Kegagalan Cendekiawan Jadi Penerang Masyarakatnya - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 27 Juli 2021 12:42 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Kegagalan Cendekiawan Jadi Penerang Masyarakatnya

    Cendekiawan kita, di masa sekarang, lebih senang menjadi pengabdi kekuasaan ketimbang pemandu masyarakat dan bangsanya. Mereka merasa puas dengan menjadi penyusun argumen untuk membenarkan kekuasaan. Inilah tragedi cendekiawan kita hari ini!

    Dibaca : 945 kali

     

    Keterlibatan cendekiawan Indonesia dalam politik sudah berlangsung sejak lama. Di masa perjuangan menuju kemerdekaan, banyak cendekiawan yang mengambil peran penting dalam menyadarkan masyarakat tentang keadaan sosio-ekonomi-politik mereka. Cendekiawan membentuk organisasi, menulis, dan menggelar pertemuan-pertemuan dengan rakyat. Proses penyadaran berlangsung intensif hingga rakyat tergerak untuk merebut kemerdekaan.

    Setelah Republik berdiri, cendekiawan tetap terlibat dalam politik, melanjutkan kehidupan berpartai yang mereka bentuk sebelum kemerdekaan, terjun ke pemerintahan dan parlemen, serta menjadi pejabat Republik dan mengisi tempat-tempat yang membutuhkan kehadiran mereka. Pendidikan yang mereka tempuh di masa kolonial menjadi bekal para cendekiawan ini untuk menjadi suluh bagi bangsanya yang baru merdeka.

    Namun, berjuang di masa Republik berbeda dengan di masa penjajahan. Cendekiawan dihadapkan tantangan baru, salah satunya ialah bagaimana memegang kekuasaan secara adil untuk kesejahteraan rakyat banyak di berbagai lapangan kehidupan. Di masa kolonial, cendekiawan menghadapi lawan bersama yang nyata: penjajah. Meskipun ada sebagian orang yang mengabdi kepada kaum kolonial, namun mayoritas cendekiawan bersepakat untuk merebut hak hidup sebagai bangsa yang merdeka.

    Di masa Republik, cendekiawan dihadapkan lawan baru, salah satunya ialah godaan untuk berkuasa secara berlebihan. Memegang kekuasaan tanpa pengawasan kolonial merupakan pengalaman baru bagi cendekiawan kita. Mereka bukan lagi melawan penguasa, melainkan menjadi penguasa—dan mulai saat itulah kaum cendekiawan kita menghadapi tantangan yang harus mereka jawab: menjadi pemegang kekuasaan tanpa meninggalkan nilai-nilai kecendekiaan yang menghargai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.

    Dalam sejarah kita, sebagian cendekiawan akhirnya terpesona oleh kekuasaan—Bung Karno salah satunya. Ia menelurkan apa yang ia namai Demokrasi Terpimpin. Karena keinginan kuat Bung Karno untuk mewujudkan gagasannya itu, ia berselisih jalan dengan kawan-kawan seperjuangan. Bung Hatta mengundurkan diri dari posisinya sebagai wakil presiden karena tidak menyetujui pilihan Bung Karno. Bung Sjahrir dimasukkan ke dalam penjara dan kemudian wafat di Swiss dalam status tahanan politik. Kekuasaan telah memakan korban persaudaraan semasa perjuangan melawan kolonialisme.

    Sebagai golongan terdidik, secara tradisional di belahan bumi manapun, cendekiawan mengemban tugas untuk menjadi suluh penerang jalan bagi masyarakatnya, baik di masa kolonial maupun setelah bangsa meraih kemerdekaan. Ketika bangsa-bangsa baru memerintah dirinya sendiri, peran cendekiawan tidak berakhir, melainkan justru semakin penting, sebab kekuasaan memiliki pesona tersendiri yang mampu menundukkan integritas cendekiawan. Sebagian yang masuk ke dalam kekuasaan akhirnya terpenjera oleh pesona kekuasaan, sebagian yang lain berhasil keluar dari jerat kekuasaan, dan sebagian lainnya memang memilih untuk tidak memasuki lingkaran kekuasaan karena menyadari dampak buruknya.

    Bung Hatta adalah contoh dari cendekiawan yang mampu menjaga kesadarannya akan bahaya kekuasaan dan memilih mundur dari jabatan wakil presiden ketika ia berselisih pandangan dengan Bung Karno, kawan seperjuangannya, mengenai masa depan demokrasi Indonesia. Menjaga kesadaran akan tugas kencendekiawanan inilah yang di masa sekarang menjadi persoalan yang dihadapi oleh cendekiawan kita. Menjadi semakin terlihat jelas bagaimana sebagian cendekiawan kita tidak memiliki cukup keteguhan hati saat berhadapan dengan kekuasaan.

    Di masa sekarang, kita dapat menyaksikan bagaimana cendekiawan yang direkrut ke dalam lingkaran kekuasaan ternyata gagal mempertahankan integritasnya sebagai cendekiawan. Mereka gagal menjadi lentera yang menerangi bilik-bilik kekuasaan, sebab mereka malah terpesona dan silau oleh gemerlapnya kekuasaan. Mereka gagal menjadi pemandu kekuasaan agar berjalan demi tegaknya keadilan, kemanusiaan, kebenaran, serta kesejahteraan rakyatnya. Mereka telah mengabaikan peran sejarah yang pernah dijalankan oleh para pendahulu dengan penuh pengorbanan. Kegagalan ini merupakan kegagalan untuk bertindak sesuai dengan prinsip kecendekiaan karena hasrat akan kekuasaan dan karena kepentingan yang terancam.

    Sungguh tragis bahwa cendekiawan kita di masa sekarang gagal mengemban tugas historis yang dimulai oleh para perintis kemerdekaan maupun penegak Republik ini, yakni mendidik dan membimbing masyarakat. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri dan berusaha masuk lebih dalam ke lingkaran kekuasaan. Mereka yang telah berada di lingkaran dalam kekuasaan—eksekutif, legislatif, maupun yudikatif—tampak gagal menjalankan tugas sejarahnya. Cendekiawan yang tinggal di kampus kian tidak berdaya menghadapi birokrasi dan kekuasan dan berbondong-bondong pindah ke pusat-pusat kekuasaan yang lebih menjanjikan.

    Cendekiawan kita, di masa sekarang, lebih senang menjadi pengabdi kekuasaan ketimbang menjadi pemandu masyarakat dan bangsanya. Mereka merasa puas dengan menjadi penyusun argumen untuk membenarkan kekuasaan. Inilah tragedi cendekiawan kita! Inilah tragedi bangsa kita! >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.