita melihat banyak pelatih dan pemain sepak bola profesional dan pemain Timnas di mancanegara ada yang yang bergelar sarjana dan master, maka ini harus menjadi contoh konkrit bagi PSSI, sebab pemain profesional dan Timnas Indonesia tak demikian. 

    Contoh-contoh pesepak bola dunia yang berhasil dalam pendidikan formal semisal saya ungkap ada 5 pemain timnas dari lima negara. Andrey Arshavin (Rusia). Dia adalah salah satu pemain sepak bola paling berbakat dan dikenal di pertengahan 2000-an. Seorang maestro di lapangan. Namun, Arshavin ternyata memiliki gelar pendidikan sebagai perancang busana, dan gelar master pada saat itu. Selain itu, karyanya juga tercatat di seluruh Rusia, dan dianggap sebagai salah satu desainer paling terkenal di negaranya. 

    Berikutnya, Giorgio Chiellini (Italia), salah satu pemain bertahan terbaik di dunia dari Italia. Chiellini ternyata merupakan sarjana lulusan ekonomi dan perdagangan di Universitas Turin. Selain sebagai pemain klub dan  timnas Italia, dia telah menyelesaikan gelar sarjana pada Juli 2010, kemudian memperoleh gelar Master di bidang yang sama pada Juli 2017. 

    Kemudian pemain lainnya ada Juan Mata (Spanyol). Dia mampu menyelesaikan pendidikannya dan telah menyandang gelar dalam Ilmu Olahraga dan Keuangan Universitas Camilo Jose Cela di Madrid. 

    Lalu Edwin van der Sar (Belanda). Dia juga mendapatkan gelar Master-nya di Manajemen Olahraga Internasional setelah sebelumnya menyelesaikan gelar sarjananya di bidang yang sama. 

    Disusul Frank Lampard (Inggris). Sangat mengagumkan karena prestasinya di luar sepak bolanya, juga memahami budaya Latin dengan baik karena memiliki gelar sarjana bahasa Latin dengan nilai A. 

    Siapa pesepak bola nasioanal yang tuntas mendapatkan gelar sarjana atau master? Dia adalah penyerang tajam Boaz Solossa, mantan pemain Timnas Indonesia.  Menyandang gelar sarjana usai lulus dari Universitas Cenderawasih, Papua. Boaz lulus pada 2013 lalu. 

    Kemudian, juga mantan pemain Timnas, Ricardo Salampessy, menyandang gelar Sarjana Administrasi Negara (S.Adm). Salampessy lulus dari Universitas Cenderawasih pada 2017. 

    Selanjutnya, Ferinando Pahabol. Pemain kelahiran Kabupaten Yahukimo ini juga menyandang gelar Sarjana Ekonomi (S.E) usai menempuh pendidikan di Universitas Cenderawasih tahun 2015. 

    Pemain naturalisasi Indonesia Raphael Maitimo juga memiliki gelar Sarjana Ekonomi Perdagangan. Mendapatkan gelar tersebut dari Rotterdam University of Applied Sciences, dan bila didata semoga masih banyak yang lainnya. 

    Dari data dan fakta tersebut, kita dapat melihat bagaimana saat pemain-pemain yang memiliki gelar sarjana hingga master tersebut berlaga di lapangan. Bukan hanya kemampuan yang melulu dari bakat yang di unjuk-kan. Tetapi juga nampak kecerdasannya dalam cara bermain karena ada asupan pendidikan formal. 

    Setelah pensiun dan gantung sepatu pun, ada garansi untuk kelanjutan karirnya. 

    Di luar sepak bola, buruknya sistem industri olahraga tanah air yang juga tak bersinggungan dengan dunia pendidikan formal, bukan hanya menyangkut sepak bola, akibatnya kita dapat menemui banyaknya para mantan atlet yang di masa senja tertatih-tatih dalam menjalani hidup. 

    Miris, beberapa atlet Olimpiade atau SEA Games banyak diberitakan menjual medali yang dahulu membuat mereka dipuja-puja. 

    Olahraga telah berubah menjadi industri hiburan, tetapi posisi atlet tidak bisa menikmati kejayaan seperti layaknya para  selebritis. 

    Seorang musisi atau aktor bisa menikmati hari tua dengan bersandar pada royalti. Banyak dari mereka yang masih bisa berkiprah di hari tua karena tabungan dari karyanya pun masih dapat berkarir sesuai jenjang pendidikan formalnya. 

    Berbeda dengan atlet. Muda dipakai, saat tua tubuh yang segar dan otot yang liat menjadi loyo. Sudah begitu tak ada tabungan "royalti" atau tabungan "pendidikannya". 

    Harus ada sinergi antara PSSI dan federasi olahraga di tanah air dengan Kementerian Pendidikan, menyoal pendidikan formal para atlet ini. 

    Harus lahir wadah pendidikan yang terakreditasi bagi mereka. Sehingga kasus Jasmine yang lebih memilih tak sekolah karena lebih nyaman bermain bola saat tubuh masih terpakai, cepat ada tindakan dan penyadaran.

    Pendidikan formal  adalah pondasi mutlak pemain sepak bola yang menjadikan pemain nasional kaya kecerdasan. Sepak bola modern adalah kuatnya akal dan pikiran "intelgensi", bukan karena bakat! Catatlah PSSI. 

    Jangan sampai lahir kasus Jasmine-Jasmine lainnya dan cek riceklah perjuangan orangtua dan pemain usia dini dan muda yang kini juga sudah merantau demi nasib di sepak bola.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.