Kronik Perjuangan Geger Cilegon 1888 (Bagian 4) - Analisa - www.indonesiana.id
x

Rumah H. Wasid yang di porakporadakan kompeni

kang Nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 21 Juli 2021 07:41 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kronik Perjuangan Geger Cilegon 1888 (Bagian 4)

    Menghormati dan mengenang Pemberontakan Cilegon yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888 (Geger Cilegon 1888}

    Dibaca : 286 kali

    Mendengar pasukan Ki Wasid dihadang oleh tentara kolonial dan mengalami kekalahan di Toyomerto, maka pasukan di Serang yang sudah disiapkan, dibubarkan dan kembali ke kampung masing masing. Penyerbuan ke Serang gagal total.

    Dengan kekalahan pasukan Ki Wasid, pasukan kolonial bermaksud meneruskan perjalanan ke Cilegon, namun pada saat tentara menghampiri para pejuang yang tergeletak terkena tembakan, tiba tiba seorang dari mereka bangun dan mendadak menyerang barisan depan tentara dengan golok. Seorang kopral bernama Daams bergumul dengan penyerang. Tak lama setelah itu, pejuang tersebut di berondong dengan tembakan. Pejuang yang bernama Mesir dari Arjawinangun tewas seketika.

    Mesir ini adalah anak Ki Wakhia pimpinan Peberontakan tahun 1850. Perlu di ketahui bahwa dalam pemberontakan 1888 ini, keluarga/keturunan ki Wakhia selain Mesir, ikut dalam pemberontakan yakni dua anak perempuannya  bernama  Nyi Rainah dan  Nyi Aminah termasuk menantunya – suami Nyi Aminah -- Sakib. Ketiga orang ini setelah ditangkap kemudian dibuang ke luar pulau jawa, Sakib dan Nyi Aminah di buang ke Kupang, sedangkan Nyi Rainah ke  Gorontalo.

    Menurut catatan Sartono Kartodirjo, diantara yang jadi korban tembakan tentara kolonial dan meninggal dunia, antara lain, Arab (Bagendung), Budiah (Bagendung), Kadiman (Arjawinangun), Durajak (Arjawinangun), Kusen ( Wanasaba ), Mali ( Tubuy ), Mesir (Arjawinangun),Sadir ( Toyomerto), Usup ( Arjawinangun ).

    Adapun yang mengalami luka luka antara lain; Ahmad (Arjawinangun), Alwan (Cibeber), Asman (Tegalkedondong), Mulapar (Arjawiangun), H. Kayud (Tegalmangun), Saldam (Tubuy), Salim (Tengkurak), Samad (Arjawinangun), H,Samidin (Kramatwatu), Sarip (Bagendung), H.Usman (Arjawinangun).

    Dengan adanya kekalahan di Toyomerto, apakah semangat untuk berjuang lantas padam?. Ternyata tidak, Ki Wasid dan H.Tubagus Ismail justru merencanakan  serangan kedua terhadap Cilegon yang sudah di duduki tentara kolonial.

    Malam harinya Ki Wasid, H.Tubagus Ismail berkumpul di alun lun lantas  pasukannya dua kali menyerang penjara, namun selalu di balas dengan tembakan tentara.

    Dengan adanya penyerangan tersebut, membangkitkan amarah kolonial Belanda. Berbarengan dengan itu, bala bantuan tentara kolonial  yang mendarat di Karangantu langsung di kirim ke Cilegon.

    Hari itu juga, diadakan rapat  di pimpin Residen Banten, hasilnya harus segera dilakukan operasi militer  untuk mengejar dan menangkap para pejuang yang keberadaannya sudah terpecah.

    Dibawah komando Kapten De Braw, satu pasukan berangkat menunju Beji, kampung tempat tinggal Ki Wasid karena ada info  Ki Wasid dan pasukannya ada di situ. Pasukan kolonial berangkat melalui Kependilan, Tengkurak, Kubang laban lor hingga ke Gunung Santri. Sementara pasukan Raden Pena, Kapten Hojel dan Van Rinsum berangkat melalui Pecek, Tunggak , Wadas ke Gunung Santri.

    Beji saat itu di kepung, penyerbuan akan dilakukan menjelang matahari terbit. Namun ketika penyerbuan dilakukan di pagi hari itu, pihak kolonial kecele lantaran pada saat rumah rumah digeledah, didalamnya hanya terdapat lampu yang masih menyala, sementara penghuninya sudah tidak ada.

    Entah disengaja atau tidak, pada saat penggeledahan di satu rumah, ada lampu yang jatuh dan mengakibatkan rumah terbakar hingga merembet ke seluruh rumah di kampung itu, alhasil  kampung Beji luluh lantak karena rumah rumah dilalap api, kecuali rumah H. Abdul Karim yang tidak terbakar meskipun berada ditengah tengah rumah yang terbakar.

    Pengejaran terus di lakukan, ada info Ki Wasid ada di Kampung Ciora, tentara bermaksud mengejar kesana, namun dalam perjalanan lebih mendahulukan pencarian pelaku pemberontakan di kampung Kedung dan Terate Udik.

    Saat tiba di Kedung --sama halnya dengan di Beji-- , hanya rumah kosong yang didapat. Namun saat itu tentara melihat dua orang berlari, satu ditangkap satunya lagi berhasil meloloskan diri.

    Tentara kemudian mengancam, jika yang melarikan diri tidak mau menyerahkan diri atau tidak ada yang memberi tahu dimana tempat bersembunyi para pemberontak dalam waktu seper empat jam, kampung akan di bakar. Waktu yang diberikan sudah lewat, tapi tidak ada seorangpun yang mau memberitahu, ahirnya rumah rumah di kampung itupun di bakar habis.

    Kini giliran kampung Terate Udik, kampung ini merupakan tempat tinggal pejuang yang jadi pimpinan pemberontakan yakni H. Mahmud. Tak ayal kampung ini disasar dan digeledah untuk mencari keberadaan H. Mahmud dan pejuang lainnya.  H. Mahmud ditangkap dirumahnya.

    Pencarian terhadap pejuang lainnya terus dilakukan, namun pihak kolonial  tidak mendapatkan info apapun lantaran tak ada orang yang mau meberitahu alias tutup mulut.

    Akibatnya rumah rumah di kampung Terate Udik dibakar termasuk rumah H. Mahmud. Diketahui bahwa perintah untuk membakar rumah rumah penduduk ini datang dari kontrolir De Cauvigny de Blot.

    Operasi militer pencarian  dengan maksud menangkap para pejuang pemberontakan terus ditingkatkan pihak kolonial. Hampir semua  desa yang dianggap banyak pengikut/anggota atau pimpinan pasukan Ki Wasid  diobrak abrik seperti Tunggak, Cibeber, Bojonegara, Ciore, Citangkil, Seneja. Namun upaya itu  sia sia karena para pelaku atau pimpinan pejuang pemberontakan tidak ada di kampung masing masing.

    Dilain pihak, di wilayah wilayah tertentu, para pejuang yang terpisah dari pasukan induk ki Wasid terus mengadakan perjuangan perlawanan meskipun berujung maut baik berkelompok maupun sendiri sendiri.

    Pada tanggal 17 Juli 1888, seorang pejuang  menyerang  tentara yang sedang berjaga di pos gardu Benggala Serang. Meskipun hanya seorang diri,  tanpa menghiraukan perintah untuk berhenti,  terus menyerang dengan senjata yang di bawanya (Golok). Melihat anak buahnya diserang dengan golok, komandan jaga kemudian membidikkan senjata api menembak pejuang tersebut dan meninggal di tempat.

    Setelah diadakan pemeriksaan, diidentifikasi jenazah  tersebut adalah H. Ishak dari Seneja yang selama ini dicari cari karena termasuk pimpinan pemberontakan.

    Peristiwa lain, H. Madani dan H. Jahli (Ciore)  yang memisahkan diri dari pasukan ki Wasid, bersembunyi beberapa hari di kampung Cipinang -- kemungkinan Cipinang Grogol- , malang bagi  kedua pejuang tersebut, keberadaannya ada yang melaporkan kepada pihak yang berwajib.

    Saat itu juga dikirim  satu kaveleri dan pasukan infantri dibawah pimpinan Kontrolir Herkes dan Patih  Raden Pena sebagai penunjuk jalan.

    Diketahui H.Madani dan H.Jahli bersembunyi di dalam Masjid, tanpa  ragu dua orang tentara mendobrak pintu masjid, kondisi di dalam masjid sunyi, tentara mengira sudah tidak ada alias sudah kosong. Namun tiba tiba tentara itu di serang dari belakang, terjadi perkelahian sengit, tentara itu mengalami luka bacok yang sangat parah, datang bantuan dari tentara lainnya, sebelum ahirnya menembakkan senjatanya ke arah H. Madani dan H. Jahli, keduanyapun meninggal dunia.

    Demikian pula yang menimpa Agus Suradikaria dan dua orang pengikutnya yang juga memisahkan diri dari pasukan induk. Ketiga pejuang ini bersembunyi di sebuah kampung Kusambisaba, masuk wilayah afdeling Serang. Militer mengirimkan tentara di dampingi Patih Serang  sebagai penunjuk jalan. Sesampainya disana, rumah tempat bersembunyi di kepung tentara, Patih berteriak minta supaya Agus Suradikaria keluar menyerahkan diri.

    Bukannya menyerah, dua dari  ketiga orang ini menjawabnya dengan serangan terhadap Patih, dengan sigap, tentara membidikkan senjata, dua orang ini – salah satunya Agus Suradikaria -- ahirnya tewas terkena peluru. Adapun yang seorang lagi berusaha melarikan diri, tapi kemudian ditangkap lalu ditusuk sangkur oleh tentara, iapun meninggal dunia. Dua orang pengikut Agus Suradikaria ini ternyata H. Nasiman dan seorang agen polisi yang diperbantukan kepada jaksa di Cilegon.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.