Risiko Menjadi Pesepak Bola di Indonesia - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Risiko

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 20 Januari 2020 11:12 WIB
  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Risiko Menjadi Pesepak Bola di Indonesia

    Dibaca : 1.939 kali

    "Menggeluti sepak bola di Indonesia, tak ubahnya seperti mengonsumsi gula. Manis rasanya, namun masih berat menanggung risikonya."

    (Supartono JW.20012020)

    Dari jutaan pemain sepak bola usia muda yang tersebar di berbagai klub, Sekolah Sepak Bola (SSB), Akademi Sepak bola (ASB), diklat Sepak bola (DSB), hingga pusat pelatihan pelajar di seluruh Indonesia serta pemain Indonesia atau yang berdarah Indonesia di luar negeri, khususnya untuk kelompok pemain usia 19 tahun, ternyata, di tangan pelatih timnas Indonesia baru, Shin Tae-yong, hanya dipilih 28 pemain. 

    Mengapa hanya 28 pemain? Ternyata, Shin Tae-yong  memiliki kriteria dalam memilih 28 pemain Timnas U19 Indonesia, padahal ada 53 pemain dari seluruh Indonesia dan manca negara yang dipanggil untuk menjalani seleksi di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, sejak Senin (13/1/2020). 

    Dari 28 pemain yang sudah dipilih, ternyata masih ada pemain U-19 yang belum berkesempatan mengikuti seleksi karena sedang bergabung dengan tim Garuda Select atau bisa jadi akan ada "usulan" penambahan pemain dari "pihak tertentu". 

    Proses seleksi melalui TC pun masih akan berlanjut ke Thailand, dan pada akhirnya, saat timnas U-19 harus terbentuk hanya akan tersisa 23 an pemain yang terpilih masuk tim untuk berlaga di Piala Asia U-19 dan Piala Dunia U-20.  Artinya, dari jutaan pesepak bola muda Indonesia khususnya U-19/20, yang akan terpilih dalam tim utama timnas Indonesia hanya berjumlah puluhan. 

    Begitupun untuk timnas kelompok umur U-16, U-23, dan timnas senior, akan terjadi persoalan yang sama. Padahal sesuai jumlah rakyat Indonesia yang tersebar di berbagai pulau, berbagai provinsi/kabupaten/kota/kecamatan/kelurahan/desa, yang memilih dan menggantungkan sepak bola untuk hidup, bisa dibentuk ratusan timnas sepak bola Indonesia. 

    Namun, karena timnas hanya ada satu, maka pemain yang sama-sama layak masuk timnas pun tetap saja tak dapat menembus gerbong timnas yang kuotanya terbatas sesuai regulasi FIFA/AFC/AFF. 

    Setali tiga uang, klub-klub dalam liga PSSI di semua kasta pun terbatas, dan tak mampu menampung semua pemain sepak bola di seluruh negeri ini menjadi bagian dari tim, meskipun hanya sekadar klub liga 3 Nusantara. 

    Fakta lainnya, menjamurnya pembinaan sepak bola akar rumput di SSB, ASB, DSB, dan sebagianya, juga membawa uforia tersendiri bagi para pembina, pelatih, orangtua, dan pemain untuk bermimpi masuk timnas Indonesia yang memberikan kursi hanya untuk puluhan pemain saja. 

    Namun, mereka juga tak patah arang, tak masuk timnas tak apa, syukur-syukur masuk klub liga 1 U-16/18/20 hingga senior. Kalau tidak masuk, syukur-syukur masih bisa terpilih di klub Liga 2. Bila tak terpilih juga, semoga ada klub liga 3 yang mau menggunakan jasanya. 

    Apesnya, selama ini, jutaan anak usia dini dan usia muda Indonesia yang bercita-cita menjadi pemain timnas/klub profesional untuk garansi kehidupannya, ternyata tak tercapai, padahal sudah mengorbankan berbagai hal, termasuk meninggalkan bangku sekolah formal, melanglang buana ke berbagai SSB/ASB/DSB di berbagai daerah Indonesia hingga ke luar negeri, namun ujungnya tak menjadi pemain di klub mana-mana karena terbatasnya kuota dan kerasnya persaingan. 

    Itu semua adalah sebagian kecil dari hal-hal yang dilihat dari fenomena mimpi dan cita-cita anak usia dini dan muda Indonesia yang memilih sepak bola sebagai pilihan hidupnya. 

    Fakta berikutnya, coba kita lihat, bagaimana kehidupan mantan pemain sepak bola Indonesia di kasta yang paling bergengsi, yaitu timnas dan liga 1, setelah usia tak lagi memungkinkan dan kemampuan juga sudah kalah bersaing. Yang tidak "menyiapkan diri" dengan bidang lain di luar sepak bola, tentu akan berkutat hidup dari sepak bola, semisal turun menjadi pelatih. 

    Tetapi, lagi-lagi, jangankan menjadi pelatih nasional atau klub, yang jumlahnya terbatas, menjadi pelatih SSB/ASB/DSB dan sejenisnya saja belum tentu diterima karena mantan pesepak bola yang sudah "tak laku" menjadi pemain, jumlahnya juga cukup banyak. 

    Bagi mantan pesepak bola yang akhirnya menjadi pelatih klub/SSB/ASB/DSB dan sejenisnya, bila tak memiliki sumber di kehidupan lain, tentu akan keteter juga dalam soal ekonomi. Begitulah kisah yang nyata dari risiko memilih dan bercita-cita menjadi pemain sepak bola murni di Indonesia, hingga kini, tanpa ada embel-embel sumber mata pencaharian lain. 

    Sementara, hingga kini juga, paradigma anak dan orangtua masih tak berubah, bahwa untuk menjadi pemain sepak bola tak perlu sekolah atau belajar. Paradigma inilah yang terus menjadi "racun" bagi ketangguhan timnas Indonesia (jauh dari cerdas) dan banyaknya mantan pesepak bola atau pesepak bola yang masih diusia produktif, menjadi pengangguran. 

    Sebab, tanpa didasari oleh ilmu-ilmu dari sekolah formal, pesepak bola akhirnya lemah kecerdasan dan tanpa disadari, memilih fokus di sepak bola di masa muda dan usai produktif, secara otomatis menutup diri dari berbagai kesempatan di bidang pekerjaan di luar sepak bola, karena tak memiliki modal keahlian dan ijazah formal. 

    Namun begitu, pesona, dan daya tarik permainan sepak bola, tetap saja membius mereka, bahkan sepak bola adalah candu (ketagihan) bagi para pemain. 

    Lebih dari itu, sepak bola adalah candu bagi para pengurus PSSI, klub, wasit, voter PSSI, hingga para mafia, karena sepak bola dapat dijadikan berbagai alat dan kendaraan mereka untuk menjadi mesin uang dengan menghalalkan segala cara. 

    Begitulah ironi sepak bola Indonesia sepanjang masa, makanya timnas senior sulit berprestasi. 

    Apakah hadirnya Shin Tae-yong akan semudah membalik telapak tangan dengan mendobrak paradigma jadul mimpi orang tua dan anak usia dini dan muda yang bermimpi dan merangsak memaksakan diri berupaya menjadi pemain nasional yang kursinya terbatas? Setelah pensiun menjadi pesepak bola, lapangan kerja juga terbatas?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.