Menjadikan PLN Pemain Utama di Era Peralihan Kendaraan Listrik - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Puji Handoko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2020

Senin, 14 Desember 2020 17:57 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Menjadikan PLN Pemain Utama di Era Peralihan Kendaraan Listrik

    Sebagai tulang punggung energi listrik di Indonesia, peran PLN tidak cukup besar nantinya dalam pengembangan kendaraan listrik nantinya. Sinergi beberapa perusahaan negara memang tepat. Namun jika melihat struktur penugasan yang diberikan, besar kemungkinan PLN hanya akan berperan pasif sebagai penyedia energi listrik. Pemerintah harus membuat garis batas tefas. Seluruh sinergi yang direncanakan itu mestinya menjadikan PLN sebagai panglima, bukan pengekor. PLN juga harus agresif membuat terobosan dan memimpin penyediaan penunjang kendaraan listrik.

    Dibaca : 1.370 kali

    Kabar baik tentang kendaraan listrik terus muncul setiap hari. Pabrikan mobil dunia berlomba untuk terjun ke ceruk ini. Meskipun sebagian pabrikan mobil sport masih adem-ayem. Misalnya produsen supercar Buggati dan Lamborghini yang memilih wait and see. Bos Bugatti yang juga menjadi CEO Lamborghini, Stephan Winkelman menyatakan, belum punya rencana ke sana dalam waktu dekat. Mereka sampai saat ini belum tertarik untuk ikut terjun ke rancang-bangun kendaraan listrik.

    Di Indonesia, pemerintah dan beberapa BUMN terkait telah mencoba untuk bersinergi. Ada empat BUMN yang dikabarkan telah membuat ancang-ancang, yaitu PLN, Pertamina, MIND ID dan Antam. Keseriusan untuk menggarap kendaraan listrik benar-benar sedang dikerjakan.

    Baru saja dikabarkan, perusahaan otomotif asal California, Amerika Serikat (AS), Tesla, akan mengirimkan delegasinya ke Indonesia pada bulan depan. Tujuannya untuk membicarakan investasi potensial terkait rantai pasokan mobil listriknya. Sebelumnya telah ramai dikabarkan, pemerintah akan serius menangani hal itu.

    Presiden RI Joko Widodo telah berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan dan melakukan hubungan telepon dengan CEO Tesla, Elon Musk, pada Jumat, 11 Desember 2020. Inti dari pembicaraan itu adalah untuk menjajaki peluang investasi dari perusahaan mobil listrik Tesla di Indonesia.

    Menurut Luhut, sejumlah perusahaan ingin melakukan investasi pada tambang nikel di Indonesia, untuk memotong pengeluaran mereka. Dalam pembicaraan itu, Elon Musk juga mengatakan bahwa perusahaannya berencana untuk menawarkan sebuah kontrak raksasa untuk jangka waktu yang lama.

    Kerja sama yang baik itu menjadi salah satu pendorong pemerintah Indonesia untuk lebih agresif lagi. Pemerintah terlihat sangat ingin mengembangkan rantai pasokan penuh dari nikel, khususnya untuk mengekstraksi baterai kimia dan membuat baterai. Bahkan ada kemungkinan pemerintah juga akan membuat mobil listrik.

    Sayangnya kabar baik itu tidak sepenuhnya menjadi durian runtuh bagi PLN. Sebagai tulang punggung energi listrik di Indonesia, peran PLN tidak cukup besar nantinya dalam pengembangan kendaraan listrik itu. Sinergi beberapa perusahaan negara memang tepat. Namun jika melihat struktur penugasan yang diberikan, besar kemungkinan PLN hanya akan berperan pasif sebagai penyedia energi listrik.

    Pemerintah dalam hal ini harus membuat garis batas yang tegas. Seluruh sinergi yang direncanakan itu mestinya menjadikan PLN sebagai panglima, bukan pengekor. PLN harus memimpin sinergi dan merumuskan kebijakan industri kendaraan listrik di masa depan. Karena itu memang domain mereka. Peran PLN tidak boleh dibatasi hanya berperan di hilir saja, tapi juga harus dimulai sejak dari hulu.

    Oleh sebab itu, PLN juga harus agresif. Membuat terobosan dan memimpin penyediaan penunjang kendaraan listrik. Misalnya dengan menjadi penyedia SPKLU utama di Indonesia. Juga memiliki otoritas untuk mengurus bisnis baterai kendaraan listrik, seperti kewenangan untuk mendirikan anak usaha khusus guna menangani hal itu.

    Dengan cara itulah PLN akan menjadi pemain utama, bukan penonton peralihan zaman. Di sini yang mesti disingkirkan adalah ego sektoral. Kerja sama yang baik dari hulu hingga hilir akan menjadikan Indonesia pemain utama pada industri kendaraan listrik. Minimal sebagai pemasok terbesar bahan baku pembuat baterainya. Tentunya dengan menempatkan PLN sesuai kapasitas dan domainnya. Sebagai panglima yang memimpin perusahaan negara dalam memasuki perubahan zaman itu nantinya.

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.