Pilkada 2020: Dukung Calon-calon PDI-P, PAN Ingin Tunjukkan Serius Dukung Pemerintah? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Gibran Rakabuming dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di Jakarta, Rabu 12 Agustus 2020. Tempo/Fikri Arigi.

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 13 Agustus 2020 06:25 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Pilkada 2020: Dukung Calon-calon PDI-P, PAN Ingin Tunjukkan Serius Dukung Pemerintah?

    Melalui langkah-langkah dukungan kepada calon-calon partai lain, khususnya PDI-P, tampaknya Zulkifli Hasan berusaha membuktikan bahwa ia dan PAN ingin dekat dengan pemerintah dan koalisi partai pendukungnya. PAN berusaha menunjukkan bahwa arah gerak pendulum politik PAN telah berubah. Ibarat pertemanan, Zulhas berusaha memberi kesan bahwa PAN layak dijadikan teman.

    Dibaca : 1.329 kali

     

    Setelah sukses tidak menyertakan Amien Rais dalam kepengurusan Partai Amanat Nasional (PAN) 2020-2025, Ketua Umum Zulkifli Hasan tampaknya tengah membawa gerbong PAN semakin mendekati partai-partai koalisi pemerintahan. Langkah Zulhas ini terlihat, antara lain, dari dukungan PAN terhadap pencalonan Gibran Rakabuming untuk memperebutkan posisi walikota Solo dalam pilkada mendatang.

    Posisi politik PAN dalam pilkada 2020 kali ini berbeda dengan lima tahun yang silam. Pada 2015, PAN berkoalisi dengan PKS, Gerindra, dan Demokrat mengusung Anung Indro Susanto dan Muhammad Fajri. Calon mereka kalah, yang terpilih adalah pasangan calon PDI-P, yaitu Hadi Rudyatmo dan Achmad Purnomo—saat ini walikota dan wakil walikota Solo. Kini, PAN merapat ke barisan partai pendukung putra Presiden Jokowi yang diusung PDI-P.

    Bagi Zulkifli Hasan, mendukung pencalonan Gibran merupakan langkah penting untuk menunjukkan iktikad baik partainya dalam mendukung Presiden Jokowi—sebagai kepala pemerintahan maupun sebagai pribadi. Dalam kalkulasi politik, Zulhas niscaya sudah berhitung bahwa pasangan Gibran-Teguh akan memenangkan pilwalkot Solo, bahkan mungkin tanpa pesaing yang berarti. Dengan cara ini, ia berusaha menunjukkan bahwa arah gerak pendulum politik PAN telah berpindah semakin mendekati pemerintah. Katakanlah, semacam ajang pembuktian bahwa PAN mulai berubah haluan.

    Di Kabupaten Kebumen, PAN tidak mengusung calonnya sendiri. PAN juga tidak berkoalisi dengan Demokrat misalnya, padahal pada pilkada 2015 bersama Demokrat, Gerindra, dan PKB, PAN berhasil memenangkan pencalonan Yahya Fuad dan Yazid Mahfudz. Namun, kali ini, PAN memilih untuk bergabung dengan PDI-P dan Golkar yang mengusung Arif Sugiyanto dan Ristawati Purwaningsih, kader PDI-P. Aroma kemenangan Arif dan Rista mungkin dianggap lebih kuat.

    Yang tidak kalah menarik ialah pilkada di Kabupaten Sleman. DPP PAN menerbitkan surat persetujuan kepada pasangan Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa untuk maju dalam pilkada Sleman. Padahal, pasangan ini tidak pernah mencalonkan diri melalui PAN, karena baik Kustini maupun Danang adalah kader PDI-P dan sudah dicalonkan terlebih dahulu oleh PDI-P.

    Surat persetujuan DPP  PAN kepada Kustini dan Danang ini ditolak oleh Tim Pilkada DPD PAN, sebab DPD PAN telah melakukan penjaringan dan penyaringan calon sesuai mekanisme partai. Ada dua calon yang sah mendaftar melalui DPD dan lolos dua nama, yaitu Mumtaz Rais—putra Amien Rais—dan Sadar Narima. Meskipun pada November 2019 Mumtaz sudah mengantongi rekomendasi DPP PAN, namun ia kemudian memilih mundur dengan alasan sibuk karena posisinya sebagai salah satu ketua dalam kepengurusan baru Zulhas. Tapi tidak serta merta rekomendasi lantas beralih kepada Sadar Narima. Ternyata, DPP PAN malah memilih untuk mendukung calon dan kader dari partai lain.

    Melalui langkah-langkah dukungan kepada calon-calon partai lain, khususnya PDI-P, tampaknya Zulkifli Hasan berusaha membuktikan bahwa ia dan PAN ingin dekat dengan pemerintah dan koalisi partai pendukungnya. PAN berusaha menunjukkan bahwa arah gerak pendulum politik PAN telah berubah. Ibarat pertemanan, Zulhas berusaha memberi kesan bahwa PAN layak dijadikan teman.

    Dalam pemilihan kepala daerah nanti, pilihan tersebut mungkin membuahkan kemenangan pada calon yang diusung, tapi patut dicatat bahwa calon-calon tersebut,  setidaknya di Solo, Kebumen, dan Sleman, bukan kader PAN sendiri, melainkan kader partai lain, khususnya PDI-P. Dalam jangka panjang, hasil dari strategi politik yang ditempuh Zulhas dan PAN tanpa Amien Rais ini akan terlihat dalam pemilihan legislatif dan presiden pada 2024. Namun, lebih dari sekedar menang dan kalah dalam pemilihan, yang lebih mendasar ialah apakah PAN semakin dekat dengan cita-cita pendiriannya atau justru malah semakin menjauh karena tertarik oleh pragmatisme. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.