Jaga Attitude di Laga Final, Penggawa Garuda! - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Timnas

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 28 Desember 2021 08:43 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Jaga Attitude di Laga Final, Penggawa Garuda!

    Sebelum saya menulis prediksi tentang laga babak final nanti, semua pemain Indonesia, sebaiknya telah menonton siaran ulang laga versus Singapura, agar yang masih bersikap kampungan bisa instrospeksi diri, minimal malu pada diri sendiri, sehingga tak mengulang sikap-sikap kampungannya. Semoga. Aamiin.

    Dibaca : 732 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bila Shin Tae-yong (STy) meminta Asnawi Mangkualam tak pernah melakukan provokasi lagi, adalah wajar dan tepat. Apalagi kalau sampai dilanggar, ancamannya tidak main-main, yaitu tidak akan dipanggil ke Timnas Indonesia lagi sepanjang STy masih menukangi Garuda.

    Tak cerdas integensi dan personaliti

    Memang, kendati pada akhirnya timnas Indonesia lolos ke partai puncak, Babak Final Piala AFF 2020, akan menantang timnas Thailand, banyak catatan tak mengesankan yang benar-benar wajib diperbaiki oleh para pemain Indonesia, khususnya dalam hal intelegensi dan personaliti.

    Selain perbuatan Asnawi yang tak menjunjung sportivitas fair play dalam olah raga (sepak bola), perbuatannya sekaligus juga menunjukkan spidometer intelegensi dan personalitinya, attitude-nya.

    Setali tiga uang, emain lain juga berulangkali menunjukkan ketidakcerdasan intelejensi dan personaliti, baik saat Indnesia unggul 1-0 atau tatkala Indonesia dalam posisi tertinggal 1-2 oleh 9 pemain timnas Singapura.

    Pelanggaran demi pelanggaran terus dilakukan oleh para pemain Indonesia, seolah tak ada pikiran bahwa hal itu selain semakin menunjukkan bahwa pemain bersangkutan jadi nampak kebodohannya, juga membuang-buang waktu yang tidak perlu.

    Pemain belakang terus bikin pelanggaran bodoh. Ada pemain depan yang tetap egois dan individualistis. Ada yang terus sok melakukan tendangan jarak jauh, tetapi selalu mengapung. Bahkan Egy pun sampai disindir mau dikasih jersey oleh pemain Singapura dari pada minta kaos saat sedang bermain karena melakukan pelanggaran menarik kaos.

    Beruntung dewi fortuna masih berpihak kepada Indonesia, hingga Nadeo.mampu memblok tendangan pinalti. Andai Nadeo gagal, gugurlah Indonesia di tangan Singapura yang hanya bermain dengan 9 orang, saat kedudukan imbang 2-2. Andai pinalti menjadi gol, entah apa isi berita yang akan menghiasi media massa di Asia Tenggara maupun Asia dan Dunia, karena Singapura berhasil menggulung Indonesia dengan kekuatan hanya 9 pemain melawan 11 pemain.

    Sebabnya karena pemain Indonesia tak mampu menguasai diri, apalagi menjnakkan lawan. Sebelum laga, saya juga sudah menulis catatan tentang kelebihan dan kelemahan intelegensi dan personaliti penggawa Garuda.

    Lalu, legenda sepak bola nasional, Kurniawan DJ juga sampai memberikan tip sederhana, yaitu cegah serangan balik dan jangan sampai terjadi servise bola-bola mati, ternyata Indonesia tetap dibikin mati kutu oleh bola-bola mati Singapura. Akibat dari lolosnya counter attack dan tetap tak mampu meredam servise bola mati.

    Contoh buruk

    Kembali kepada sikap Asnawi yang secara kontroversial menghampiri Faris Ramli, yang gagal mengeksekusi tendangan penalti menjelang akhir laga semifinal kedua Piala AFF 2020, Sabtu (25/12/2021), dan jelas disorot kamera siaran langsung televisi, sungguh membikin kaget publik sepak bola nasional.

    Benar, kegagalan pemain Singapura itu sekaligus memupus harapan Singapura untuk melaju ke final, tetapi entah apa yang saat itu ada dipikiran Asnawi, yang juga menyandang ban kapten timnas Indonesia.

    Tiba-tiba, begitu Faris gagal mengeksekusi pinalti, Asnawi diduga mengucapkan ledekan ke Faris Ramli Sambil memegang pundaknya, sampai Asnawi kemudian dipisahkan oleh rekan Faris Ramli.

    Beruntung STy tidak tahu kejadiannya secara langsung. STy baru tahu Asnawi melakukan provokasi setelah melihat video tayang ulangnya.

    "Saya tidak tahu ada aksi itu saat masih di stadion, tapi saya terkejut setelah melihat video tayangan ulang," kata Shin Tae-yong, dikutip dari media Korea, Joongang.

    STy pun bertindak tegas. "Setelah makan siang, saya menegur Asnawi dan mengatakan, 'jika itu terjadi lagi selama saya masih menjadi pelatih, jangan pernah berharap datang ke timnas'," ujarnya.

    Rupanya, meski publik sepak bola nasional tahu, Asnawi bak anak emas STy dan dipercaya menjadi kapten tim, STy tak mentoleransi sikap buruk Asnawi.

    Pasalnya, STy adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi sikap fair play. Meski STy sempat bersitegang dengan pemain di bench Singapura karena kecewa pemain lawan merayakan gol di depan bench Timnas Indonesia, tetapi STy tak banyak melakukan protes saat timnas Indonesia dirugikan wasit karena tak menghadiahi penalti buat Indonesia pada semifinal leg pertama dan tetap menghargai keputusan wasit.

    Yang pasti atas sikapnya, itu adalah contoh attitude buruk, hingga sampai dibahas oleh media asing. STy pun mengungkapkan bahwa semua pemain di lapangan adalah rekan kerja, betapa hancur perasaannya setelah gagal mencetak gol penalti.

    Karenanya, STy pun tak bisa menerima saat pemain Singapura merayakan gol di depan bench Indonesia.

    Kampungan

    Sejatinya, saya tak berniat mengulas masalah intelegensi dan personaliti pemain timnas atau masalah Asnawi, sebab memang saya memahami kondisi beban pemain pada saat itu, sehingga banyak hal negatif yang dilakukan pemain yang mencerminkan tak cerdas.

    Namun, banyak pihak yang meminta saya mengangkat masalah ini, karena bila saya simpulkan, perilaku pemain kita, dibilang masih kampungan dengan sikap dan perbuatan yang tak cerdas. Bila sikap yang dibilang kampungan itu masih dipelihara hingga saat nanti berlaga di final versus Thailand, entah apa kata media asing yang akan menilainya.

    Karenanya, sebelum saya menulis prediksi tentang laga babak final nanti, semua pemain Indonesia, sebaiknya telah menonton siaran ulang laga versus Singapura, agar yang masih bersikap kampungan bisa instrospeksi diri, minimal malu pada diri sendiri, sehingga tak mengulang sikap-sikap kampungannya. Semoga. Aamiin.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.