Sejarah SSB di Indonesia dan Perlunya Lahir APSBARI - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Sejarah SSB

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 24 Januari 2020 06:12 WIB
  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Sejarah SSB di Indonesia dan Perlunya Lahir APSBARI

    Dibaca : 4.482 kali

    Jangan bilang Anda pembina sepak bola akar rumput Indonesia, bila tak memahami sejarah SSB. (Supartono JW.23012020)

    Sejak Kepengurusan PSSI  di jabat oleh Ketua Umum pertama, Soeratin Sosrosoegondo (1930 - 1940), kedua: Artono Martosoewignyo (1941 - 1949), ketiga: Maladi (1950 - 1959), keempat: Abdul Wahab Djojohadikoesoemo (1960 - 1964) kelima: Maulwi Saelan (1964 - 1967), keenam: Kosasih Poerwanegara (1967 - 1974), ketujuh: Bardosono (1975 - 1977), kedelapan: Ali Sadikin (1977 - 1981), kesembilan: Sjarnoebi Said (1982 - 1983), kesepuluh: Kardono (1983 - 1991),  kesebelas: Azwar Anas (1991 - 1999), dan keduabelas: Agum Gumelar (1999 - 2003), baru di bawah kepemimpinan Agum Gumelar, nama Sekolah Sepak Bola (SSB) muncul di Indonesia. 

    Munculnya nama SSB

    Kemunculan nama SSB, saya sebut diprakarsai oleh Pembina Usia Muda PSSI saat itu, almarhum Ronny Pattinasarany. 

    Sayangnya, sejak nama SSB digaungkan, dan langsung menjamur di periode tahun 1999 hingga 2003 di era Agum Gumelar, hingga kini, fungsi dan kedudukan SSB dalam ranah pembinaan sepak bola akar rumput di Indonesia masih bak anak tiri di PSSI. 

    Bahkan meski ada kepanjangan tangan PSSI di daerah, yaitu Asprov, Askab, dan Askot, tetap saja pembinaan dan kompetisi SSB lebih banyak dikelola olah pihak swasta dan orang tua. 

    Namun, saat  klub dan PSSI butuh pemain usia muda, seolah SSB hanya "sapi perah" saja. SSB yang sudah bersusah payah membina anak-anak usia dini hingga usia muda, akhirnya hanya gigit jari, ketika orangtua dan pemain binaannya dicomot sana-sini oleh klub dan PSSI tanpa ada regulasi yang membela SSB dan para pembinanya. 

    Sebagai catatan, setelah periode kepungurusan PSSI beralih  dari  Agum Gumelar, meski nama SSB sudah masuk dalam struktur pembinaan PSSI, termyata dari kepengurusan  lanjutan PSSI di bawah Nurdin Halid (2003 - 2011), Djohar Arifin Husin (2011 - 2015), La Nyalla Mattalitti (2015 - 2016), Edy Rahmayadi (2016 - Januari 2019),  Joko Driyono (Januari - Maret 2019),  Iwan Budianto (Maret - November 2019), dan Mochamad Iriawan (November 2019 - Sekarang), bagaimana nasib SSB? 

    Ternyata, teraktual, bahkan kompetisi Liga 1 Elite Pro Academy (EPA) yang diselenggarakan oleh PSSI, sama sekali tak menghargai keberadaan SSB. 

    Untuk kebutuhan EPA U-16/18/20, sebagian besar klub-klub liga 1 yang tak pernah membina pemain seenaknya asal comot pemain dengan berbagai dalih dan mengganggap SSB tidak ada, karena pemain yang dicomot pun wajib meminta surat keluar dari SSB sesuai regulasi yang dicipta PSSI. 

    Dulu, saat Ronny atas nama Pembina Usai Muda PSSI akhirnya menggelar turnamen SSB perdana, dari 16 SSB yang dipilih mewakili Jabodetabek menjadi cikal bakal menjamurnya SSB di Indonesia, sejatinya 16 tim tersebut belum resmi menggunakan nama SSB, karena rata-rata masih bernama klub/fc. 

    Karena turnamen yang diselenggarakan adalah dalam rangka mengapungkan dan mengenalkan nama SSB secara nasional, maka 16 tim yang terpilih dalam turnamen semuanya berganti nama manjadi SSB dan turnamen itu bernama: Kid's Soccer Tournament 1999. 

    Kid's Soccer Tournament

    Kid's Soccer Tournament adalah sejarah awal lahirnya SSB di Indonesia yang diinisiasi oleh Direktur Pembina Usia Muda PSSI dengan dukungan penuh sponsor utama Matahari Department Store tbk, plus dukungan spesial Tabloid GO. 

    Saat itu sungguh sangat indah melihat kolaborasi antara PSSI dengan Direktur Pembina Usia Muda yang langsung bergerak turun, Matahari Department Store tbk. mendukung dengan gelontoran dana, lalu Tabloid GO menjadi corong publikasi. 

    Yang menarik, saat itu, di organsasi PSSI, meski SSB belum hadir dalam konsep pembinaan persepakbolaan akar rumput, apalagi adanya pemikiran mengenai wadah pembinaan dan pelatihan bernama SSB, namun, Ronny justru bergeming dengan menghadirkan inovasi turnamen Kids Soccer Tournamen tersebut. 

    Lebih menarik lagi, ternyata 16 SSB yang mewakil Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok. (Saat itu Depok belum menjadi anggota Jabodetabek, hingga akhirnya saya mengusulkan lahirnya akronim Jabodetabek melalui artikel di Harian Warta Kota, Kamis, 11 Mei 2000). 

    Demi penyeragaman, karena peserta turnamen belum semua bernama SSB, dan masih berbentuk klub, ditambah nama SSB belum familiar, maka Ronny menyeragamkan 15 tim menjadi berlabel SSB, kecuali ASIOP Apacinti. 

    SSB Pelopor

    Berikut adalah SSB yang terpilih dalam turnamen perdana yang berlangsung di Stadion GMSB Kuningan, Jakarta, 3-11 Juli 1999 dan mencatatkan sejarah sebagai SSB yang mengikuti turnamen SSB perdana secara resmi yang digelar oleh PSSI, yaitu: AS IOP, Bina Taruna, Mutiara Cempaka, Sukmajaya, Gala Puri, Bekasi Putra, Pelita Jaya, Jayakarta, BIFA, Pamulang, Harapan Utama, Bintaro Jaya, Bareti, Camp 82, Depok Jaya dan Kemang Pratama. 

    Dari 16 SSB peserta turnamen SSB resmi tersebut, dapat dilihat, hingga kini mana SSB yang bertahan. Namun, yang pasti, itulah 16 SSB cikal bakal yang melahirkan SSB menjamur di Indonesia. 

    Yah, Kids Soccer Tournamen, adalah tonggak kebangkitan sepakbola akar rumput Indonesia, tonggak hadirnya sebutan SSB, tonggak turnamen usia muda pertama di Indonesia, dan tonggak hadirnya sponsor dana dan sponsor media terbesar perdana juga. 

    Catatan ini saya tulis kembali untuk publik sepakbola nasional, khususnya bagi SSB baru yang belum memahami sejarah SSB di Indonesia. 

    Bahkan,  PSSI sendiri barangkali tidak memiliki catatan bahwa peristiwa Kids` Soccer Tournamen" adalah peristiwa bersejarah bagi kelahiran sepakbola akar rumput (usia dini dan muda) dengan wadah bernama SSB di Indonesia. 

    Upaya standarisasi SSB/Akademi

    Sejak hadirnya Kids` Soccer Tournament, wadah pembinaan akar rumput menjamur. SSB bertebaran di setiap provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, kelurahan, rukun warga (RW), hingga di area rukun tetangga (RT) seantero nusantara, seluruh Indonesia. 

    Bak air bah, wabah SSB begitu membludak, hingga akhirnya saya mendorong PSSI agar melakukan pengawalan terhadap aset persepakbolaan akar rumput Indonesia dengan menulis artikel Memantapkan Kedudukan SSB (Selasa, 10 Agustus 1999) di Tabloid GO. 

    Tak henti saya mengangkat persoalan SSB dan yang melingkarinya melalui artikel-artikel di Tabloid GO dan lainnya. 

    Namun, pembinaan di wadah yang bernama SSB nyatanya tetap harus berjalan di luar cengkaraman program PSSI. Saat itu PSSI tetap tak bergeming, hingga memaksa saya menulis Surat Terbuka dalam majalah Garda melalui artikel dengan judul Delima Sekolah Sepakbola yang tayang pada 21 Februari 2001. 

    Sepakbola sebagai olahraga yang paling digemari lalu jumlah penduduk Indonesia yang besar, menjadikan wadah SSB sangat mudah dibentuk oleh organisasi hingga ke perorangan. 

    Tidak ada standarisasi. Tidak ada yang mengawasi. Bahkan tumpang tindih ada SSB ada Akademi, ironis. 

    Tapi dalam sebuah festival/turnamen/kompetisi yang bernama SSB dan Akademi bergabung menjadi satu. Lucu. 

    Sebenarnya paham dan mengerti kah para pembuat wadah SSB dan Akademi itu? Berdasarkan namanya, maka filosofi dan kurikulum serta wadah mengujinya pun wajib beda. 

    Namun, kerancuan yang terjadi, terus mengalir hingga kini, prihatin! Wadah PSSI mandul. 

    Hingga tahun 2020 ini, pergerakan pelatihan, pembinaan, festival, turnamen, hingga kompetisi, antar SSB/Akademi ternyata terus mengalir bagai air. 

    Meski organisasi PSSI telah melegitimasi pembinaan SSB ada di bawah naungan Asprov, Askab, dan Askot, namun karena mandulnya sebagian besar wadah tersebut, maka kegiatan berbau SSB akhirnya tetap dikendalikan oleh individu penggila sepakbola dan pihak swasta yang memiliki kepedulian terhadap sepakbola akar rumput ini. 

    Dalam berbagai catatan saya, yang sudah tersebar di media, harus diakui bahwa Jabodetabek, tanpa disadari, ternyata memang telah menjadi barometer pembinaan, pelatihan, hingga kompetisi sepakbola akar rumput, yang terus menunjukkan eksistensinya. 

    Liga Kompas Gramedia (LKG)

    Sebut saja pernah hadir Ligana Milo, yang cukup menyedot antusias saat itu, karena berjalan sendiri tanpa pesaing. Namun, munculnya Kompetisi Liga Kompas Gramedia (LKG) yang menaungi talenta muda Indonesia dibawah usia 14 tahun, kiblat kompetisi SSB menjadi milik LKG. 

    Memang sejak kelahirannya hingga kini, LKG di bawah naungan Harian Kompas, hanya berpusat di Jakarta, namun peserta yang terdiri dari SSB se-Jabodetabek, pada dasarnya sudah rasa Indonesia, karena pemain-pemain dari berbagai SSB peserta telah mengakomidir pemain dari daerah lain seantero Indonesia. Salut. 

    LKG menjadi satu-satunya kompetisi yang terus menjaga kredibilitas melalui regulasinya hingga pemain jebolan LKG juga telah unjuk gigi dalam kancah Gothia Cup, turnamen usia muda Dunia. 

    Liga TopSkor

    Setali tiga uang, bukan bermaksud untuk menyaingi namun dengan dasar melengkapi dan menyumbangkan tenaga untuk mengakomodir talenta muda Indonesia, media olahraga terlaris di Indonesia Harian TopSkor, meluncurkan Liga dengan sebutan LTS. 

    Bila LKG mengakomodir usia 14 tahun, maka LTS hingga kini malah mengkomodir usia 12, 13, 15, 16, dan 17 tahun. Bahkan sudah mencatatkan diri memutar kompetisi di 8 kota Indonesia. Luar biasa. 

    Bila LKG yang hadir lebih dahulu telah memiliki dukungan sponsor kuat, maka LTSpun kini telah digandeng oleh sponsor tingkat dunia. Sama seperti LKG, pemain terbaik jebolan LTS pun telah mengenyam rasanya berturnamen usia muda di tingkat dunia Gothia Cup, dan sudah mengisi sederet nama dalam timnas Indonesia.

    Indonesia Junior Soccer League

    Wadah kompetisi SSB terus bergayung sambut. LKG hadir, LTS hadir. Sempat pula ada Liga Bola. Ada Liga Pertamina dan liga-liga lain yang tidak dapat saya sebut satu persatu, yang semuanya juga sudah pernah saya angkat dalam artikel saya. 

    Setelah kelompok usia 12, 13, 14, 15, dan 16, 17 tahun diakomodir dalam kompetisi bernama LKG dan LTS, adik-adiknya yang berusia 8, 10, dan 12 tahun ternyata diakomodir oleh  Indonesia Junior Soccer League (IJSL). 

    Luar biasa, IJSL akhirnya menjadi pelengkap kepedulian individu dan pihak swasta dalam menggelorakan pembinaan, pelatihan, hingga kompetisi usai dini dan muda. 

    Bila dalam konsep berpikir secara gradatif pembinaan organisasi, maka IJSL bukan hanya sarana kompetisi usia 8,10, dan 12 tahun, namun lebih penting IJSL adalah sarana penggembelengan manajemen SSB. Mengapa? 

    Karena dalam IJSL tidak dikenal sistem regulasi kompetisi bernama degradasi tim. Yang ada adalah degradasi tim dari kesertaan kompetisi IJSL karena manaejem SSB (pengurus dan orangtua) belum lulus mengikuti kompetisi dari segi organisasi. 

    Berbeda dengan LKG dan LTS, wadah kompetisi ini telah menerapkan regulasi degradasi tim dari hasil kompetisi. Jadi wadah LKG dan LTS, benar-benar hanya dapat diikuti oleh SSB-SSB yang telah lulus manajemen organisasi dan manajemen pembinaan dan pelatihan. 

    Meski dalam menurunkan pemain sudah mengkomodir pemain dari SSB lain dan dari daerah lain di Indonesia, tetap sah sebagai wadah yang mumpuni. 

    Sumbang pemain timnas

    Secara urut usia pembinaan, hadirnya IJSL, LKG, dan LTS, tanpa disadari telah saling bahu-membahu melahirkan pemain-pemain hebat yang kini telah berjersey timnas Garuda di U-16, U-19, dan U-23. 

    Jadi ketiga wadah tersebut sama-sama telah berandil tanpa bisa dikotak-kotakkan. IJSL tidak bisa mengakui sendiri pemain timnas adalah jebolan liganya. Begitupun LKG dan LTS, sama-sama tidak dapat saling mengaku bahwa pemain yang sekarang di timnas adalah murni pemain yang dibina dalam kompetisinya. 

    IJL

    Saya juga mencatat, Indonesia Junior League (IJL) kini dapat diperhitungakan menjadi pelengkap kompetisi IJSL, LKG, dan LTS. IJL adalah kompetisi sepak bola usia dini dengan level berjenjang, saya catat eksistensinya mulai dikibarkan sejak 17 Agustus 2014. 

    IJL menarik, karena Sang operator saya anggap bukan orang baru dalam sepakbola akar rumput. Di tahun 2020, IJL juga semakin bergigi, semakin menambah angin segar dan melengkapi kompetisi sepakbola akar rumput yang dihelat pihak swasta, sebab IJL yang menggelar kompetisi yang di level usia 9, 11, dan 13 tahun, semakin memeperkuat taring liga yang digelar swasta. 

    Dari semua catatan saya tersebut, ternyata fungsi dan keduddukan SSB masih tidak dihargai dan tidak aman hingga kini, karena pemain yang di bina oleh SSB, masih belum ada payung hukum yang melindungi.

    PSSI sendiri malah menjadi masalah dalam soal menghargai SSB, sebab pemain yang direkrut untuk kompetisi EPA Liga 1, justru wajib meminta surat keluar dari SSB dan cara-cara klub mencomot pemain yang dibina SSB juga tidak etis. 

    ASSBD, lalu APSBARI

    Atas persoalan yang memprihatinkan ini, maka saya perlu menginisiasi lahirnya Asosiasi Pembina Sepak Bola Akar Rumput Indonesia (APSBARI) dengan visi-misi agar pembinaan SSB terlindungi dan dihargai secara hukum. 

    Berangkat dari pengalaman Persikad Depok (Saat itu Divisi 2 PSSI, kasta tertinggi masih Divisi Utama) yang tidak menghargai pembinaan SSB di Kota Depok dan malah merekrut banyak pemain dari luar Depok, maka jalinan kerjasama intens saya dengan Ronny Pattinasarani seusai Kid's Soccer, karena merintis lahirnya Asosiasi SSB Jakarta (ASSBJ), namun terkendala, maka saya melanjutkan rintisan melahirkan Asosiasi SSB Depok (ASSBD). 

    Saat merumuskan lahirnya ASSBD, ruang kerja Ronny (Direktur Pembina Usia Muda PSSI) menjadi saksi bagaimana propsoal ASSBD saya tulis dan lahirkan. Pada akhirnya, saat itu di dukung juga oleh Edy Simon  dan Yopie Lepel yang satu ruang kerja dengan Ronny, muluslah draf lahirnya ASSBD. 

    ASSBD yang saya lahirkan dan didukung Ronny, langsung saya kenalkan kepada teman-teman pembina SSB di Depok, dan lahirlah ASSBD pada 15 Juli 2001. 

    Peresmian dibuka oleh Sekum Persikad di Stadion Kartika Kostrad Cilodong Depok, sementara Prasasti Pendirian ditandatangani oleh Wali Kota Depok pertama, Badrul Kamal. 

    Setelah itu, Persikad pun luluh dan mengakomodir pemain yang di bina oleh SSB dalam naungan SSB. Bahkan saat Persikad naik kasta ke Divisi 1, Tim Suratin U-18 Persikad pertama tahun 2003 dipercayakan penuh kepada ASSBD. 

    Jadi, saya melahirkan ASSBD, tujuannya agar pemain binaan SSB di Depok diakui dan terakomodir di Persikad dengan regulasi yang jelas. 

    Kini, ASSBD sebagai asosiasi SSB pertama di Indonesia (berdasarkan catatan Ronny saat itu) masih tegak berdiri di tangan teman-teman pembina SSB di Kota Depok. 

    Namun, proposal pendirian asli, papan bingkai peresmian, dan Surat Prasasti Pendirian masih tersimpan aman sebagai sejarah di sekretariat asli ASSBD, di Jalan Studio Alam TVRI Perum Sukmajaya Permata Blok G.10 Depok, yang sekaligus sebagai sekretariat SSB Sukmajaya.

    Atas dasar catatan dan pengalaman tersebut, maka pada Minggu, 26 Januari 2020, di sela-sela pekan kedua Liga IJSL yang akan berlangsung di NYTC Sawangan, cikal bakal APSBARI akan didiskusikan dengan teman-teman pembina SSB Indonesia. Semoga lancar. Aamiin.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.