HA HA HA Teater Mandiri Tentang Kebebasan - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Putu Wijaya. TEMPO/ Santirta M

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 13 April 2022 20:20 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • HA HA HA Teater Mandiri Tentang Kebebasan

    Drama mutakhir Tetater Mandiri pimpinan Putu Wijaya berbicara tentang kebebasan. Tapi apa itu kebebasan? Apa benar manusia memiliki kebebasan? Apa kaitan antara kebebasan dan tanggung jawab? Sikap moral semacam apa yang layak dipraktekkan?

    Dibaca : 2.512 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Seperti biasa, drama-drama karya Putu Wijaya selalu mengoda penontonnya untuk merenung lebih dalam atau melakukan pencarian lebih jauh tentang cerita yang dipentaskan. Kali ini, pementasan berjudul HaHaHa yang disiarkan melalui channel Youtube Indonesiakaya, 9 April lalu, melakukan hal yang sama. Meski judul HaHaHa  bisa menimbulkan kesan sekadar “humor” atau “sekadar mau melucu”, tetapi sesungguhnya ia memperbincangkan masalah kehidupan yang sudah lama menjadi permenungan banyak pemikir ternama. Kali ini, menurut saya, tentang kebebasan. Apa itu kebebasan? Apa benar manusia memiliki kebebasan? Bagaimana kita memakai kebebasan dalam kehidupan nyata?

    Setelah sebuah puisi yang cukup bagus diperdengarkan, drama dimulai dengan narasi yang dibacakan oleh Jose Rizal Manua tentang kondisi pasangan suami-istri yang menjadi tokoh sentral cerita. Pak Amat yang semakin tua itu makin lengket pantatnya ke kursi. Ia menghabiskan wakunya dengan membaca koran, menyimak televisi, dan membaca buku. Hidupnya dikunci. Kehadirannya yang tak hadir jadi menggondeli. Sementara Bu Amat yang mendapat warisan nomplok dari pamannya justru kebalikannya. Tiba-tiba dia menjadi beringas oleh sesal, merasa telah menyia-nyiakan waktu. Melewatkan waktunya, hari-harinya, di bawah bayang-bayang suami. Ia pun membeli berbagai macam perhiasan dan tidak membiarkan waktu berlalu tanpa aktivitas.

    Selanjutnya adalah dialog-dialog antara Pak Amat dan istrinya tentang aneka masalah yang sesekali lucu, tetapi juga pedih. Istrinya yang sudah bersiap untuk pergi itu berpesan kepada suaminya, jika menginginkan sesuatu, hubungi saja Ratu, pembatu barunya. Masalahnya, bagaimana kalau Pak Amat ingin kemesraan? “Ini adalah pertanyaan terakhir yang paling penting. Tapi tidak pernah dijawab,” kata Pak Amat. “Kalau mau kemesraaan?” teriak Pak Amat lagi.

    Atas atas perintah sang istri, pak Amat diantar ke Wisma Jompo Oma & Opa. Ratu dengan retorikanya mencoba mengelabuhi Pak Amat bahwa wisma dengan segala fasilitasnya itu bagaikan hotel bintang lima. Jadi itu adalah anugerah. Tapi pak Amat tahu bahwa itu adalah cara istrinya untuk “membuang”-nya,  mengisolasikannya di penjara kaum jompo itu, agar sang istri bebas menikmati masa pubernya yang keempat. “Aku tidak sebodoh yang dia sangka,” kata Pak Amat.

    Di sini dialog-dialog khas Putu Wijaya yang menggedor pikiran penonton mulai disemburkan. Misalnya, “Ratu, jaga baik-baik, Tante. Dia tidak sadar sedang mendaki ke mulut iblis. Kebebasan itu cemerlang sebelum didapat. Tapi membingungkan setelah di tangan. Lalu menyesatkan kalau sudah mulai berkuasa,” kata Pak Amat berpesan ketika Ratu yang hendak kembali pulang ke rumah. Dialog itu menyiratkan keyakinan bahwa kebebasan harus disertai tanggung jawab. Orang harus berhati-hati menggunakan kebebasannya.

    Setelah suaminya di wisma jompo, Bu Amat merasa merdeka. Selama ini ia merasa seluruh hidupnya hanya dedikasikan untuk suaminya. Dan selalu dicurigai. Bahkan mau beli gula ke warung saja diinterogasi. Kini ia merasa bebas. “Apa perempuan tidak boleh cari kesengangan?” kata Bu Amat. “Apa gunanya Raden Ajeng Kartini berkoar-koar tentang emansipasi dan kesetaraan kalau pada kenyataannya perempuan tetap di bawah telapak kaki laki-laki.” Meski tidak diperdalam, tampaknya Putu juga ingin bicara tentang kesetaraan gender.

    Ketika Bu Amat menjenguk ke Wiswa Jompo, ia menyadari bahwa pak Amat ternyata menikmati tinggal di sana. Di tempat baru itu itu ia punya banyak penggemar. Bu Amat seperti iri dan menyesali apa yang dia lakukan. Ia mulai mempertanyakan kebebasannya sendiri.

               “Kebebasan itu enak ketika belum didapat. Tapi setelah didapat, apa enaknya bebas, kalau kita sudah bebas? Bebas itu enak kalau kita belum bebas,” katanya.

                “Kata siapa si Tante...?”

                “Kamu ini, molor melulu. Jadi nggak nyimak deh.”

                “Maaf, ini sebenarnya Tante itu bahagia karena Om dibuang  ke wisma jompo, atau ketika Om ngerecokin kegiatan Tante di rumah?” tanya Ratu.

                “Kamu ini kalau ngomong ceplas-cepolos melulu. Siapa bilang Om dibuang ke wisma jompo? Siapa bilang?”

                “Lho kemarin Tante yang bilang....”

                “Tidak. Tidak. Dia di situ dididik, disekolahin, supaya bisa mengerti arti kebebasan orang lain. Tapi sialnya, di situ dia malah kesenengan. Banyak teman, disegani, ditokohkan, dikasih nama Joni. Artinya, tidak semua pendidikan itu baik....”

                  Bu Amat kemudian memutuskan untuk menjemput suaminya. “Besok, kita jemput dia. Kita tarik dia pulang. Pendidikan terbaik adalah di rumah,” tandasnya. Di sini, lagi-lagi Putu Wijaya mau membolak-balikan pikiran orang.

                 “Ha..ha.ha.ha..” Ini tawa yang menusuk hati. Sebuah satire.

    Tak disangka, pak Amat mendadak pulang. Ia tidak kerasan dan bosan di wisma jompo. Ia ingin kembali disiksa, disepelakan, dan tentu saja disayang oleh istrinya. Ia ingin menjalani kehidupan seperti sediakala bersama istrinya. Suami-istri itu kemudian masuk ke kamar.

    Ratu yang kini sendiri tiba-tiba mendengar suara suaminya yang sudah lama dia tinggalkan. Sebuah adegan yang lumayan mengharukan.

                   “Ratu, dua tahun aku mencarimu,” kata suaminya sembari menggendong putrinya. “Ke segala penjuru. Tidak ketemu. Anak kita, Siti Rahayu, tiap hari nangis tersedu-sedu, cari ibu. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Kembalilah, Ratu. Kebebasan tidak perlu diburu. Cukup ditunggu. Karena dia ada di dalam hatimu....”

    Ratu merasa ucapan suaminya benar. “Abang.... aku pulang abang....” kata Ratu sembari berlari.

    Drama pun selesai. Kini giliran penonton merenungkannya, menginterpretasikannya, memperbincangkannya.

                                                                                ***

    Menurut saya, alur cerita “HaHaHa” ini lebih mudah untuk diikuti jika dibanding beberapa karya drama Putu sebelumnya. Babak demi babak mengalir dengan enak dan tidak rumit. Namun, naskah yang sekilas tampak ringan itu sesungguhnya juga memancing permenungan yang dalam. Kata “kebebasan” yang diucapkan berkali-kali itu telah lama menjadi perbincangan banyak pemikir, terutama dalam hubungannya dengan eksistensi manusia dan moralitas.

    Kaitan antara manusia dan kebebasan, setidaknya dalam diskursus tentang moralitas,  terdapat 2 (dua) paham besar yang saling berlawanan, yakni mereka yang percaya bahwa manusia memiliki kebebasan (dengan demikian dia bisa dimintai pertranggungjawaban moral), dan mereka yang tidak percaya bahwa manusia memiliki kebebasan dari asalnya (dengan demikian pertanggungjawaban etis menjadi tidak mungkin atau setidaknya dilematis). Paham yang menolak adanya kebebasan pada manusia biasa disebut sebagai paham determinisme, yang terbagi dalam 4 (empat) aliran utama: Determinisme Biologis; Determinisme Psikologis; Determinisme Sosial; dan Determinisme Teologis.

    Secara singkat (sebab masalah ini sudah banyak ditulis orang), bagi penganut determinisme biologis, tingkah laku manusia itu ditentukan berbagai faktor biologis yang diturunkan. Interaksi fisiologis dan hukum-hukum biologis menentukan apa yang akan dilakukan manusia dalam dunia nyata. Watak, kebiasaan, tingkah laku, bisa diterangkan berdasarkan struktur biologis itu. Orang yang suka mencuri atau melakukan tindak kekerasan, misalnya, harus dilihat struktur biologisnya dan jika mungkin diobati. Dengan demikian apa yang disebut dengan kebebasan menjadi tidak ada artinya karena  tingkah laku seseorang sebenarnya sudah ditentukan oleh struktur genetiknya.

    Bagi penganut determinisme psikologis, tingkah laku manusia itu ditentukan oleh unsur-unsur bawah sadar. Hanya tampaknya saja – atau seolah-olah saja – manusia bebas memilih tindakan apa yang diinginkan. Para psikoanalis sering mendengungkan bahwa tekanan bawah sadarlah yang sebenarnya menjadi pendorong utama tindakan manusia. Hampir seluruh tindakan manusia itu sebenarnya ditentukan oleh dorongan terkuat di dalam dirinya. Maka tangung jawab moral juga sulit dituntut kepada mereka apabila melakukan kesalahan.

    Sedangkan bagi penganut determinisme sosial, tingkah laku manusia itu ditentukan oleh lingkungan atau struktur sosial yang mengelilinginya. Misalnya, strukur ekonomi dan struktur sosial-politik masyarakatnya. Seseorang tidak bisa lepas dari hubungan sosialnya. Watak dan tingkah laku seseorang merupakan hasil penentuan dari lingkungan fisik dan sosial orang tersebut. Anda tentu ingat ungkapan umum yang sering terdengar, bahwa manusia tidak hidup dalam ruang hampa udara. Dia hidup dalam dunia nyata yang berstruktur dengan aneka norma. Maka ia tidak bisa dipersalahkan begitu saja apabila ia melakukan suatu tindakan yang diangap tidak baik.

    Terakhir, bagi penganut determinisme teologis, manusia yang hidup di dunia ini tak lebih dan tak kurang hanyalah “wayang”, “pelakon”, “boneka” (atau yang sejenisnya) dalam sebuah lakon atau cerita yang sudah ditentukan sebelumnya oleh “Sutradara Besar” (ada yang  menyebutnya sebagai Tuhan, Dewa atau Kekuatan Lain). Nasib manusia sudah tersurat dalam rencana sang Sutradara. Segala sesuatu sudah ditentukan olehNYA, sehingga manusia tinggal menjalankan saja apa yang sudah digariskan.

    Nah, berbeda dengan penganut aneka determinisme di atas, adalah mereka yang percaya bahwa manusia tetap memiliki kebebasan dalam dirinya. Manusia bebas memilih dan melakukan tindakan-tindakan konkret di dunia nyata. Meski faktor-faktor lain (biologis dan sosial) ikut menentukan kelakukan manusia, tetapi ia tetap memiliki kebebasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dengan demikian manusia bisa bertanggung jawab atas perbuatannya. Maka masuk akal pula jika pada manusia dikenakan tuntutan etis atau diharapkan bertindak sesuai moralitas tertentu.

                                                                                  ***

    Para tokoh dalam drama “Hahaha”, seperti sudah saya singgung di atas,  masih percaya bahwa manusia memang memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu. Persoalannya paling-paling bagaimana ia menyadari (atau menemukan) kebebasan itu. “Kebebasan itu tidak perlu diburu, sebab dia ada di dalam hatimu,” kata suami Ratu. Dialog itu menandaskan bahwa kebebasan memang secara alami masih dimiliki oleh manusia.

    Manusia, karena akal budinya, berbeda dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan lainnya. Ia tidak sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor di luar kemampuannya. Ia bisa mengambil sikap dan memilih mana di antara beberapa kemungkinan yang ada untuk dipilih. Maka kebebasan berarti kemampuan kehendak manusia untuk memilih dan menentukan dirinya, menentukan tindakannya.

    Tetapi kebebasan sebagai kesempurnaan eksistensi yang pantas dicita-citakan oleh setiap manusia, seperti dikatakan J. Sudarminta dalam kajiannya tentang masalah pokok etika, tidak berarti kita bisa bertindak sesuka hati atau lepas dari kewajiban apapun. Bagi orang yang membiarkan hawa nafsu dan nalurinya tidak terkekang sama sekali, akhirnya hanya akan jatuh seperti hewan. Ia menjadi budak hawa nafsunya.  Kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang disertai tanggung jawab. Kemampuan kita untuk memilih harus dijalankan secara bermakna. Sikap dan tindakan kita harus kita pertanggungjawabkan terhadap nilai-nilai kemanusiaan .Juga terhadap tugas yang menjadi tugas kita, dan terhadap harapan orang lain. Menolak untuk bertanggung jawab atau tidak mau melaksanakan apa yang diyakini sendiri sebagai kewajiban obyektif, tidak membuat orang menjadi kebih bebas. Otonomi manusia yang sejati itu bukan otonomi mutlak tanpa batasan. Otonomi manusia yang sejati itu selalu otonomi yang dihayati dalam korelasinya dengan kenyataan obyektif yang melingkupi dirinya. Kenyataan obyektif itu, misalnya dicerminkan oleh adanya norma-norma moral yang secara obyektif mengikat atau menjadi kewajiban manusia.

    Maka orang yang bersedia bertanggung jawab, sesungguhnya semakin kuat dan bebas. Semakin ia bertanggung jawab, kata Sudarminta lagi, semakin ia kuat dan terlatih untuk mengatasi segala halangan dan kelemahan. Kemampuan untuk berkorban demi suatu tujuan luhur membuat kita semakin tangguh dan bebas.

    Jadi sikap moral semacam apa yang sebaiknya diambil atau dilakukan manusia dalam kehidupan nyata? Mengikuti Immanuel Kant, jawabannya adalah sikap moral yang otonom. Apa itu? Sikap moral yang otonom adalah menentukan hukum sendiri sesuai akal budinya. Ia menaati hukum yang ia sendiri setujui atau kehendaki. Norma moral itu ia setujui sebagai norma yang baik dan pantas menjadi kewajiban semua orang. Sikap moral otonom ini lawan dari sikap moral heteronom. Sikap moral heteronom adalah sikap yang mana orang melakukan kewajiban moralnya bukan karena ia sadar bahwa kewajiban itu memang pantas dilakukan, melainkan karena merasa terpaksa harus mengikuti – dengan berbagai alasannya. Sedangkan sikap moral otonom itu adalah melakukan sesuatu yang baik dan menghindarkan yang jahat berdasarkan keinsyafannya sendiri. Bukan karena dibebankan dari luar akal budinya.

    Singkatnya, bagi Kant, bertindak secara moral adalah jika kita bertindak demi kewajiban atau hukum yang kita yakini baik. Hanya tindakan demi kewajiban itulah yang bernilai moral. Maka, “Bertindaklah semata-mata menurut suatu kaidah yang kau inginkan sekaligus dapat menjadi hukum universal”.  Setiap norma atau kaidah harus sedemikian rupa sehingga si penutur dapat menghendaki agar norma tersebut menjadi hukum universal yang berlaku bagi siapa saja. Jadi bukan norma yang ditentukan secara semena-mena oleh pihak lain.  

    Akhirnya, adakah kaitan antara kebebasan, moralitas, dengan kebahagiaan? Mungkin kita harus tunggu drama Putu Wijaya berikutnya. Di sana nanti kita  bisa melihat, menyandingkan, atau membandingkan, pemikiran Putu Wijaya dengan Ki Ageng Suryomentaram, Aristoteles, Thomas Aquinas,  penganut Stoikisme (Epiktetos dan Marcus Aurelius), atau para pemikir lainya.

     

    • Atmojo, penikmat seni.

                                                                                    ###

    Ikuti tulisan menarik atmojo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.478 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi