Merdeka Belajar, Jangan Sekadar Tajuk - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Pembukaan sekolah kembali kerap dianggap sebagai suatu hal yang berisiko

Astria Prameswari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 November 2021

Senin, 22 November 2021 07:25 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Merdeka Belajar, Jangan Sekadar Tajuk

    Dalam konsep merdeka belajar, peran guru sebagai penggerak harus benar-benar merdeka menggerakkan siswa. Siswa pun benar-benar merdeka dalam belajar tentang segala hal di sekitarnya. Tetapi, sebenarnya sudahkah ruh Merdeka Belajar benar-benar hadir dalam jiwa-jiwa yang sedang belajar di dalam kelas? Sudahkan para guru memerdekakan dirinya sendiri dari aturan lama?

    Dibaca : 606 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Memahami kebaharuan tampaknya tidak boleh hanya sekadar mengangguk, tersenyum, lalu mengamini segala konsep yang disodorkan. Teori-teori dalam bungkus regulasi, yang tidak dipungkiri, terus menerus harus dipelajari oleh para guru. Bagaimana tidak? Para guru sebagai pelaku lapangan yang bersentuhan langsung dengan efek-efek dari regulasi pendidikan, mau tidak mau harus menerimanya.

    Salah satu regulasi yang masih hangat dibicarakan oleh dunia pendidikan adalah Merdeka BelajarEsensi dari kemerdekaan dalam belajar itu masih berusaha diterjemahkan dengan berbagai kecepatan para guru. Sebagian guru yang berada di tingkat kelembagaan yang belum tersentuh oleh inovasi merdeka dalam belajar tentunya berada dalam siluet remang-remang. Guru dan sekolah yang menaunginya berusaha menerka-nerka maksud pelaksanaan kemerdekaan tersebut. Praktik sosialisasi yang masih berputar di dunia siber membuat sebagian guru tersebut harus mengelus dada dalam mencari segala keterbenderangan informasi. Mereka sejatinya mengeluh.

    Ada juga sebagian guru lainnya yang sebenarnya dengan mudah menjangkau segala akses informasi termasuk tentang Merdeka Belajar. Bagaimana menurut mereka? Mereka tahu dan paham segala teori yang ada di dalamnya. Akan tetapi, untuk langkah selanjutnya, yang patut diperhatikan adalah aplikasi dalam proses pembelajaran. Sudahkah ruh Merdeka Belajar benar-benar hadir dalam jiwa-jiwa yang sedang belajar di dalam kelas?

    Pertama, kita akan berbicara tentang aspek kenyamanan. Kenyamanan tentu identik dengan kebebasan atau sebut saja dengan kemerdekaan. Seseorang akan nyaman dalam belajar jika tidak melulu terikat dengan konvensi itu-itu saja. Konvensi, norma, aturan tentu sangat diperlukan dalam proses belajar. Namun, aturan yang tidak dipahamkan secara logis akan membawa dampak yang kurang baik.

    Misalnya, guru diwajibkan mengurus persoalan administrasi yang ditekankan sebagai kewajiban. Kewajiban tersebut lama kelamaan dirasa menjadi beban atau momok bagi para guru saat datang ke sekolah. Berlembar-lembar tumpukan beban administrasi terus menerus didoktrinkan agar selalu dilakukan. Kelelahan dan kebosanan pun terus dirasakan setiap tahunnya. Mengapa beban tersebut tidak disederhanakan dan dibuat mudah? Meskipun hal tersebut dapat dilakukan.

    Kasus detailnya seperti kewajiban guru menyusun rencana pembelajaran. Rencana tersebut adalah pedoman garis besar proses pembelajaran. Rencana tersebut dapat dikondisikan sebagai tugas yang membantu tugas sehari-hari bukan beban. Nyatanya penyusunan rencana pembelajaran dipahamkan untuk mengikuti pola ini, alur itu, menurut sana, sesuai sini. Merdeka Belajar mulai menjawab dengan gebrakan susunan rencana pembelajaran 1 lembar. Para guru diberikan kemerdekaan untuk memilih materi, media, model belajar, model penilaian, dan komponen lain sesuai kenyamanan. Sayangnya, rencana pembelajaran 1 lembar masih menjadi pemanis bibir saja.

    Kedua, kita masih sibuk pada aspek kompetisi. Kita sibuk menghargai kompetensi dari goresan-goresan angka dan label prestasi. Pendidikan masih berputar-putar pada rangking, kejuaraan, dan kehebatan lainnya. Akibatnya, dunia pendidikan pun disibukkan dengan drill latihan soal, pembinaan lomba akademik, raihan piala dan sertifikat.

    Kita lupa pada substansi pendidikan yang berakar pada karakter mulia yang nantinya akan menggerakkan kesuksesan generasi muda. Dunia pendidikan masih belum mengoptimalkan pembelajaran tentang kejujuran yang sangat penting dalam kehidupan. Kita lupa pada aspek kreativitas yang tengah diagung-agungkan dunia internasional. Para siswa dan guru masih malu-malu kucing keluar dari kebiasaan belajar yang turun temurun dilakukan di sekolah.

    Para guru belum berani memerdekakan dirinya sendiri dari aturan lama. Para siswa masih ketakutan pada bayang-bayang tekanan rangking, tekanan tidak boleh berpendapat, harus selalu menurut pada guru tanpa ada proses diskusi, atau ketakutan-ketakutan lain. 

    Merdeka Belajar sudah menjawab segala permasalahan yang sudah lama membelenggu. Pertanyaannya adalah apakah banyak pihak sudah paham cara mengaplikasikannya. Sayang, bukan jika Merdeka Belajar hanya sekadar menjadi tajuk? Tantangan dunia semakin butuh untuk dijawab dengan praktik-praktik nyata. Para siswa menunggu solidaritas dalam pelaksanaan Merdeka Belajar.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.