#SeninCoaching: Siap Hidup Lebih Cerdas Pasca Wabah? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ego membahayakan diri dan orang lain

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 21 April 2020 11:32 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Siap Hidup Lebih Cerdas Pasca Wabah?

    Dibaca : 1.754 kali

    #Leadership Growth: Embrace the New Normal

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    Ini wabah yang lebih gawat: “In life we don’t see what it is there, we see what we think supposed to be there’.

    Perilaku sabar menjadi komoditas sangat langka sekarang ini di pelbagai pelosok dunia. Di Inggris, di AS, di India, dan di Indonesia, misalnya, social distancing dan ikhtiar memutus jalur penularan wabah Covid-19 telah dilanggar, dengan dalih merasa sehat sehingga tidak perlu mengikuti protokol kehati-hatian sesuai anjuran dari para dokter ahli kesehatan masyarakat.    

    Bahkan di lingkungan orang-orang yang mengaku beriman, katakanlah kalangan Muslim yang relatif lebih saya kenali dibanding pengikut agama lain. Mereka selama ini sudah memantabkan diri sebagai pengikut setia Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun saat harus menentukan sikap melaksanakan peribadatan di saat terjadi wabah penyakit, ego dan “selera beragama” mereka lebih ditonjolkan. Mereka seperti menolak bersabar.

    Anjuran dan tauladan Nabi untuk social distancing, hidup lebih sehat, dan karantina, sebagaimana disampaikan oleh para ulama, mereka abaikan. Seolah-olah mereka ingin memperlihatkan kepada masyarakat sebagai “lebih Islam dan lebih bertawakkal” dibanding para ulama yang jelas ilmunya lebih tinggi dibanding mereka dan sudah melakukan kajian mendalam terkait upaya menghentikan wabah itu. Wallahu ‘alam. Yang pasti, mereka telah tidak sabar mengendalikan ego masing-masing.

    Rupanya situasi seperti itu terjadi dimana-mana, di pelbagai daerah di Indonesia. Prof. Dr. Craig Considine, penulis buku antara lain Islam in America: Exploring the Issues (ABC-CLIO 2019), di laman Newsweek 17 Maret 2020 antara lain mengatakan: “Do you know who else suggested good hygiene and quarantining during a pandemic? Muhammad, the prophet of Islam, over 1,300 years ago.”

    Lalu ia menceritakan upaya-upaya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdasarkan hadits-hadits yang oleh kalangan ustadz ahli hadits diakui sebagai hadits sahih, utamanya terkait perlunya keseimbangan akal dan tawakkal dalam menghadapi wabah.

    Hari-hari ini, contoh dan anjuran Nabi Muhammad tersebut telah diterapkan di pelbagai negara di dunia dalam upaya memutus jalur penularan pandemic Covid-19.

    Memamg jadi ironi kalau di Indonesia, negeri dengan jumlah penduduk Islam terbesar, masih saja ada orang-orang Muslim yang mengabaikan tauladan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut.

    Apakah mereka takabur? Atau mereka tidak mau perduli, kalau wabah berlangsung lama, tidak ada upaya semua pihak secara serempak memutus rantai penularan, ratusan ribu -- sekarang bisa jadi jutaan -- pencari nafkah kehilangan pekerjaan. Apakah melayani selera pribadi cara beragama dengan mengorbankan banyak orang itu bukti tawakkal? 

    Selain ego yang menguasai pola pikir dan perilaku mereka, ada indikasi mereka – seperti juga kencenderungan yang terjadi di kalangan eksekutif atau pimpinan organisasi – telah terjebak dalam situasi sebagaimana kata orang bijak, In life we don’t see what it is there, we see what we think supposed to be there”. Sebuah kecenderungan negatif, dapat memampatkan kecerdasan dan mungkin saja menimbulkan banyak korban.

    Keadaan di hadapan mereka harus selalu sesuai seperti yang mereka kehendaki, tidak perduli ada darurat wabah atau tidak. Saat ada anjuran mengubah kebiasaan demi memotong rantai penularan, kalau tidak sesuai dengan selera hati dan ego mereka, apa pun itu tidak harus diikuti. Walaupun anjuran tersebut lebih masuk akal, mengandung kebenaran, dan memberikan manfaat bagi kehidupan bersama. Mereka tidak sabar menghadapi diri mereka sendiri.

    Perilaku tidak sabar semacam itu – melihat dunia harus seperti yang mereka kehendaki, bukan apa adanya sebagai hasil proses yang mereka juga ikut terlibat di dalamnya -- sepertinya telah mewabah pula di kalangan eksekutif organisasi.

    Anda bisa menduga, di organisasi dengan pola kepemimpinan seperti itu, apa yang umumnya kemudian terjadi: anak buah sering jadi sasaran kekesalan, regulasi ikut disalahkan, kondisi pasar juga mereka anggap sebagai penyebab kegagalan.

    Padahal mereka, para bos itu, sendiri yang belum mau mengizinkan dirinya menerima kenyataan as it is. Belum mau melihat realitas dari perspektif berbeda. Semua hal harus sesuai apa mau mereka, sikap yang tidak selamanya memberikan kontribusi positif bagi tumbuhnya organisasi.

    Kondisi tersebut tentunya membahayakan eksistensi organisasi, apalagi ketika menghadapi krisis ekonomi dan sosial akibat wabah Covid-19 sekarang ini.

    Untuk belajar sabar, barangkali para eksekutif perlu mengenal Chip Conley, seorang entrepreneur bidang perhotelan, yang mengingatkan, ”You need to understand the ‘ripple effect’ in your company and be mindful of your actions. You are the emotional thermostat for the group you lead." Conley adalah pendiri Joie de Vivre Hospitality.

    Pemimpin perlu mampu mengendalikan hati, menjaga perilaku dan mulut. Dalam kondisi saat ini, bagi yang mampu membuat diri sendiri bersabar dan berani mengunyah fakta apa adanya, akan makin merasakan desakan untuk keluar dari kungkungan tabiat egoistis dan perilaku-perilaku yang tidak efektif.

    Karena kita semua, praktis di seluruh dunia, sekarang tengah memasuki kondisi yang disebut the new normal.

    Diperlukan kesabaran ekstra, termasuk sabar menghadapi diri sendiri agar tidak memaksa realitas baru harus mengikuti ego dan, yang sama negatifnya, membiarkan diri melayani distraksi, berupa berita-berita yang tidak perlu diketahui sampai godaan menunda-nunda pekerjaan. Menghentikan semua itu perlu ketegasan (dan tentu kesabaran untuk pushing) diri sendiri.

    Karena kita memerlukan resources – utamanya kecerdasan dan waktu, disamping dana – untuk menyikapi dengan tepat perilaku customers yang bakal berubah, kompetisi yang tidak dapat diprediksi, dan lanskap ekonomi yang akan tidak sama dengan situasi sebelum wabah – mungkin constantly.

    Bagaimana mungkin semua itu dapat diatasi dengan baik kalau tanpa kesabaran? Utamanya para eksekutif dan yang mengaku diri pemimpin, sekarang dituntut untuk lebih mampu mendengarkan secara intens setiap interaksi dengan tim, rekan kerja, mitra, dan pihak lain. Sabar untuk menghadapi fakta-fakta apa adanya. Tabah mengolah semua itu menjadi bagian dari proses berkelanjutan membangun diri, menemukan diri sendiri dalam versi terbaik.

    Bagaimana melakukannya? Untuk meraih hasil optimal, cara terbaik adalah melibatkan para stakeholder, orang-orang yang selalu berinteraksi dengan kita dan terkena imbas langsung setiap tindakan kita. Diperlukan kesabaran pula untuk mendengarkan masukan mereka, para stakeholder, dan berterima kasih kepada mereka. Para stakeholder adalah mitra akuntabilitas kita.

    Bersabar merupakan upaya (bahkan bisa sangat) aktif yang memerlukan energi ekstra bagi kebanyakan kita. Bersabar itu merupakan sikap pragmatis dengan kehatian-hatian (ikhtiar) dan optimistis (bertawakkal) sekaligus.

     

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (http://sccoaching.com/coach/mcholid1)

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.