Gibran Menunggu Restu, Rakyat Menanti Teladan Berdemokrasi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

3 hari lalu
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Gibran Menunggu Restu, Rakyat Menanti Teladan Berdemokrasi

    Dibaca : 611 kali

    Koran Tempo edisi Senin, 29 Juni 2020, menampilkan gambar putera dan menantu Presiden Jokowi. Gibran Rakabuming dan Bobby Nasution tengah menunggu restu alias rekomendasi dari Ketua Umum PDI Perjuangan. Walaupun dikabarkan bahwa Gibran sudah memperoleh rekomendasi dari Megawati, namun hingga kini rekomendasi itu belum juga dipublikasikan secara resmi.

    Tampaknya ada sesuatu yang sedang ditunggu, barangkali semacam momen yang tepat mengingat kedua anak muda tersebut punya hubungan khusus dengan Presiden Jokowi. Barangkali untuk menekan hingga sekecil mungkin munculnya riak-riak kekecewaan di sebagian akar rumput. Di Solo, tempat Gibran hendak mencalonkan diri menjadi walikota, DPC PDI-P setempat sudah menjaring calonnya sendiri, Achmad Purnomo, yang saat ini menjabat wakil walikota Solo.

    Sejauh ini, pengurus DPC PDI-P Solo, yang dipimpin Rudyatmo, yang juga walikota Solo, tetap menyatakan akan mengusung Purnomo walaupun Gibran telah memperlihatkan hasratnya yang kuat untuk maju melalui PDI-P. Sebagaimana dilaporkan oleh Majalah Tempo dalam laporan utamanya (edisi 13 Juni 2020), Gibran demikian aktif melakukan langkah-langkah untuk mewujudkan keinginannya maju ke gelanggang Pilkada Kota Solo yang kabarnya bakal dilangsungkan Desember 2020.

    Dalam konteks inilah, bila Gibran masih menunggu rekomendasi resmi Megawati. Di saat yang sama, rakyat juga sedang menanti seperti apa teladan demokrasi yang hendak dicontohkan oleh Megawati. Dalam arti, apakah ia akan memberi rekomendasi kepada bakal calon pilihan dari akar rumput, dalam hal ini Achmad Purnomo, ataukah ia akan memilih putra Jokowi, yakni Gibran. Teladan ini penting mengingat Mega merupakan figur yang sudah puluhan tahun menempati posisi ketua umum salah satu partai besar.

    Jika ia menyetujui calon hasil penjaringan DPC Solo, Megawati menunjukkan betapa ia menghargai pilihan yang dibuat oleh akar rumput. Bersaing dengan kontestan yang diajukan partai lain, Purnomo memang belum tentu memenangkan Pilkada walaupun Solo merupakan wilayah yang dikuasai PDI-P, sebagaimana terlihat dari kemenangan partai ini pada pemilihan legislatif tahun 2019.

    Walaupun seandainya Purnomo kemudian tidak terpilih dalam Pilkada, namun Megawati telah menunjukkan bahwa sebagai pemimpin partai ia mendengarkan dan menghargai pilihan dari bawah. Dengan demikian, Megawati memberi contoh kepemimpinan yang konsisten dengan aturan partai yang niscaya ia ikut menentukan dan menyetujui.

    Jika kemudian Megawati ternyata memilih Gibran, ia tentu punya pertimbangan sendiri. Misalnya saja, demi menjaga hubungan baik dengan Presiden Jokowi. Betapapun Jokowi dalam beberapa kesempatan yang lalu ia sebut sebagai petugas partai, namun posisi Jokowi kini telah sama-sama berada di jajaran elite politik karena jabatannya sebagai presiden. Realitas genetis bahwa Gibran adalah putera Presiden adalah juga realitas politik yang tidak dapat diabaikan dalam menimbang relasi politik di antara para elite.

    Apabila pilihan rekomendasi memang jatuh kepada Gibran, maka rakyat akan melihat bagaimana praktik demokrasi selalu mungkin menjadi sangat luwes manakala berkaitan dengan kepentingan elite politik. Pilihan akar rumput boleh jadi akan digantikan oleh pilihan elite politik karena pertimbangan tertentu. Betapapun, kita tunggu saja bagaimana Mega dan Jokowi memberi contoh praktik berdemokrasi manakala akar rumput telah memiliki pilihan. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.