Putri Alice dan 1 Hari yang Menyeramkan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

sisters

Novaliana Syawalika

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Jumat, 10 Juni 2022 18:30 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Putri Alice dan 1 Hari yang Menyeramkan

    Putri Alice dari kerajaan george,suatu saat bertemu penyihir yang mengubah harinya,namun ia juga memberikan pelajaran dan pengalaman yang berharga kepada putri alice tentang kehidupan di desa yang sederhana.

    Dibaca : 619 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pada hari itu di sebuah kerajaan George terdapat putri cantik yang Bernama Alice. Putri tunggal dari sepasang raja dan ratu yang Bernama Philip dan Merry. Sang putri sangat cantik dan anggun, bergaun mewah berambut panjang dan berkulit putih. Nama nya sudah harum d imana mana, warga desa sangat menyukainya karna ia adalah putri yang rendah hati, suka menolong dan ringan tangan untuk berbagi. Walaupun ia berasal dari keluarga bangsawan ia tidak pernah segan untuk berkunjung ke desa.

    Desa yang kuno klasik, banyak bunga dan selalu damai suasananya. Aroma harum roti dan pastry selalu memenuhi sudut sudut desa. Di sini adalah desa impian setiap orang, tidak jarang putri Alice senang menghabiskan waktu nya berkunjung ke desa ini, lebih baik dari pada ia harus terus berdiam di kerajaan yang dipenuhi berbagai macam aturan dan semua orang di kerajaan sangat kaku membuat kehidupan di istana nya terasa membosan kan dan monoton.

    Di desa ia bebas melakukan apapun, kehidupan sederhana yang selama ini ia impikan. Berkebun, membuat roti, bermain sebebasnya yang ia mau. Ia memiliki 3 sahabat di desa, namanya Emly, Clarissa dan Carles. Mereka yang mengajari Alice bagaimana kehidupan di desa di jalankan dengan sederhana dan penuh kehangatan .Namun ia sering kali dapat teguran dari sang raja jika terlalu lama menghabiskan waktu di desa. Sang raja hawatir jika anaknya lupa dengan kodratnya sebagai seroang putri pewaris tahta kerajaan.

    Ia selalu menentang ayahnya untuk tidak terlalu sering berkunjung ke desa. Ssampai suatu saat pertempuran besar antara Putri Alice dan Raja Philip pun terjadi. Malam itu raja mengurungnya seorang diri di kamar. Sang putri berpikir untuk melarikan diri namun di kamar itu tidak ada celah untuk keluar. Penjaga selalu sigap di setiap sudut ruangan.sampai malam sudah terlalu larut,

    Tidak disangka tiga sahabat Alice menghampiri istana, karena Alice seharian ini tidak muncul untuk bermain.

    “Alice, hey,” palinggil Clarisa dari balik jendela megah kamar Alice.

    Alice kaget dan lompat dari ranjang tidurnya. Temannya ingin membawa Alice keluar dari istana, Kebetulan Carles adalah anak yang pandai, Dia membuka jendela itu dengan sangat mudah menggunakan ranting pohon yang jatuh di sekitar.

    Mereka berempat mengendap ngendap untuk keluar dari istana, dibekali nekat dan keberanian untuk melewati semak semak belukar yang menjulang tinggi mengelilingi istana.

    Dengan hati-hatia mereka berhasil,mereka segera lari dan turun ke desa. Sampai di desa, ada perasaan gelisah yang menghantui Alice. Dia takut bagaimana besar ayahnya marah jika mengetahui ia melarikan diri dari istana.

    “Hai putri cantik,” seorang nenek tua menepuk pundak Alice yang lagi duduk seorang diri di pinggir jalanan yang lenggang.

    Ia lompat dan kaget atas kemunculan nenek itu.

    “Aku tau hatimu sedang gelisah, aku akan memberikan apa yang kamu mau,” sambung si nenek tua tersebut.

    “Apakah kamu mau jika aku melakukannya?”

    “Mau! Aku mau, aku yakin,” ucap sang putri

    Tanpa berlama lama putri Alice seakan tersihir akan mantra mantra yang nenek tua tersebut ucapkan malam itu.

    Sampai suatu pagi, putri terbangun dengan suasana yang sangat asing, di dalam kamar sederhana dengan tembok dan atap terbuat dari kayu yang hampir rapuh. Ia bercermin dan terejut melihat dirinya sendiri yang lain dari biasanya.Rambutnya yang lusuh, dan, “Mana gaunku! Mana mahkotaku!” teriak sang putri di depan cermin.

    Tiba-tiba pintu kamar terbuka sang putri memundurkan langkahnya ke belakang perlahan lahan.

    “Kau? Nenek tua yang semalam menemuiku,” ucap sang putri kepada sang nenek tua yang berjalan dari balik pintu kamar membawa sepotong roti dan segelas susu.

    “Kau benar, bukankah ini yang kau mau?” jawab sang nenek sambil menaruh nampan berisi sarapan di meja sudut kamar itu, lalu ia meninggalkan putri seorang diri di kamar setelah berkata, “Jadi kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, menjadi rakyat desa yang sederhana. Sekarang habiskan sarapanmu dan turun kebawah untuk menyiapkan roti untuk di jual hari ini.”

    Di dalam kamar itu,sang putri menangis sejadi-jadinya dan menyesali segala ucapan dan kekesalan kepada kerajaan selama ini. Ia tidak menyangka ini semua terjadi, menjalani hidup sebagai rakyat biasa yang ternyata tidak semenyenangkan yang ia bayangkan selama ini.

    Ia harus berjualan roti agar mendapatkan uang yang hasilnya tidak seberapa,untuk makan saja susah, terlebih jika roti itu sisa dan ahirnya basi. Setiap pagi ia harus menimba air untuk mandi, ia mencuci dan menjemur pakaian sendiri, membuat sup dan mengepel lantai.

    Ternayata bayangan putri akan kehidupan sederhana yang menyenangkan itu salah. Dia sangat menyesal, ia ingin Kembali menjadi putri dan keluarga bangsawan lagi. Hari harinya di habiskan untuk menangisi apa yang sudah terjadi.

    Sampai pada suatu malam yang sunyi,nenek tua menghampirirnya dan mengusap lembut kepala sang putri yang sedang menangis. “Ini kesempatan terahir, apakah kau ingin kehidupanmu seperti semula? Atau kau ingin menghabiskan hari harimu bersamaku dan membantuku berjualan roti?” ucap nenek tua

    Putri membangunkan dirinya dari ranjang dan berkata, “Tidak, aku tidak mau berlama-lama di sini, Tolong kembalikan aku ke istana!”

    “Baiklah,minum segelas air ini dan langsung tidur, karna jika tidak mantranya tidak akan bekerja,” jawab nenek tua sambil memberikan putri segelas air.

    Tanpa jawaban apapun sang putri langsung merebut gelas itu dari tangan sang nenek dan langsung meminumnya sampai tidak ada yang tersisa sedikitpun.

    Ia tertidur sangat pulas sekali malam itu, sampai ia terbangun dalam kamar yang sangat megah, ranjang dan empuk dan pilar-pilar di setiap sudut kamar. Di sampingnya ada sang raja dan ratu yang menghawatirkannya karena sudah dua hari sang putri terlarut dalam tidurnya.

    Ia terbangun dan memeluk erat sang raja dan ratu,ia meminta maaf karna telah menjadi anak yang keras kepala.Ia berjanji tidak akan membantah dan tidak akan pernah melanggar aturan apapun yang istana berikan.

    Sudah sekitar t bulan sang putri beridam di istana, ia rindu suasana desa dan roti gandum panggang. Ahirnya ia mengunjungi desa dengan izin raja dan ratu dan diawasi oleh pengawal. Ia tersenyum lebar, ia gembira dan ia sangat rindu.

    Ia menatap sudut jalan,tersenyum kepada sang nenek tua yang sedang beridiri di depan toko rotinya.

    Ikuti tulisan menarik Novaliana Syawalika lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 598 kali