Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Surya Ningsi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Rabu, 1 Desember 2021 21:45 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.

    Dibaca : 14.356 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Guru adalah pekerjaan mulia dan menjadi guru adalah mimpi sebagian besar orang. Banyak yang telah berhasil mewujudkan mimpinya menjadi guru karena sejatinya, guru tak selalu harus di kelas atau di sekolah, bahkan di kantor atau di rumah pun setiap orang dapat menjadi guru, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain di sekitarnya. Namun, tantangan zaman menuntut agar guru selalu mengupdate pengetahuan dan keterampilannya dalam mengajar. Demikian pula, dituntut untuk mampu memanage waktu yang ada serta mengontrol sosial emosional agar kehadirannya selalu dinanti dan terpatri dalam hati siapa saja.

    Menghadirkan guru di hati peserta didik bukanlah pekerjaan yang mudah. Guru harus mampu memahami apa yang menjadi kebutuhan dari peserta didik. Demikian pula, berbagai macam karakter yang melekat pada peserta didik mendorong agar guru selalu dapat menyesuaikan diri di mana saja dan kapan saja bersama peserta didik. Dalam proses pembelajaran di ruang kelas misalnya, guru selalu mempersiapkan segalanya agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sebelum memasuki kelas guru bahkan sudah mulai menyusun rencana pembelajaran sampai dengan bagaimana melakukan tahap evaluasi dan penilaian agar sukses membelajarkan peserta didik. Untuk itu, menghadapi pembelajaran di era pandemi covid-19, selain guru harus mempersiapkan rencana pembelajaran, melakukan evaluasi dan penilaian, guru juga diharapkan mampu menggunakan teknologi.

         Penggunaan teknologi di masa pandemi covid-19 menjadi kebutuhan yang utama baik bagi guru maupun peserta didik. Dengan memanfaatkan teknologi, guru dapat mengereasikan pembelajarannya menjadi lebih interaktif di masa pandemi covid-19. Demikian pula, bagi peserta didik dapat memperoleh sumber pengetahuan yang lebih luas melalui teknologi. Menurut Arifin & Setiyawan (2012), perkembangan teknologi menuntut pergeseran paradigma pembelajaran konvensional menuju pembelajaran berbasis teknologi. Dengan demikian, penting bagi guru untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilannya dalam memanfaatkan teknologi untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pembelajaran.

         Tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara maksimal selama masa pandemi covid-19. Hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 3 Bone menunjukkan bahwa jumlah peserta didik yang selalu mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui kegiatan Belajar dari Rumah (BDR) Tahun 2021 hanya berkisar 25% - 30%. Hal ini menunjukkan bahwa minat dan motivasi belajar peserta didik masih tergolong rendah. Demikian pula dengan hasil diskusi yang dilakukan dengan guru di lingkungan sekolah menunjukkan bahwa selama pandemi, pada umumnya guru hanya melakukan pembelajaran melalui WhatsAppGroup (WAG) dan pemberian tugas melalui GoogleClassroom tanpa memanfaatkan aplikasi teknologi yang lainnya sehingga kurang memotivasi belajar peserta didik.

         Memotivasi belajar peserta didik tidak terlepas dari strategi guru dalam mengelola pembelajaran secara efektif khususnya pada masa pandemi covid-19. Pembelajaran yang dikelola secara efektif dapat menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif, meningkatkan motivasi dan menjadikan pembelajaran menarik serta menyenangkan sehingga mendorong peserta didik untuk terus belajar meskipun dalam kondisi yang terbatas. Kondisi yang terbatas merupakan salah satu dampak dari pandemi covid-19, guru dan peserta didik dibatasi dengan waktu pembelajaran. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dengan kondisi yang terbatas tersebut, guru kesulitan untuk menyelesaikan seluruh kompetensi dasar yang harus dicapai dalam satu tahun ajaran. Bahkan, peserta didik kerap kali merasa jenuh dengan pembelajaran jarak jauh karena dibebani dengan banyak tugas setiap kali pembelajaran diadakan. Guru pun membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikan administrasi dan memeriksa tugas-tugas yang telah dikumpulkan oleh peserta didik.

         Terkait hal itu, perlu dikembangkan suatu strategi yang mampu mendorong kreativitas dan inovasi guru dalam melakukan pembelajaran jarak jauh. Hal ini agar peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Pengalaman belajar yang bermakna di era revolusi industri 4.0 menuntut peserta didik memiliki kompetensi dan keterampilan abad ke-21 yaitu kreatif, kritis, komunikatif dan kolaborasi yang dapat terwujud melalui implementasi kurikulum 2013 (Mujib & Rasyid, 2019).

         Implementasi kurikulum 2013 memusatkan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik dan salah satu strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru untuk mendukung hal tersebut adalah dengan melalui strategi Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif (PLICIK). Pembelajaran literasi dapat diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran agar peserta didik memiliki sikap disiplin dan berwawasan luas. Literasi juga dapat mendorong semangat peserta didik dalam belajar secara mandiri dan percaya diri serta menemukan inspirasi. Demikian pula, pembelajaran yang melibatkan pemanfaatan teknologi akan mendorong peserta didik memiliki sikap cerdas, inovatif dan kreatif.

         Strategi PLICIK tentunya dapat dimaksimalkan jika komunikasi antar guru dan peserta didik terjadi secara efektif. Untuk itu, strategi ini harus didukung oleh model pembelajaran yang mampu mendorong aktivitas peserta didik dapat meningkat melalui komunikasi efektif. Pembelajaran dengan Flipped Classroom atau pembelajaran terbalik dianggap sesuai bila diterapkan pada masa pandemi covid-19. Selain dapat menumbuhkan kreativitas dan sikap kritis peserta didik, juga dapat mendorong guru agar kreatif dan inovatif serta inspiratif dalam menyediakan bahan-bahan pelajaran dan tugas untuk peserta didik melalui pertanyaan-pertanyaan pemantik.

    Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Supiandi et al., (2019) mengatakan bahwa pembelajaran Flipped Classroom dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik dan membantu mengoptimalkan pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran dengan Flipped Classroom diharapkan dapat membentuk karakter positif peserta didik yaitu karakter profil pelajar Pancasila yang meliputi beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, kreatif, berkebhinekaan global. Pembelajaran PLICIK berbasis Flipped Classroom ini mendukung program pemerintah dalam mewujudkan Merdeka Belajar. Dalam prosesnya, guru menyusun serangkaian kegiatan secara sistematis agar mampu mengakomodir segala kebutuhan belajar peserta didik yang berbeda baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah.

    Guru bertindak sebagai fasilitator, memfasilitasi semua peserta didik agar mampu memproses ide atau informasi yang diperoleh dan mengkonstruk pengetahuan yang dimilikinya melalui suatu produk sebagai bentuk demonstrasi hasil pembelajaran yang dilakukan baik secara individu maupun secara berkelompok yang disesuaikan dengan kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik diberikan kebebasan mempelajari materi di rumah melalui Literasi sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan dan minat belajarnya. Bahkan, guru dapat menyediakan bahan ajar yang disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik (audio, visual, kinestetik). Pada saat pembelajaran tatap muka di kelas, peserta didik diberikan kesempatan untuk berbagi cerita kepada peserta didik yang lain dan berdiskusi serta memanfaatkan teknologi sebagai bentuk penguatan pembelajaran di rumah. Bahkan, peserta didik diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pengetahuannya melalui suatu produk sebagai bentuk dari pembelajaran Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif dengan cara berkolaborasi.

    Tidak ada paksaan, tidak ada sanksi dan reward dalam pembelajaran ini. Segala yang dilakukan oleh guru adalah dengan melihat keunikan dan potensi diri masing-masing peserta didik. Refleksi dan evaluasi yang dilakukan secara kontinyu mendorong peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat. Implementasi strategi pembelajaran ini juga memberikan kemudahan bagi guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, menimbulkan rasa aman, nyaman, menyenangkan dan meningkatkan motivasi serta kepercayaan diri bagi peserta didik dalam belajar yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.