Kisah Rohimah di Suatu Desa - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi wajah wanita

Novaliana Syawalika

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Selasa, 24 Mei 2022 06:31 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kisah Rohimah di Suatu Desa

    perpisahan memang menyakitkan,memori kecil dan ingatan terdalam masih suka datang,namun siapkanlah beribu cerita untuk pertemuan manis di hari esok

    Dibaca : 599 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ia bangun menepikan hordeng di hadapannya dan membiarkan matahari pagi masuk dan cahaya memenuhi setiap sudut kamarnya. Seperti biasa wajahnya sumringah jiwanya sudah menggebu gebu ingin bertemu 12 anak anak didik hebatnya di sekolah.

    Tapi mimiknya berubah setelah melihat tanggal di kalender yang sebentar lagi habis dipenuhi oleh coretan merah. 7 hari lagi menuju tanggal 30. Waktunya ia meninggalkan desa ini. Pengabdiannya terhadap anak anak hebat sebentar lagi akan selesai.

    Namanya Rohimah. Mahasiswa hebat yang menghabiskan waktunya 2 tahun untuk mengabdi mengajari anak anak yang tidak mampu bersekolah di pelosok-pelosok desa.

    “Assalamualaikum anak anak hebat,” salam Rohimah setiap memasuki kelas.

    “Walaikumsalam bu,” jawab antusias dari anak anak.

    Suasana kelas saangat hangat seperti biasa. Dipenuhi canda tawa dan celotehan-celotehan bocah. Rohimah memulai kelas dengan mengabsen satu per satu murid.

    Setelah mengabsen ia baru menyadari, jumlah murid di kelas hanya 11 orang. Dia bertanya, “Apakah ada yang tidak hadir untuk kelas hari ini?” 

    “Badrul bu,” jawab salah seorang murid di kelas.

    Namanya Badrul, murid yang mempunyai keistimewaan dalam dirinya. Sulit berkomunikasi kepada siapapun kecuali kepada rohimah. Bahkan keluarganya sempat tidak mau mengakuinya.

    Semenjak Rohimah mengajar, Badrul jadi lebih terbuka. Dia sering menceritakan hal-hal tidak mengenakan dari kedua orang tua nya kepada Rohimah.

    Rohimah agak khawatir, Badrul tidak hadir hari ini.

    Pelajaran di kelaspun berjalan seperti biasa. Rohimah menerangkan materi dan diakhiri dengan kuis.

    Setelah pelajaran Rohimah tidak pulang. Dia berniat mengunjungi rumah Badrul ingin memastikan apakah ia baik-baik saja.

    Tidak ada yang menarik sepanjang jalan pulang, desa ini dipenuhi pepohonan rimbun, sungai dan jembatan yang sudah reot.

    Di ujung jalan sebelum jalan raya, kerumunan orang berkumpul menghalangi jalan.

    “Ada bocah tertabrak truk,” jawab salah seorang warga

    Perasaan Rohimah tidak enak, karena setau ia bocah di desa ini hanya murid-muridnya di sekolah. Dia menghampiri kerumunan. Belum kelihatan korbannya. Dia semakin menerobos masuk kerumunan, terlihat korban terbaring tak bernyawa di TKP. Kolam darah menggenang di sekitarnya, wajahnya hancur tidak dapat dikenali. Tapi Rohimah tau itu adalah Badrul! Rohimah menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Ssemua warga Menenangkan rohimah yang sedang histeris.

    Selang beberapa menit kedua orang tuanya datang ke TKP, menangis sejadi-jadinya lagi. Semua orang tidak bisa berkata apa-apa. Ssemua diam menunggu ambulan. Ddiam mematung, hanya suara isak tangis dari keluarga korban dan Rohimah.

    Setelah menunggu ambulan datang, cukup lama karna letak rumah sakit berada di luar desa, cukup jauh. Ambulan tiba dengan menyalakan bunyi sirinenya. Dia mengeluarkan tandu dan mengangkat tubuh Badrul yang sudah tidak bernyawa.

    Rohimah hampir saja kehilangan kesadaran melihat semua kejadian itu. Tapi syukurlah ia bisa mengendalikan dirinya dengan terus menerus melantunkan dzikir. Karena ia yakin Allah menyayangi Badrul dan semua yang terjadi padanya sudah di kehendaki allah.

    Keadaan di rumah Badrul sangat ramai. Semua datang untuk berbela sungkawa. Isak tangis semakin menjadi jadi. Orang tua yang dulu tidak menginginkan kehadirannya kini menangis sejadi-jadinya saat Badrul pergi. Aneh memang.

    Bendera kuning disiapkan, kain putih dan keranda mayat sudah siap.

    Rohimah mendengar cerita dari tetangga Badrul, bahwa sebelum kejadian, pertengkaran hebat terjadi di rumah Badrul. Badrul menangis dan berlari kencang tidak tau arah, sampai keadaan terakhirnya ia tertabrak mobil truk di ujung jalan raya.

    Rohimah benar benar tidak menyangka mendengarnya, ia berharap kedua orang tua Badrul sadar, dan mengiklaskan kepergian Badrul agar ia bisa pergi dengan tenang.

    Proses penguburan Badrul berjalan lancar, Rohimah senang bisa mendampinginya sampai ke peristirahatan terahir. Dengan angin sepoi-sepoi Rohimah duduk berlutut di samping nisan Badrul. Dia tidak bisa membendung air matanya. Dia berkata sangat menyayangi Badrul dan akan selalu menyayangi sampai kapanpun.

    Sesampainya di rumah, setelah melewati hari yang cukup panjang dan buruk, ia Kembali ke kamarnya mencontreng kalender dengan spidol merah. “6 hari lagi, dan di 6 hari terahir aku kehilangan murid istimewaku,” batin rohimah.

    Ia membuka ponselnya, melihat galeri dan memori memori itu tiba tiba datang saat ia membuka foto dua tahun lalu. Sat semua baru saja di mulai. Semua tampak masih malu-malu di foto pertama saat pelajaran di mulai. Memasuki bulan kedua, semua tampak sudah semakin dekat dan hangat foto Rohimah bersama murid muridnya. Ketika menantikan matahari terbenam dari atas tebing tinggi, bulan-bulan selanjutnya tidak kalah seru. Handpone Rohimah sudah merekam semuanya, main di sawah, memandikan kerbau, makan bersama dan hal hal lain yang semuanya tersimpan rapih di galeri.

    Foto terahir bersama Badrul, dua minggu lalu saat mereka ber-13 mengunjungi sebuah bukit, menysuri jalanan kecil dan mengikuti aluran sungai. Sampailah mereka di sebuah bukit yang sangat indah. Pemandangannya menyejukan mata dan mendamaikan hati. Mereka menceritakan banyak hal sambil duduk berjejer di pinggir bukit. Mengungkapkan cerita perihal hari-hari mereka masing-masing.

    Tanpa sadar airmatanya menetes tidak terkendali. Malam ini suasanaya tidak kondusif bagi Rohimah. Rasa gelisah menghantui dirinya. Semua terasa berat, meninggalkan desa dengan sejuta kenangannya, tapi Rohimah harus melanjutkan kariernya di kota.

    Seminggu telah berlalu, tepat dimana hari kepulangannya tiba, murid-murid menangis dan memeluk Rohimah dengan sangat erat. Rohimah tetap tegar walau hatinya hancur se-hancur-hancurnya, semua berpelukan, semua menangis di depan kendaraan yang akan mengantar Rohimah pulang.

    Kalimat terahirnya adalah selamat tinggal dan sebuah janji bahwa suatu saat kita semua harus bertemu. Perpishan bukanlah ahir dari segalanya. Suatu saat kita akan bertemu dan melepas kerinduan bersama sama di tempat awal cerita manis ini dimulai

    Ikuti tulisan menarik Novaliana Syawalika lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.