#SeninCoaching: Dari Krisis Merangkul Ketidakpastian Tanpa Tunggu Publik Marah - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Menemukan jalan keluar dari setiap persoalan

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 6 Juli 2020 17:10 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Dari Krisis Merangkul Ketidakpastian Tanpa Tunggu Publik Marah

    Dibaca : 1.001 kali

    #Leadership Growth: Step To the Unknown Gracefully

     

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach.

     

    “What saves is the willingness to learn from what you don’t know,” Jordan B. Peterson.

    Hari-hari ini umat manusia di seluruh belahan dunia sama-sama memasuki tahapan baru, menuju ketidakpastian – sebagian di akhir wabah, sebagiannya lagi sudah masuk pasca wabah. Pandemi menimbulkan kepedihan, jutaan orang kehilangan pekerjaan. Pandemi juga sekaligus mendorong sebagian dari kita melakukan sejumlah terobosan, di bidang profesi dan keilmuan masing-masing.

    Sebagian pejabat publik mengalami leadership blind spot, bahkan ada yang terkena sudden incompetent, mengakibatkan uang negara untuk mengatasi krisis tidak tersalurkan. Ada bupati komplain, beras untuk bantuan sosial yang dibelinya dari perusahaan milik negara ternyata sebagian busuk, tidak layak dimakan manusia.

    Kalangan orang beriman meyakini, semua kejadian di Bumi selalu sepengetahuan Tuhan, termasuk ketika sehelai daun kering jatuh ke tanah. Pandemi berlangsung dengan segala rentetannya – chaos dan opportunity -- juga tentunya dengan seizin Pencipta Kehidupan ini.

    Kita jaga keseimbangan diri. Karena krisis belakangan ini ternyata merupakan proses yang indah, satu sisi telah membuka tabir kemunafikan orang-orang yang mengaku bisa memimpin. Selebihnya mengungkapkan kenyataan, ternyata masih saja ada orang-orang berbaju dinas dengan mental bromocorah, nekad menjual bahan pokok ke masyarakat dengan kualitas di bawah standard.  

    Dalam memasuki tahapan kehidupan baru yang sama-sama belum kita ketahui, esok hari, tugas kita sesungguhnya seperti melakukan pendakian lanjutan untuk menuju puncak masing-masing. Ibarat mendaki Everest, kita mesti melewati beberapa base camp, untuk acclimatisation dan cek ulang perbekalan, plus kesiapan mental – termasuk latihan fisik dan kedisiplinan lagi.

    Setiap orang memiliki persepsi dan penafsiran masing-masing terhadap realitas. Ada yang merasa situasi sekarang ini adalah base camp pertama, artinya masih tiga base camp lagi sebelum mencapai puncak. Sebagian merasa sudah di base camp terakhir menjelang satu tahap lagi ke ujung cita-cita.

    Di level mana pun sekarang, salah satu tugas kita, disamping menjalani proses aklimatisasi dengan seksama, adalah bertanya kepada diri sendiri. Pertanyaan seperti apa? Ini kata Dr. Steven Berglas, psikolog dan executive coach di AS: “What you do not like about the present?”

    Ini sesungguhnya dapat kita tafsirkan sebagai saran agar kita berupaya merdeka dari cekaman saat ini dan siap mengurangi beban – yaitu hal yang tidak kita sukai, tidak pula kita perlukan, dan tidak sepantasnya kita gendong terus -- dalam pendakian selanjutnya.

    Beban tersebut bisa berupa cara berpikir yang stigmatized, judgmental, perilaku kita yang kita sesali, kegemaran mengunyah-ngunyah masa lalu (apalagi kalau tindakan tersebut sebagai cara berlindung dari ketidaksanggupan menghadapi realitas sekarang), kebiasaan lebih senang mengintip kekurangan pihak lain ketimbang melakukan koreksi atas diri sendiri, dan seterusnya. Untuk melangkah lebih ringan ke tahap hidup berikutnya, semua itu mesti kita tanggalkan. Sekarang.

    Krisis akibat pandemi mendorong kita wajib siap menapaki wilayah yang belum kita ketahui, memasuki the unknown territory. Bagi yang mindset dan fisiknya terlatih untuk memimpin, di level mana pun, menjadikan diri sendiri nyaman barada dalam ketidaknyamanan merupakan kebutuhan. Untuk melatih sebagian dari leadership muscles agar mampu memimpin di tahapan berikutnya.  

    Tantangan dan beban akibat krisis mestinya bisa jadi “energi pendorong, seperti ledakan saat peluncuran roket”, untuk melontarkan kita ke tahapan harus melakukan transformasi diri. Dan tidak kembali ke masa yang sudah lewat. Agar aman, sebagaimana kata Jordan B. Peterson, tumbuhkan willingness untuk mempelajari hal-hal yang belum diketahui.

    Itu umumnya akan terasa berat, utamanya bagi orang yang sudah pernah sukses, selama ini dikenal pintar, atau punya track record hebat dalam memimpin organisasi. Hasil survei Marshall Goldsmith, PhD dari UCLA Anderson School of Management, memperlihatkan empat habits buruk para pemimpin yang selama ini dianggap cerdas.

    Pertama, selalu butuh pengakuan diri bahwa mereka lebih pintar dari orang lain; kedua, merasa dirinya selalu benar, menganggap orang lain yang tidak dapat bekerja sama dengannya sebagai orang bodoh; ketiga, memperlihatkan dirinya sudah tahu banyak hal; dan, keempat, sering kesal terhadap pihak lain yang dianggapnya kurang pintar, tidak dapat mengikuti cara berpikirnya.

    Marshall Goldsmith menceritakan kasus yang dialami sebuah korporasi besar di AS. Divisi riset dan pengembangan perusahaan tersebut dipimpin seorang yang dinilai “super smart”, sebut saja Dr. Jones. Di bidangnya, tidak ada ilmuwan lain mudah mengalahkannya. Tim ilmuwan di perusahaan juga tidak ada yang berani berpendapat beda, karena khawatir disemprot sebagai kurang pintar.

    He was always right, until the day he was wrong. He mistakenly supported one disastrous decision that ended up reducing the market capitalization of the company by more than $10bn,” kata Marshall Goldsmith.

    Itu kecelakaan tangible yang dialami organisasi bisnis akibat arogansi team leader yang selalu merasa paling benar. Kerugian lain yang intangible, seperti team engagement rendah, tim yang sangat tergantung pada pimpinan, kerusakan hubungan interpersonal di organissai, bisa lebih akut. Umumnya perlu proses rata-rata dua tahun untuk memperbaikinya, melalui program pelatihan kepemimpinan yang terstruktur, berkesinambungan.

    Dalam kasus tersebut, paling dirugikan sesungguhnya pribadi orang yang merasa selalu benar, paling pintar, serta serba tahu tersebut. Karena dirinya mandeg, pertumbuhannya terkunci oleh ego-nya sendiri.

    Krisis akibat pandemi sekarang sepertinya tidak perlu menunggu kerugian organisasi milyaran dollar untuk dapat mengubah perilaku orang-orang yang kebetulan sedang memimpin – di organisasi bisnis, nonprofit, atau di pemerintahan (yang eksistensinya ditopang uang publik). Juga tidak perlu menunggu publik marah, akibat mereka merasa diperlakukan tidak baik. Tugas pemimpin antara lain bersedia belajar memasuki realitas baru dan merangkul ketidakpastian.

    Apakah Anda sudah mempersiapkan diri memasuki the unknown territory?

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)  


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.