Petaka di Siula Grande; Kisah Survival Pendaki Gunung Paling Mengagumkan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Joe Simpson

anton sujarwo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Desember 2020

Selasa, 12 Januari 2021 16:34 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Petaka di Siula Grande; Kisah Survival Pendaki Gunung Paling Mengagumkan

    Ada banyak kisah survival dalam dunia pendakian gunung yang demikian terkenal, salah satunya adalah Touching the Void. Kisah survival ini menceritakan bagaimana seorang pendaki Inggris bernama Joe Simpson, bertahan hidup dan mencari jalar pulang dari gunung ganas Andes dengan kaki yang patah. Dalam banyak literatur hingga saat ini, Touching the Void diakui sebagai salah satu kisah manusia bertahan hidup di atas gunung yang paling mengagumkan.

    Dibaca : 836 kali

    kisah survival di gunung

    Di tengah keadaan yang kian buruk, badai dan gelap kian membungkus mereka, Simon Yates secara tidak sengaja menurunkan Simpson di sebuah tebing yang cukup curam. Karena posisi Yates yang duduk lebih tinggi di atas gunung, ia tidak dapat melihat atau pun mendengar suara Simpson. Dan begitu pun sebaliknya, Joe Simpson tak bisa mendengar dan melihat Simon Yates. Satu-satunya yang menjadi alat komunikasi kedua pendaki itu adalah tali yang menghubungkan mereka. Dan memang telah disepakati sebelumnya bahwa jika Simpson menyentakkan ujung tali dari bawah, itu artinya ia telah sampai di dasar tebing, dan Yates dapat menarik tali tersebut kemudian melanjutkan proses belaying untuk dirinya sendiri.

    Setelah sekian lama menurunkan Simpson, sentakan tali yang ditunggu-tunggu tidak kunjung muncul. Namun Yates merasa bahwa bobot tali tidak berkurang, yang menandakan bahwa Simpson masih ada di ujung sana. Tanpa sepengatahuan Simon, Joe Simspon ternyata terjebak di ujung tali, ia menggantung di sebuah tebing yang dalam kondisi gelap tak terlihat seberapa jauh dasarnya. Sebelumnya ia mencoba naik kembali untuk memberi kode sentakan tali pada Yates, namun tangannya yang membeku dihajar radang dingin sama sekali tak mampu untuk digerakkan. Bahkan upaya untuk membuat simpul perusiking yang ia lakukan malah menjatuhkan tali pendek berukuran lebih kecil yang ia bawa.

    Pasangan pendaki ini terjebak dalam kondisi yang sangat buruk. Simpson tidak bisa memanjat tali karena tangannya membeku dan tali perusikingnya juga terjatuh. Di sisi lain, Yates juga tidak bisa menarik tubuh Simpson kembali. Tebing terlalu tinggi untuk menurunkan Simpson lebih jauh, sementara simpul tali tidak bisa melewati plate belay dalam kondisi kencang seperti itu. Dan kondisi kian buruk karena keduanya tidak bisa saling berkomunikasi.

    Simon Yates dan Joe Simpson tertahan dalam kondisi seperti itu sekian lama, bahkan dalam bukunya Simpson mengatakan ia sempat tertidur (karena letih). Namun ketika lubang salju yang menjadi tempat duduk dan tumpuan Yates mulai bergerak, hal itu membutuhkan sebuah pengambilan keputusan yang segera.

    Jika salju itu terus bergerak dan melorot karena pembenanan tubuh Joe Simpson, maka keduanya akan mati karena mereka terhubung oleh sebuah tali yang sama. Dalam kondisi genting dan dilematis ini, Yates harus membuat keputusan cepat.

    Dan memotong tali yang kencang itu dengan sebilah pisau kecil yang ia bawa, nampak baginya sebagai sebuah keputusan yang paling baik, paling bijak, dan yang terpenting paling mudah untuk dilakukan. Dengan terputusnya tali tersebut, ia memiliki kesempatan untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Sementara di sisi lain, Simpson yang tidak mengirim reaksi sejak lama juga tidak perlu lagi sekarat terpapar badai dan angin beku Siula Grande. Putusnya tali itu akan mempermudah kematian Simpson (jika pun ia masih hidup). Dan kematian yang cepat tanpa perlu menderita lebih panjang, layak untuk diberikan kepada Simpson.

    Dan atas pertimbangan itu semua, Simon Yates menarik pisaunya, dan memotong tali tersebut dengan mudah.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.