x

Iklan

Annisa Rahmawati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Mei 2020

Kamis, 21 Mei 2020 21:55 WIB

Wisata Religi dan Budaya di Candi Ganjuran, Yogyakarta

Wisata Religi dan Budaya di Candi Ganjuran

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Candi yang terletak di Selatan Kota Yogyakarta ini merupakan sebuah candi yang berada di wilayah kompleks Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Lebih tepatnya berada di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jalan masuk menuju Candi Ganjuran sangat mudah untuk dijangkau, karena terletak diantara jalur wisata Pantai Samas dan Pantai Parangtritis.

Letak yang begitu strategis, sehingga tak jarang banyak dikunjungi untuk berziarah sekaligus berwisata. Pada tahun 1912, saat keluarga Smutscher datang ke Ganjuran, kedua bangunan tersebut yakni Candi sekaligus Gereja Ganjuran dijadikan sebagai cagar budaya.

Karena ketaatan rohani keluarga Smutscher, pada tahun 1924 mereka membangun sebuah Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran yang ditujukan sebagai gereja keluarga. Gereja yang semula hanya diperuntukan berdoa bagi keluarga, sejak tahun 1999 telah dibuka untuk umum. Tak berhenti disitu saja, pada tahun 1927 keluarga Smutscher membangun sebuah candi yang mempunyai corak Hindu-Jawa yang didalamnya terdapat Kristus Raja yang ditahtakan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Akulturasi antara Bangunan Candi Ganjuran dengan Kristus Raja yang Bertakhta didalamnya

Menurut Koentjaraningrat akulturasi adalah sebuah proses sosial yang terjadi ketika kelompok sosial dengan kebudayaan tertentu terkena budaya asing yang berbeda. Persyaratan proses alkuturasi adalah senyawa (afinitas) bahwa penerimaan budaya tanpa rasa kejutan, maka keseragaman (homogenitas) sebagai nilai baru dicerna karena tingkat dan pola budaya kesamaan.

Kemudian menurut Redfield, Linton, dan Herskovits (dalam S.J, 1984) akulturasi adalah memahami fenomena yang terjadi ketika kelompok individu yang memiliki budaya yang berbeda datang ke budaya lain kemudian terjadi kontak berkelanjutandari sentuhan yang pertama dengan perubahan berikutnya dalam pola kultur asli atau salah satu dari kedua kelompok. Sedangkan menurut Berry (2005), akulturasi adalah sebuah proses yang merangkap dari perubahan budaya dan psikologis yang berlangsung sebagai hasil kontak antara dua atau lebih kelompok budaya dan anggotanya.

Berdasarkan pada ketiga pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa akulturasi merupakan perubahan sosial yang terjadi sebagai hasil kontak individu atau kelompok budaya asli dan budaya lain dengan perubahan dalam pola kultur salah satu dari kedua kelompok.

Fenomena akulturasi juga di dapati pada bangunan Candi Ganjuran dengan Kristus Raja yang bertakhta di dalamnya. Perbedaan yang begitu mencolok pada bangunan candi yang identik dengan agama Hindu dan Kristus Raja yang bercorak agama Katolik begitu terasa.

Selain itu percampuran antara budaya Hindu dengan Jawa yang begitu kental pada bangunan candi. Karena kuatnya budaya Jawa dalam lingkup Candi Ganjuran, sekelompok orang yang mengurusi area tersebut banyak mengambil budaya dari Keraton. Berupa upacara grebeg yang identik dengan adanya gunungan hasil bumi sebagai wujud berkah yang setiap tahunnya, yang mana selalu dihadiri oleh banyak jemaah dari berbagai daerah.

Manajemen Pengelolaan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus atau Candi Ganjuran

Candi yang telah dibuka untuk umum sejak tahun 1999, dijadikan sebagai monumen untuk wujud syukur kepada Tuhan. Karena hal tersebut, perkembangan pendatang begitu pesat baik dari segi jemaah, peziarah, maupun wisatawan yang berasal dari berbagai daerah.

Menariknya lagi para peziarah tersebut tidak hanya yang beragama Katolik, melainkan dari berbagai jenis agama yang turut serta mengunjungi Candi Ganjuran. Dengan adanya fenomena tersebut, maka sudah pasti diterapkan manajemen pengelolaan pada situs budaya sekaligus religi tersebut. Diantaranya adalah waktu penetapan beroperasi Candi Ganjuran yang pada setiap harinya beroperasi 24 jam non-stop, sehingga memberikan kenyamanan waktu kepada peziarah turutama yang dari luar daerah maupun luar negeri.

Selain itu jelas tersedia lahan parkir kendaraan yang cukup luas, karena tidak jarang para rombongan peziarah lebih sering menggunakan bus. Terdapat pula beberapa pendapa terbuka di area Candi Ganjuran, yang sering juga dimanfaatkan sebagai tempat beristirahat pengunjung untuk sementara waktu. Serta fasilitas pendukung lain, seperti hal nya warung dan toko yang ada disekitar area candi tersebut yang turut beroperasi selama 24 jam.

Layak halnya tempat wisata lain, Candi Ganjuran juga turut dibantu warga sekitar pada bagian keamaan. Tidak jarang juga pihak kepolisian sekitar darah Ganjuran juga turut mengamankan area tersebut, guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung.

Potensi Candi Ganjuran Sebagai Desa Wisata

Sebuah desa dapat disebut menjadi sebuah desa wisata jika suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku (Nuryanti Wiendu, 1993: 2-3). Selain itu juga terdapat beberapa kriteria seperti cakupan alam, budaya serta output yang dapat diberikan dari masyarakatnya.

Lalu perhitungan jarak tempuh lokasi wisata tersebut dari pusat kota maupun kabupaten. Berikutnya berupa pendukung cakupan luas wilayah desa tersebut. Kemudian yang tidak kalah penting ialah sistem Kepercayaan yang di anut mayoritas penduduknya dan sistem kemasyarakatan yang dijalani. Serta ketersediaan fasilitas dan perihal pelayanan yang utama seperti air bersih, listrik, telepon, transportasi, dan juga saluran air yang memadai.

Seperti hal nya pada beberapa pernyataan di atas, daerah Candi Ganjuran dapat berpotensi menjadi desa wisata. Dapat diperhatikan pada bagian penjelasan manajemen pengelolaan Candi Ganjuran, beberapa kriteria terbangunnya sebuah desa wisata mulai berkembang disana. Karena tidak dapat dipungkiri juga bahwa keberadaan candi tersebut memberikan dampak yang cukup berpengaruh bagi masyarakat disekitarnya.

Dengan kata lain, harapannya segala kegiatan yang ada di Candi Ganjuran berpengaruh baik kepada masyarakat. Sehingga kedepannya dapat terwujud suatu desa wisata yang memberikan sebuah makna mengenai percampuran dua agama dan budaya pada satu tempat wisata.

Ikuti tulisan menarik Annisa Rahmawati lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini