Terlalu Banyak Elite Politik Cengengesan, Kita Krisis Negarawan - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Pemimpin. Karya: Mariana Anatoneag dari Pixabay

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 18 Maret 2022 12:51 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Terlalu Banyak Elite Politik Cengengesan, Kita Krisis Negarawan

    Kini aroma kompetisi antar elite politik memudar oleh semangat transaksional. Tapi yang terasa bukanlah buah positif dari persekutuan itu bagi rakyat banyak, tapi sebaliknya. Pasalnya, tercium keras bahwa persekongkolan itu hanya untuk berbagi kenikmatan dengan membelakangi rakyat.

    Dibaca : 2.924 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Di tengah situasi sulit yang dihadapi masyarakat, lazimnya lahir negarawan. Walaupun secara kuantitas hanya sedikit, tapi kemunculan sosok pemimpin dengan kualitas di atas rata-rata elite politik-ekonomi ini biasanya mampu mencerahkan pikiran masyarakat. Mereka bagaikan mercu suar yang menjadi pemandu bagi kapal yang tengah berlayar di samudera gulita, yang tengah mencari jalan untuk sampai ke daratan dengan selamat.

    Negarawan tampil dengan membawa gagasan segar yang mampu dipraktikkan, bukan yang tinggal di awang-awang. Mereka tidak lagi ingin duduk bagaikan sosok yang ditakuti, sehingga orang-orang mendatanginya tanpa rasa takut akan dimanipulasi. Mereka ingin orang-orang datang dengan rasa nyaman, tanpa cemas dan khawatir, dan kemudian pulang dengan kegembiraan karena memperoleh jalan keluar dari persoalan.

    Menjadi negarawan itu bermakna menjadi sosok yang bermanfaat bagi semua orang, yang hadir manakala pertolongan dan nasihatnya dibutuhkan, yang petuah-petuahnya disampaikan tanpa pamrih. Nasihatnya diminta mungkin karena kewaskitaannya, tapi sebenarnya lebih karena kebijaksanaannya yang nirpamrih. Jikalaupun masih jadi pemimpin aktif, negarawan akan mengedepankan kepentingan bangsa, bukan hasrat kuasa pribadinya, keluarga dan kerabatnya, maupun kelompoknya. Tugas dan kewajibannya melampaui hasrat pribadinya untuk terus berkuasa.

    Sayangnya, di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih normal, negarawan yang dinanti-nanti rakyat itu tidak kunjung tampak. Panggung kebangsaan dipenuh-sesaki oleh figur-figur yang cenderung bersikap pragmatis, yang lebih suka memikirkan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Mereka tidak mau kehilangan peluang, tidak ingin hari esoknya bagai kapas yang terapung-apung di atas air.

    Berbekal pengalaman puluhan tahun sebagai politisi, mestinya elite politik malu jika tidak kunjung naik kelas ke posisi negarawan. Seorang negarawan sudah selesai dengan urusan pribadi dan kelompoknya, serta sibuk memikirkan apa yang terbaik bagi generasi mendatang. Negarawan berpikir tentang bagaimana mewariskan nilai-nilai terbaik dalam hidup berbangsa dan bernegara kepada generasi berikutnya.

    Belum sampainya elite kekuasaan kita pada tataran negarawan itu terlihat dalam isu penundaan pemilu 2024, perpanjangan masa jabatan presiden, hingga masa jabatan presiden tiga periode. Tiga orang ketua umum partai mengusulkan penundaan dengan alasan-alasan yang tidak mencerminkan kapasitas intelektual dan kematangan bernegara yang semestinya dimiliki ketua umum partai. Berharap pada kearifan dan kebijaksanaan mereka, akan jauh lebih sulit mendapatkannya.

    Pengalaman puluhan tahun sebagai politisi, bahkan ada yang menjabat ketua umum partai berkali-kali, rupanya tidak cukup membuat elite kita bersikap matang dalam berpikir, berbicara, bersikap, maupun bertindak. Mungkinkah karena selama ini kepentingan pribadi dan kelompok yang memenuhi benaknya, sehingga kecerdasannya tidak cukup terasah untuk memikirkan kepentingan bangsa yang lebih besar kecuali sekedar sebagai jargon.

    Menjadi semakin jelas, bila dibandingkan dengan para perintis kemerdekaan, elite politik masa sekarang terasa jauh jarak kelasnya. Pada masa itu, tokoh-tokoh perintis yang rata-rata masih berusia muda mampu merumuskan pemikiran yang berjangkauan jauh dari sisi waktu, sanggup mengimajinasikan Indonesia seperti apa yang baik bagi rakyat penghuni wilayah Khatulistiwa ini. Mereka berkompetisi, tapi mereka memikirkan secara serius bersama-sama Indonesia masa depan. Mereka bukan pemimpin dari jenis yang egois mengambil kesempatan demi keuntungan pribadi.

    Di masa sekarang justru sebaliknya yang terjadi. Ketika aroma kompetisi pudar oleh semangat transaksional, yang terasa bukanlah buah positif persekutuan di antara elite bagi rakyat banyak, melainkan aroma persekongkolan untuk berbagi kenikmatan di antara sesama elite dengan membelakangi rakyat. Anehnya, setelah melontarkan gagasan penundaan pemilu, mereka lalu melemparkan bola panasnya ke orang lain. ‘Saya kan cuma usul,’ ujar elite ini sembari menampakkan senyum cengengesan khasnya tanpa rasa bersalah.

    Bayangkan, kapan naik kelas jadi negarawan kalau urusan menabrak konstitusi pun dilontarkan dengan enteng sambil cengengesan? >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.