Cendekiawan yang Menutup Mulut - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

ilustr: legalesq.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 27 Oktober 2021 09:26 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Cendekiawan yang Menutup Mulut

    Ada cendekiawan yang tertawan di kursi hakim, kursi dewan pengawas, maupun kursi dewan pengarah. Entah sampai kapan mereka betah di sana atau mereka malah merasa nyaman tinggal dalam sangkar emas?

    Dibaca : 1.527 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mengapa para cendekiawan kita semakin jarang berbicara tentang kebenaran, keadilan, kejujuran, serta keberpihakan kepada kaum lemah? Apa yang membuat mereka menutup mulut, padahal mata mereka melihat dan telinga mereka mendengar? Sebagian cendekiawan bahkan diam seribu basa begitu mereka masuk ke dalam sangkar emas kekuasaan.

    Sosok-sosok cendekiawan yang dahulu dikenal mengambil posisi kritis terhadap kekuasaan demi menguatkan rakyat kini lebih suka tinggal di sangkar emas. Mereka mungkin dibujuk untuk tinggal di sangkar emas dengan iming-iming kehormatan karena mengabdi kepada bangsa dan negara serta dibujuk bahwa mereka akan lebih bagus melakukan perubahan dari dalam ketimbang teriak-teriak di luar.

    Entah mengapa para cendekiawan itu setuju meninggalkan habitat aslinya dan memilih tinggal di sangkar emas, apakah lantaran percaya pada iming-iming dan bujukan? Mereka seyogyanya sudah tahu bahwa sangkar emas itu nyaman ditempati karena terlihat indah dan mewah, tapi bukan tanpa konsekuensi—mereka tidak diizinkan berbicara ke luar atas nama pribadi, karena mereka kini mewakili institusi; dan institusi punya aturan mengenai siapa yang boleh berbicara mengenai suatu isu. Mereka boleh berbicara bebas, tapi di dalam ruang tertutup.

    Sangat jelas, cendekiawan yang terbujuk untuk tinggal di sangkar emas kemudian kehilangan kemerdekaannya untuk berbicara dan mengutarakan pendapat di hadapan publik, maupun menulis di media massa. Sangkar emas membuat para cendekiawan hanya bisa berbicara dalam ruang terbatas dengan pendengar terbatas, dan mereka tidak memiliki wewenang berbicara kepada publik kecuali jika diberi mandat dengan batasan tertentu.

    Sangkar emas untuk cendekiawan itu dapat berupa kursi hakim di majelis terhormat, kursi dewan pengawas, kursi staf ahli atau penasihat, mungkin pula kursi dewan pengarah atau pembina. Sebelum jadi hakim terhormat, cendekiawan bebas berbicara. Khalayak pun memperhatikan pandangannya, mencermati gagasannya, dan menghargai kemandiriannya. Sayangnya, begitu mengenakan toga, ia tak lagi bebas berbicara di ruang publik. Di dalam ruang majelis pun, pengaruhnya terbatas—ia hanya salah satu dari sekian hakim yang memutus perkara. Jikalaupun ia memiliki pandangan berbeda mengenai suatu perkara, namun kemudian kalah suara, maka pendapatnya tidak memiliki efek hukum apapun.

    Di kursi pengawas, cendekiawan yang semula kritis lantaran ingin pemerintahnya sehat dalam melindungi rakyatnya kini cenderung melempen. Ia tak lagi bisa berbicara bebas mengenai topik-topik yang menjadi keahliannya. Ia pun tak bisa berbicara bebas mewakili institusinya, sebab ia bukan jubir ataupun ketua. Sebagai anggota pengawas, ia boleh bersuara namun dalam ruang yang dibatasi dinding-dinding. Masyarakat tak lagi mendengar suaranya di ruang publik, tak lagi tahu pikirannya yang dulu mencerahkan, tak lagi tahu pandangannya yang dulu menginspirasi. Suaranya masih ada, tapi hanya bergema di sangkar emas yang tertutup.

    Cendekiawan lain begitu sigap mengritisi kebijakan publik. Dalam usianya yang sudah lanjut, cendekiawan ini masih mampu berpikir jernih dan membedakan secara jelas yang baik dan yang tidak bagi masyarakatnya. Ia menjadi figur inspiratif yang membuat kaum muda mengagumi pikiran dan semangatnya. Sangkar emas, sayangnya, membuat suaranya tak lagi terdengar di ruang publik. Pikirannya yang inspiratif dan mencerahkan tak lagi tertera di halaman media. Ia tak lagi muncul di televisi maupun kanal youtube sebagai sosok cendekia yang memantik pikiran anak muda. Suaranya kini tak lagi menggema di ruang publik.

    Entah sampai kapan mereka betah berada dalam sangkar emas, mungkin tidak lama, tapi mungkin pula mereka akan terbuai oleh kenyamanan dan enggan meninggalkannya. Para cendekiawan itu mungkin merasa akan mampu melakukan perbaikan dari dalam, namun rakyat di luar menatap mereka sebagai cendekiawan yang kian terpesona oleh keindahan sangkar emas dan tidak berkutik. Tak ada perubahan apapun. Suara mereka bahkan tidak terdengar lagi. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.