Simbiosis Mutualis di Balik Seragam? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Toleransi. Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 21 Desember 2021 06:16 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Simbiosis Mutualis di Balik Seragam?

    Pakaian seragam menawarkan aura kekuatan yang tidak mereka temukan bila tanpa berseragam. Ada semangat korps, kebanggaan, kepercayaan diri, serta keberanian—yang mungkin tidak dipunyai tatkala mereka tidak berseragam. Mungkinkah hal-hal semacam ini yang membuat pejabat terlihat bangga mengenakan pakaian seragam ormas? Ataukah karena ada simbiosis mutualistis yang mempertemukan kepentingan mereka?

    Dibaca : 1.442 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Mengenakan pakaian seragam dan bersepatu lars, seorang pejabat tinggi terlihat bangga usai dilantik menjadi anggota kehormatan sebuah organisasi kemasyarakatan. Diapit petinggi ormas itu, wajahnya terlihat cerah. Walaupun ia pejabat papan atas, tapi pakaian seragam seakan-akan membangkitkan aura tersendiri. Barangkali, bukan hanya pejabat ini saja yang merasa begitu. Ada juga pejabat lain terlihat merasa gagah dengan seragam loreng ormas lain lagi.

    Kondisi psikologis apa sebenarnya yang bersemai dalam diri para pejabat publik tatkala memakai seragam seperti itu: merasa berbeda, lebih gagah, lebih kuat, lebih percaya diri? Apakah rasa gagah dan lebih kuat itu hanya karena seragam ataukah karena seragam berkorelasi dengan massa yang ada di belakangnya?

    Banyak orang yang memang terkesan merasa berbeda manakala mengenakan seragam [uniform] tertentu. Seragam itu seakan-akan memompa kepercayaan diri pemakainya. Mungkin ia merasa lebih gagah, sekalipun yang ia pakai bukan seragam militer ataupun polisi—yang memang tak boleh dipakai sebarang orang. Kecondongan ormas untuk mewajibkan anggotanya memakai seragam juga terkesan dimaksudkan untuk membangkitkan semangat kelompok, kepercayaan diri, solidaritas, dan seterusnya.

    Dengan mewajibkan berpakaian seragam pada anggotanya, ormas terkesan ingin menyeragamkan pikiran dan tindakan. Pada sejumlah ormas, seragam memang tidak dipakai oleh seluruh anggota, melainkan mereka yang tergabung dalam organ tertentu dalam ormas itu, yang lazimnya dekat dengan masalah keamanan, ketertiban, dan semacam itu.

    Seragam bukan hanya memengaruhi situasi batin pemakainya, tapi juga memengaruhi persepsi orang lain yang memandangnya. Ada bias yang kemudian tercipta karena seragam. Ada aura keberanian yang seketika muncul manakala orang mengenakan seragam yang memiliki asosiasi dengan organisasi tertentu. Sementara, pada diri orang lain yang melihatnya mungkin muncul semacam kekhawatiran.

    Di bawah naungan seragam, individu-individu yang bergabung di dalamnya akan merasakan semangat kebersamaan—spirit korps. Apabila semangat kebersamaan ini tersalurkan untuk hal-hal positif, jelas bagus. Misalnya, turun ke wilayah bencana untuk meringankan beban warga. Sebaliknya, bila tersalurkan untuk hal-hal yang cenderung destruktif, maka masyarakat akan ragu apakah kehadiran organisasi itu dapat membawa banyak kebaikan, sekalipun slogan dan jargonnya begitu penuh semangat.

    Ikatan solidaritas yang berlebihan mampu menstimulasi dengan cepat emosi para pemakai seragam. Semangat mereka akan mudah bergelora manakala ikatan solidaritas diusik. Perasaan sebagai satu kesatuan, satu identitas, satu nasib, akan menguat—dan seragam berperan di dalamnya. Di tengah situasi yang cukup hangat bagi terjadinya perselisihan, seragam berpotensi menciptakan pemisah antara kami dan kalian, kita dan mereka. Organisasi dengan seragam yang berbeda akan terdorong untuk menguatkan perbedaan yang selanjutnya malah memicu perselisihan.

    Di sisi lain, seragam dipandang oleh sebagaian orang sebagai tempat berlindung; di dalam organisasi inilah mereka menemukan lingkungan yang membuat mereka merasa aman, terlindungi, merasa nyaman sebagai bagian dari kelompok. Organisasi ini mungkin menuntut kepatuhan penuh yang berpotensi menurunkan daya kritis anggotanya, sehingga apapun yang menjadi kebijakan organisasi—dalam hal ini kebijakan pimpinannya—akan mereka taati.

    Bagi sebagian orang, pakaian seragam menawarkan aura kekuatan yang tidak mereka temukan bila tanpa berseragam. Ada semangat korps, kebanggaan, kepercayaan diri, serta keberanian—yang mungkin tidak dipunyai tatkala mereka tidak berseragam. Mungkinkah hal-hal semacam ini yang membuat pejabat terlihat bangga mengenakan pakaian seragam ormas? Ataukah karena ada simbiosis mutualistis yang mempertemukan kepentingan mereka? >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.