Kita Sudah Kehilangan Banyak Dokter, Jangan Ditambah Lagi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 13 Juli 2020 15:55 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kita Sudah Kehilangan Banyak Dokter, Jangan Ditambah Lagi

    Dibaca : 1.608 kali

    Kapankah akhir pandemi ini akan tiba? Siapapun akan sulit menjawab pertanyaan awam ini, terlebih karena banyak hal berjalan tidak sesuai dengan skenario lantaran tidak terkendali. Dan akhir pandemi itu semakin sulit diprediksi manakala skenario itu bukan yang terbaik, melainkan disusun berdasarkan kompromi-kompromi yang longgar dari berbagai kepentingan. Ada harga mahal yang harus dibayar, antara lain semakin banyaknya tenaga medis yang berpulang.

    Ketika penyebaran virus Corona penyebab Covid-19 belum berhenti, kran-kran aktivitas sosial telah dibuka sebagai jawaban atas kecemasan akan ambruknya ekonomi. Di saat wabah mulai menghantui, kita cenderung meremehan. Saat wabah berkecamuk, sebagian kita tak sungguh-sungguh menahan diri untuk tinggal di rumah. Saat kran sosial dibuka, situasi seakan tidak terkendali. Warga turun ke jalan, bersepeda, mengunjungi mal, tempat wisata, dan bahkan sedang menunggu gedung bioskop dibuka kembali.

    Di saat yang sama, laporan terus mengalir perihal bertambahnya [kembali] jumlah kasus positif Covid, di Bandung dan di Solo. Nyaris setiap hari tersiar kabar tentang berpulangnya dokter yang umumnya memang berada di garis depan penanganan pasien Covid. Jumlah tenaga medis, rata-rata spesialis berpengalaman, yang wafat terus bertambah. Kabar mutakhir, dari RS Moewardi Solo dikabarkan sebanya 25 dokter residen paru dinyatakan positif Covid.

    Sejak awal telah diingatkan oleh para ahli bahwa meningkatnya jumlah kasus akan meningatkan pula beban yang harus ditanggung tenaga medis: para dokter, perawat, petugas pembantu seperti sopir ambulans, hingga petugas laboratorium. Seorang dokter bercerita bagaimana tenaga medis kewalahan menangani pasien dan bagaimana petugas laboratorium harus lembur untuk menyelesaikan pemeriksaan sampel. “Laboratorium kelebihan beban,” ujar dokter ini.

    Betapapun tangguh fisik dan mental para tenaga medis, kelelahan akan menjadi faktor yang mampu menurunkan daya tahan mereka. Penurunan daya tahan membuka peluang bagi rentannya tubuh terhadap paparan virus Corona. Beban tanggung jawab menangani pasien juga menambah tekanan psikologis kepada tenaga medis betapapun mereka telah dilatih dan telah menjalani praktik bertahun-tahun.

    Semua itu manusiawi belaka. Kita tidak bisa meletakkan beban yang jauh melebihi kemampuan siapapun untuk menanggungnya. Masyarakat mestinya semakin sadar bahwa kita tidak bisa lagi hidup sebagaimana masa sebelum pandemi, setidaknya sepanjang masalah  wabah ini belum tuntas teratasi. Sikap dan perilaku konyol seolah-olah merasa sakti dan tidak akan tumbang oleh Covid-19 mesti segera dihentikan. Hasrat menggebu-gebu agar pusat-pusat keramaian dibuka juga harus direm. Ini bukan waktu yang tepat untuk hura-hura ataupun sekedar melepas kebosanan dan kejenuhan, melainkan memang saat untuk prihatin dalam waktu yang lama.

    Pemerintah pun semestinya memiliki prioritas yang jelas mengenai apa yang harus dan akan dilakuan dalam jangka pendek. Pembukaan kran aktivitas sosial-ekonomi yang tidak disertai pengaturan interaksi yang tegas dalam pelaksanaannya hanya akan menjadikan warga masyarakat berperilaku sesuka hati. Namun itu tidak berarti penegakan aturan mesti represif, kecuali kepada mereka yang sangat membandel.

    Sudah saatnya kita sadar betul betapa kita telah kehilangan banyak tenaga medis, sebagian besar para ahli yang telah menempuh pendidikan yang sukar dan terus berusaha sepanjang hidup mereka untuk membantu menjaga dan memulihkan kesehatan kita. Mereka pun telah berjuang hingga akhir hayat sebagai ikhtiar untuk menyelamatkan kita dari Covid-19. Saatnya bagi warga untuk membalas kebaikan mereka dengan bersikap dan berperilaku positif agar tidak secara sengaja dan sembrono menantang virus Corona. Salah satu caranya ialah menjalankan berperilaku yang sesuai protokol kesehatan yang telah berulang kali disampaikan: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

    Sudah banyak para spesialis dan perawat yang meninggal demi menolong masyarakat. Janganlah jumlah yang sudah banyak itu ditambah lagi dan lagi oleh karena kekonyolan sikap dan perilaku kita.>>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.